3 Kandungan Makna Shifat ‘Uluw Allah

26 Apr

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

3 Kandungan Makna Shifat ‘Uluw Allah

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Ahlu Sunnah wal Jama’ah menyakini bahwa Allah Subhana wa Ta’ala menyakini bahwa salah satu nama Allah Subhana wa Ta’ala adalah Al ‘Ali yaitu Dzat Yang Maha Tinggi. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

 “Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung”. (QS. Al Baqoroh [2] : 255)

Syaikh DR. Musa Alu Nashr Hafizhahullah mengatakan[1],

“Shifat uluw itu memiliki 3 jenis (makna -pen) :

  1. ‘Uluw Dzat, yaitu tingginya Allah Subhana wa Ta’ala secara Dzat Nya. Dzat Allah Subhana wa Ta’ala berada tinggi di atas seluruh makhluknya secara umum. Sedangkan shifat istiwa’nya Allah merupakan bagian dari shifat uluw namun shifat uluw yang khusus.
  2. ‘Uluw Qodr wa Manzilah, yaitu sesungguhnya Allah Subhana wa Ta’ala adalah Dzat Pemilik kedudukan yang agung dari para hamba Nya, tidak diliputi sedikit pun kekurangan baik dalam hal Dzat, Shifat dan Perbuatan Nya. Dia tidak (butuh) penolong, penasehat, tidak ada yang setara. Baginyalah shifat yang paling tinggi kandungannya Tabaroka wa Ta’ala wa tanzihu wa taqiddas.
  3. ‘Uluw Qohr, artinya sesungguhnya Allah adalah Dzat Yang Maha Mampu atas segala sesuatu terhadap seluruh mahluknya, tidak ada yang mampu mengalahkan Nya. Tidak ada sesuatu pun yang keluar dari kekuasaannya bahkan seluruh makhluk berada di bawah kekuasaan Nya. Allah Ta’ala berfirman,

سُبْحَانَهُ هُوَ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Maha Suci Allah. Dialah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Mengalahkan”.

(QS. Az Zumar [39] : 4)

Allah Ta’ala telah mengumpulkan kandungan makna ‘uluw dzat dan ‘uluw qohr dalam firman Nya,

وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ

“Dialah yang berkuasa atas sekalian hamba-hamba Nya”.

(QS. Al An’am [6] : 18)

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan,

Bagi Nya shifat ‘Uluw dari segala sisi

                                                                Dzat, Qodr serta Kedudukan (Sya’n)”.

 

Mudah-mudahan keterangan di atas dapat menambah keimanan kita.

 

23 Rojab 1438 H, 20 April 2017 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Al Intishor Syarh ‘Aqidah Aimmah Al Amshor hal. 169 terbitan Darul Atsariyah, ‘Amman, Yordania.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply