Wanita Haidh Memegang Mushaf Al Qur’an, Bolehkah ?

23 Feb

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Wanita Haidh Memegang Mushaf Al Qur’an, Bolehkah ?

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Pada artikel sebelumnya telah kita ketengahkan sebuah permasalan bolehkah seorang wanita yang sedang haidh membaca Al Qur’an ? Mungkin muncul pertanyaan dalam fikiran sebagian pembaca, ‘Bagaimana jika membacanya sambil memegang mushaf Al Qur’an ?’

Mari simak penjelasan berikut,

Syaikh Mushthofa Al Adawiy Hafidzahullah mengatakan[1],

Wanita Haidh Memegang Mushaf Al Qur'an, Bolehkah 1

Mayoritas ulama berpendapat bahwa seorang wanita yang sedang haidh tidak boleh menyentuh mushaf Al Qur’an. Dalil-dalil yang mereka bawakan untuk menetapkan hal tersebut tidaklah sempurna dijadikan sebagai dalil terhadap kesimpulan hukum yang mereka ambil. Namun pendapat yang kami nilai tepat – Allahu a’lam – adalah boleh bagi wanita yang sedang haidh memegang mushaf Al Qur’an. Berikut sebagian dalil yang digunakan mayoritas ulama yang berpendapat terlarangnya seorang wanita yang sedang haidh menyentuh mushaf Al Qur’an dan koreksi terhadapnya”.

Wanita Haidh Memegang Mushaf Al Qur'an, Bolehkah 2

“Mayoritas ulama berdalil dengan firman Allah Ta’ala,

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak boleh menyentuhnya melainkan orang–orang yang suci”. (QS. Al Waqi’ah [56] : 79)

Maka koreksi terhadap pendalilan ini bahwa yang dimaksudkan oleh dhomir (kata ganti ‘nya’) dalam potongan firman Allah Ta’ala (لَا يَمَسُّهُ) ‘Tidak boleh menyentuhnya’ adalah Kitab yang terjaga/terpelihara di langit. Sedangkan yang dimaksud dengan (الْمُطَهَّرُونَ) ‘orang–orang yang suci’ adalam para malaikat. Hal ini dapat diketahui dengan konteks ayat-ayat yang mulia sebelumnya,

إِنَّهُ لَقُرْآَنٌ كَرِيمٌ (77) فِي كِتَابٍ مَكْنُونٍ (78) لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Sesungguhnya Al-Quran ini adalah bacaan yang sangat mulia. pada kitab yang terpelihara (Lauhul Mahfuzh). Tidak boleh menyentuhnya melainkan orang–orang yang suci”. (QS. Al Waqi’ah [56] : 77-79)

Hal ini dikuatkan dengan firman Allah Ta’ala,

فِي صُحُفٍ مُكَرَّمَةٍ (13) مَرْفُوعَةٍ مُطَهَّرَةٍ (14) بِأَيْدِي سَفَرَةٍ (15) كِرَامٍ بَرَرَةٍ 

“Di dalam kitab-kitab yang dimuliakan. Yang ditinggikan lagi disucikan. Di tangan para penulis (malaikat). Yang mulia lagi berbakti ”. (QS. Abasa [80] : 13-16)

 

Inilah pendapat mayoritas ulama ahli tafsir tentang ayat ini (Surat Al Waqi’ah ayat 79 –pen.)”.

Wanita Haidh Memegang Mushaf Al Qur'an, Bolehkah 3

Sisi kedua, tinjauan tafsir ayat bahwa yang dimaksud dengan (الْمُطَهَّرُونَ) ‘orang-orang yang suci’ adalah orang-orang yang beriman. Dalilnya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ

“Sesungguhnya orang-orang musyrik adalah najis”. (QS. At Taubah [9] : 28)

 

Juga sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam,

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لاَ يَنْجُسُ

“Sesungguhnya orang yang beriman bukanlah najis”[2].

 

Wanita Haidh Memegang Mushaf Al Qur'an, Bolehkah 4

“Sisi ketiga, bahwa yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala,

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

“Tidak boleh menyentuhnya melainkan orang–orang yang suci”. (QS. Al Waqi’ah [56] : 79)

 

Adalah tidak ada yang merasakan manis Al Qur’an dan yang dapat mengambil manfaat darinya melainkan orang-orang yang beriman”.

Wanita Haidh Memegang Mushaf Al Qur'an, Bolehkah 5

“Sisi keempat, yang dimaksud dengan (الْمُطَهَّرُونَ) adalah orang-orang yang berusaha mensucikan diri dari dosa-dosa dan kesalahan.

Sisi Kelima, yang dimaksud dengan (الْمُطَهَّرُونَ) adalah orang-orang yang suci dari hadats besar dan kecil.

Sisi Keenam, yang dimaksud dengan (الْمُطَهَّرُونَ) adalah orang-orang yang suci dari hadats besar.

Para ulama yang membolehkan wanita yang sedang haidh menyentuh mushaf berdalil dengan sisi pertama. Berdasarkan hal itu maka (mereka berpendapat –pen.) tidak ada dalil yang melarang wanita yang sedang haidh menyentuh mushaf Al Qur’an.

Sedangkan para ulama yang melarang wanita yang sedang haidh menyentuh Al Qur’an memilih sisi yang kellima dan keenam”.

Wanita Haidh Memegang Mushaf Al Qur'an, Bolehkah 6

“Para ulama yang melarang wanita yang sedang haidh menyentuh Al Qur’an juga berdalil dengan hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam,

لَا يَمَسَّ اَلْقُرْآنَ إِلَّا طَاهِرٌ

“Tidak boleh menyentuh Al Qur’an melainkan orang yang suci”[3].

Hadits ini saya (Syaikh Musthofa Al Adawiy) tidak mendapatinya dengan sanad yang shohih, tidak juga hasan atau yang shohih dan hasan. Seluruh sanad-sanad hadits ini yang saya dapati tidak terlepas dari penilaian negatif terhadap sanadnya. Apakah dengan banyaknya sanadnya, hadits ini terangkat menjadi shahih atau hasan ? Hal ini merupakan sebuah hal yang diperselisihkan ulama. Walaupun Syaikh Nashir (Al Albani -pen) Rohimahullah menilai hadits ini shohih sebagaimana dalam Al Irwa’ (158/II)”.

Wanita Haidh Memegang Mushaf Al Qur'an, Bolehkah 7

Kesimpulannya, sesungguhnya kami (Syaikh Musthofa Al Adawiy) tidak menjumpai dalil yang shohih dan jelas sehingga kita larang wanita yang sedang haidh menyentuh musfhaf Al Qur’an. Allahu Ta’ala a’lam”.

 

 

Selesai Subuh, 29 Robi’uts Tsaniy 1436 H, 19 Februari 2015 M

Al Faaqir ilaa Maghfiroti Robbihi,

 

Aditya Budiman bin Usman.

[1] Lihat Jaami’ Ahkaam an Nisaa’ hal. 187-/I terbitan Darus Sunnah KSA

[2] HR. Bukhori no. 281 dan Muslim no. 850.

[3] HR. Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro no. 414, Imam Malik dalam Al Muwaththo’ no. 680.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply