Wanita Haidh Membaca Al Qur’an, Bolehkah ?

16 Feb

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Wanita Haidh Membaca Al Qur’an, Bolehkah ?

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Judul di atas merupakan sebuah permasalahan yang amat urgen bagi setiap wanita. Bagaimana tidak, wanita normal sunnatullahnya mengalami yang namanya haidh. Sedangkan membaca Al Qur’an merupakan sebuah kebutuhan setiap muslim termasuk di dalamnya perempuan. Maka tak pelak lagi hal ini menjadi sebuah problematika khusus di tengah kita. Sebagian besar guru-guru kita di sekolah dahulu melarang perempuan yang sedang haidh membaca Al Qur’an. Sebagian lagi membolehkan. Lalu manakah yang lebih tepat ? Mari simak keterangan berikut.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah pernah mengatakan[1],

Wanita Haidh Membaca Al Qur'an, Bolehkah1

“Adapun wanita yang haidh membaca Al Qur’an Al Karim sendirian, jika hal tersebut dilakukan sekedar dengan menggunakan penglihatan (artinya bukan dari hafalan –pen.) atau membaca dalam hati tanpa mengucapkan dengan lisan maka hukumnya boleh. Misalnya, mushaf Al Qur’an atau lembaran-lembaran yang terdapat Al Qur’annya diletakkan kemudian wanita tersebut melihat ayat-ayat Al Qur’an tersebut dan membacanya di dalam hati. An Nawawi Rohimahullah mengatakan dalam Syarh Al Muhadzab[2] : hukumnya boleh tanpa adanya khilaf dikalangan para ulama.

Adapun jika wanita tersebut membaca dengan menggunakan lisannya maka Jumhur (Mayoritas) Ulama berpendapat tidak boleh/terlarang”.

Wanita Haidh Membaca Al Qur'an, Bolehkah2

Al Bukhori, Ibnu Jarir Ath Thobari dan Ibnul Mundzir Rohimahumullah berpendapat boleh. Diceritakan dari Imam Malik, Imam Syafi’i Rohimahumallah dalam pendapat beliau yang qodhim/dahulu bahwa diriwayatkan dari keduanya dalam Fathul Bari[3], Al Bukhori menyebutkannya secara mu’allaq dari Ibrohim An Nakho’i Rohimahullah hukumnya wanita yang haidh tersebut boleh membaca ayat Al Qur’an”.

Wanita Haidh Membaca Al Qur'an, Bolehkah3

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah sebagaimana terdapat dalam Fatawanya yang dikumpulkan oleh Ibnu Qosim berpendapat ‘Tidak terdapat larangan membaca Al Qur’an bagi wanita tersebut dalam sunnah Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam sama sekali’. Karena hadits,

لاَ تَقْرَأُ الْحَائِضُ وَلاَ الْجُنُبُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ

“Tidak boleh wanita yang sedang haidh dan orang yang junub membaca Al Qur’an sama sekali sedikitpun”[4].

Adalah hadits yang dho’if/lemah dengan kesepakatan para ulama yang mengetahui hadits.

Wanita di zaman Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam mengalami haidh. Maka seandainya membaca Al Qur’an bagi mereka haram seperti sholat, tentulah hal ini termasuk yang harus dijelaskan Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam kepada ummatnya, tentulah beliau mengajarkan kepada Ibunda Kaum Mukminin (yaitu Istri-istri beliau -pen.) dan tentulah hal tersebut merupakan sesuatu yang dibicarakan dikalangan para shahabat. Sehingga ketika tidak dinukil dari salah seorang dari mereka para shahabat tentang terlarangnya hal tersebut maka kita tidak boleh menjadikannya haram. Padahal kita tahu mereka para shahabat tidak mengharamkannya. Ketika beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam tidak melarangnya padahal ketika zamam itu banyak wanita yang haidh maka dapat diketahui bahwa hal tersebut tidak haram”.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengingatkan[5],

Wanita Haidh Membaca Al Qur'an, Bolehkah4

“Yang perlu diperhatikan setelah mengetahui adanya perselisihan pendapat dikalangan ulama tentang hal ini adalah sebuah hal yang lebih utama bagi wanita yang haidh untuk tidak membaca Al Qur’an Al Karim dengan ucapan lisan kecuali ada keperluan untuk itu. Misalnya wanita tersebut adalah seorang guru sehingga dia butuh mengari siswinya atau pada keadaan tertentu yang ketika itu seorang guru wanita perlu mengajarkan membaca Al Qur’an dan keadaan-keadaan yang semisal itu”.

Sekian nukilan pendapat dari beliau.

Namun ada penjelasan menarik yang disampaikan Syaikh Mushthofa Al Adawiy Hafidzahullah, berikut nukilannya[6].

Wanita Haidh Membaca Al Qur'an, Bolehkah5

“Wanita yang sedang haidh berdzikir kepada Allah dan membaca Al Qur’an”.

Kemudian beliau membawakan dalil seputar permasalahan ini, diantaranya :

Pertama, hadits yang diriwayatkan dari Ummu ‘Athiya Rodhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

كُنَّا نُؤْمَرُ أَنْ نَخْرُجَ يَوْمَ الْعِيدِ , حَتَّى نُخْرِجَ الْبِكْرَ مِنْ خِدْرِهَا , حَتَّى تَخْرُجَ الْحُيَّضُ , فَيُكَبِّرْنَ بِتَكْبِيرِهِمْ وَيَدْعُونَ بِدُعَائِهِمْ , يَرْجُونَ بَرَكَةَ ذَلِكَ الْيَوْمِ وَطُهْرَتَهُ

“Dahulu kami diperintahkan untuk keluar rumah pada hari raya ‘idh hingga kami mengeluarkan gadis dari tempatnya bahkan wanita yang sedang haidh pun keluar. Kemudian kami (para wanita –pen) ikut takbir dengan takbir para lelaki, berdo’a dengan do’a mereka karena mengharapkan keberkahan hari itu dan kesuciannya[7].

Syaikh Mushthofa Al Adawiy Hafidzahullah mengatakan,

Wanita Haidh Membaca Al Qur'an, Bolehkah6

“Pada hadits ini terdapat dalil bahwa seorang wanita yang sedang haidh boleh bertakbir dan berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla”.

Kedua, hadits yang diriwayatkan dari Ummu ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, beliau mengatakan,

قَدِمْتُ مَكَّةَ وَأَنَا حَائِضٌ لَمْ أَطُفْ بِالْبَيْتِ وَلاَ بَيْنَ الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ فَشَكَوْتُ ذَلِكَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ افْعَلِى كَمَا يَفْعَلُ الْحَاجُّ غَيْرَ أَنْ لاَ تَطُوفِى بِالْبَيْتِ حَتَّى تَطْهُرِى

“Aku tinggal di Mekah ketika itu aku sedang haidh, sehingga aku tidak thowaf dan tidak juga sa’i diantara shofaa dan marwah. Kemudian aku keluhkan hal tersebut kepada Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian beliau menjawab, “Lakukanlah sebagaimana yang dilakukan orang yang berhaji kecuali engkau jangan melaksanakan thowaf di Baitulla (Ka’bah) hingga engkau telah suci dari haidh”[8].

Syaikh Mushthofa Al Adawiy Hafidzahullah mengatakan,

Wanita Haidh Membaca Al Qur'an, Bolehkah7

“Sebagaimana orang yang sedang berhaji boleh berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan boleh membaca Al Qur’an, maka demikian pula bagi wanita yang haidh boleh baginya berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan membaca Al Qur’an”.

Beliau Hafidzahullah juga mengatakan,

Wanita Haidh Membaca Al Qur'an, Bolehkah8

“Hadits di atas dan hadits yang sebelumnya, keduanya memberikan faidah kepada kita bahwa wanita yang sedang haidh disyari’atkan baginya (boleh –pen) berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Karena Al Qur’an merupakan dzikir sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

“Sesungguhnya Kami (Allah) lah yang menurunkan Adz Dzikr (Al Qur’an) dan kewajiban Kami pulalah menjaganya”. (QS. Al Hijr [15] : 9)

Karena inilah dan penjelasan Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam bahwa sesungguhnya boleh bagi orang yang berhaji membaca Al Qur’an. Berdasarkan ayat ini dan hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam sebelumnya menunjukkan wanita yang haidh boleh berdzikir dan membaca Al Qur’an.

Adapun hadits yang dijadikan dalil bagi ulama yang melarang wanita yang haidh membaca Al Qur’an yaitu hadits yang diriwayatkan dari ‘Ali Rodhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam suatu ketika pernah menunaikan hajatnya (yaitu berjima’ bersama istri beliau –pen) kemudian beliau keluar lalu membaca Al Qur’an dan makan daging bersama kami dan tidak ada yang mencegah beliau untuk membaca Al Qur’an melainkan karena beliau masih dalam keadaan junub”.

Wanita Haidh Membaca Al Qur'an, Bolehkah9

“Hadits tersebut, pertama : tidak terdapat keterangan/kandungan larangan membaca Al Qur’an bagi orang yang junub dan haidh. Pada hadits tersebut hanya terdapat keterangan perbuatan Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam. Kedua : hadits tersebut masih diperbincangkan dari jalur ‘Abdullah bin Salamah dan hafalannya telah berubah. Abul Azif telah mengikutinya dari ‘Ali melainkan pengikutan ini merusak riwayat bagi yang merofa’kan hadits dan secara khusus walaupun anggapan marfu’ ini dari seseorang yang pada hafalan buruk semisal ‘Abdullah bin Salamah. Maka riwayat Abul Azif dari ‘Ali diperselisihkan status marfu’nya kepada Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam ataukah mauquf sampai ‘Ali Rodhiyallahu ‘anhu. Yang lebih tepat adalah pendapat yang menyatakan bahwa riwayat ini mauquf. Pendapat yang tampak lebih kuat bagiku (Syaikh Mushthofa Al Adawiy –pen.) bahwa hadits ini mauquf kepada ‘Ali Rodhiyallahu ‘anhu”.

Wanita Haidh Membaca Al Qur'an, Bolehkah10

“Terdapat juga sebuah hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam yang dijadikan sandaran bagi orang yang melarang hal ini. Hadits tersebut adalah

إِنِّي كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ

“Sesungguhnya aku (Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam) tidak suka berdzikir kepada Allah dalam keadaan tidak suci”[9].

“Karihah (tidak suka, benci) dalam hadits ini merupakan karihah li tanzih (makruh) berdasarkan hadits yang shohih yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha bahwa beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَذْكُرُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ.

“Merupakan sebuah kebiasaan Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla dalam semua keadaannya”[10].

Wanita Haidh Membaca Al Qur'an, Bolehkah11

“Sebagian orang berdalil melarang hal ini juga dengan hadits Jabir dan Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhum secara marfu’ bahwa Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

لاَ يَقْرَأُ الْجُنُبُ وَلاَ الْحَائِضُ شَيْئًا مِنَ الْقُرْآنِ

“Seorang yang dalam keadaan junub dan wanita haidh tidak boleh membaca Al Qur’an sedikitpun”[11].

Ini adalah hadits dhoif/lemah tidak sah dari Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam”.

Diakhir pembahasannya seputar masalah ini, Syaikh Musthofa Al Adawiy Hafidzahullah mengatakan,

Kesimpulan permasalahan ini :

Wanita Haidh Membaca Al Qur'an, Bolehkah12

Sesungguhnya wanita yang haidh boleh berdzikir dan membaca Al Qur’an. Karena tidak terdapat dalil yang shohih serta jelas dari Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam yang melarang hal tersebut. Bahkan terdapat riwayat yang dapat memberikan faidah bolehnya membaca Al Qur’an dan berdzikir sebagaimana yang disampaikan sebelumnya. Allahu a’lam”.

 

Selesai ‘Isya, 12 Robi’uts Tsaniy 1436 H, 1 Februari 2015 M

Al Faaqir ilaa Maghfiroti Robbihi,

 

Aditya Budiman bin Usman.

[1] Lihat Majmu’ Fataawaa wa Rosaail hal. 310-311/XI terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

[2] Hal. 372/II.

[3] Hal. 408/I.

[4] HR. Tirmidzi no.131, Al Baihaqi no. 1535. Al Baihaqi Rohimahullah mengatakan, ‘Hadits ini tidak kuat’. Al Albani Rohimahullah ‘Munkar’.

[5] Lihat Majmu’ Fataawaa wa Rosaail hal. 311/XI terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

[6] Lihat Jaami’ Ahkaam an Nisaa’ hal. 182-187I terbitan Darus Sunnah KSA.

[7] HR. Bukhori no. 971.

[8] HR. Bukhori no. 1650.

[9] HR. Abu Dawud no. 17, Nasa’i no. 430. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahulllah.

[10] HR. Abu Dawud no. 18, Ibnu Majah no. 302 dan Tirmidzi no. 3384. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahulllah

[11] HR. Ibnu Majah no. 596, Tirmidzi no. 131. Syaikh Al Albani Rohimahullah menyatakan hadits ini mungkar.

 

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply