2 Kalimat Syahadat

30 Jul

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

2 Kalimat Syahadat

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Sering kita mengucapkan dua kalimat syahadat. Ketika adzan atau menjawab adzan, ketika sholat dan masih banyak lagi. Namun apa maknanya ? Mari simak penjelasan ringkas berikut.

Pertanyaan

2 Kalimat Syahadat 1

Fadhilatusy Syaikh (Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah) pernah ditanya tentang 2 kalimat syahadat”.

Jawaban

2 Kalimat Syahadat 2

“Beliau Rohimahullah menjawab :

2 kalimat syahadat (Laa ilaaha illallah wa anna Muhammad Rosulullah) merupakan kunci Islam. Tidak munekin masuk Islam melainkan dengan keduanya. Oleh karena itulah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan Mu’adz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu ketika beliau mengutusnya ke Yaman. Agar Muadz bin Jabal rodhiyallahu ‘anhu menyeru mereka pertama sekali kepada syahadat Laa ilaaha illallah wa anna Muhammad Rosulullah”.

2 Kalimat Syahadat 3

“Adapun kalimat syahadat yang pertama (Laa ilaaha illallah) maksudnya adalah seseorang mengetahui, mengakui dengan lisan dan hatinya bahwasanya tidak ada sesuatu yang berhak diibadahi kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Karena Dialah sesembahan yang benar, yang disembah dan diibadahi dengan benar.

Maknanya tidak ada sesembahan yang berhak, benar disembah kecuali Allah semata. Kalimat ini mengandung adanya peniadaan dan penetapan. Peniadaan ada pada potongan Laa ilaaha. Sedangkan makna itsbat ada pada Illallah. Sedangkan lafazh Jalalah Allah merupakan badal/pengganti dari khobar huruf Laa yang dihapus. Takdirnya Laa Ilaaha Haqqun Illallah.

Maka kalimat syahadat pertama ini merupakan ikrar dengan lisan setelah mengimaninya di dalam hati bahwasanya tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Ini mengandung bahwa mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah semata dan meniadakan selainnya”.

2 Kalimat Syahadat 4

“Adapun makna syahadat (Anna Muhammad Rosulullah) adalah ikrar dengan lisan dan mengimani dalam hati bahwasanya Muhammad bin ‘Abdullah Al Quroisy Al Hasyimiy adalah utusan Allah ‘Azza wa Jalla kepada seluruh mahlukny dari kalangan jin dan manusia. Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Katakanlah, “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rosul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk”. (QS. Al A’rof [7] : 158)

Demikian juga firman Allah Ta’ala,

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

“Maha suci Allah yang telah menurunkan Al Furqon (Al Quran) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam”. (QS. Al Furqon [25] : 1)

Konsekwensi syahadat ini adalah engkau harus membenarkan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam terhadap semua yang dia kabarkan, melaksanakan apa yang diperintahkannya, menjauhi apa yang dilarangnya serta tidak beribadah kepada Allah melainkan dengan apa yang disyari’atkannya/diajarkannya.

Konsekwensi lain syahadat ini adalah engkau tidak boleh meyakini bahwa Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam memiliki hak dalam hal penciptaan, pemilikan dan pengaturan alam semesta atau hak dalam peribadatan/penyembahan. Bahkan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam adalah seorang hamba yang tidak boleh disembah, utusan yang tidak boleh didustakan, dia tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan kebaikan dan mencegah keburukan melainkan atas kehendak Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَى إِلَيَّ

“Katakanlah, “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang ghoib dan tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”. (QS. Al An’am [6] : 50)

Maka beliau adalah seorang hamba yang diperintahkan untuk mengikuti apa yang diperintahkan kepadanya. Allah Ta’ala juga berfirman,

قُلْ إِنِّي لَا أَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا رَشَدًا . قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

“Katakanlah, “Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudharatanpun kepadamu dan tidak (pula) suatu kemanfaatan. Katakanlah, “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorangpun dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali aku tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya”. (QS. Al Jin [72] : 21-22)

Allah Subhana wa Ta’ala juga berfirman,

قُلْ لَا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Katakanlah, “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghoib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al A’rof [7] : 188)

Inilah makna syahadat (Laa Ilaaha Illallah wa Anna Muhammad Rosulullah”.

2 Kalimat Syahadat 5

“Dengan makna ini maka anda dapat mengetahui bahwa beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak berhak diibadahi. Demikian pula orang-orang dan seluruh makhluk yang kedudukannya di bawah beliau. Sesungguhnya ibadah hanya untuk Allah Ta’ala semata.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ. لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Katakanlah, “Sesungguhnya sholatku, ibadahku (sembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al An’am [6] : 162-163)

Inilah hak beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Sesungguhnya Allah Subhana wa Ta’ala memberikan kedudukan yang dengannya Allah Subhana wa Ta’ala tempatkan beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau adalah hamba Allah dan utusannya sholawatullah wa salamuhu a’alaihi”.

 

[Diterjemahkan dan diringkas dari Majmu’ Fatawa Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 79-82/I terbitan, Darul Wathon, Riyadh, KSA]

 

Rantauprapat menjelang zhuhur 12 Syawwal 1436 H / 28 Juli 2015 M.

Aditya Budiman bin Usman

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply