Waktu Dzikir Pagi Petang

24 Mar

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Waktu Dzikir Pagi Petang

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Allah Tabaroka wa Ta’ala memerintahkan kita agar senantiasa berdzikir kepada Nya dan mengingat Nya dalam semua keadaan kita. Salah satu ciri orang yang berakal adalah sebagaima terdapat dalam firman Nya,

الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِهِمْ

“(yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring”. (QS. Ali ‘Imron [3] : 191)

Syaikh ‘Abdur Rohman As Sa’diy Rohimahullah mengatakan,

Waktu Dzikir Pagi Petang 1Ayat ini mencakup seluruh bentuk dzikir baik dzikir dengan lisan dan hati. Termasuk dalam hal ini juga sholat dengan berdiri, namun jika tidak mampu maka sholat dengan duduk. Jika tidak mampu maka sholat dengan berbaring”[1].

 

Syaikh Prof. DR. Abdur Rozzaq Al Badr Hafidzahullah mengatakan,

Waktu Dzikir Pagi Petang 2

 

“Telah sah di dalam Shohih Muslim sesungguhnya Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam biasa berdzikir kepada Robb Nya pada setiap keadaannya[2]. Maksudnya bahwa beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah meninggalkan dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla apapun keadaannya, baik ketika malam ataupun siang, dikala pagi dan sore hari, ketika safar atau mukim, ketika berdiri atau duduk, ketika masuk atau keluar suatu tempat, berkendara ataupun ketika tidak berkendara dan keadaan lainnya melainkan beliau akan memulainya dengan berdzikir dan berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla[3].

 

Kemudian beliau Hafidzahullah mengatakan,

Waktu Dzikir Pagi Petang 3

“Barangsiapa yang merenungkan sunnah yang penuh berkah, petunjuk Nabi yang mulia maka dia akan mendapati adanya dzikir-dzikir di waktu pagi dan petang, dzikir ketika hendak tidur dan bangun, dzikir pada sholat dan setelah sholat, dzikir ketika makan dan minum, dzikir naik kendaraan dan safar, dzikir yang berkaitan dengan perasaan sedih dan gundah, dzikir ketika melihat sesuatu yang disukai dan dibenci, dan lain sebagainya yang merupakan dzikir-dzikir yang berkaitan langsung dengan keadaan seorang muslim di waktu siang dan malam hari”[4].

 

Nah, salah satu dzikir yang dianjurkan untuk kita rutinkan adalah dzikir ketika pagi dan petang. Diantara dzikir tersebut adalah apa yang diajarkan Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam,

مَنْ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ لَمْ يُضُرَّهُ شَيْءٌ.

“Barangsiapa yang mengucapkan “Bismillahilladzi laa yadhurru ma’a ismihi syai’un fiil ardhi wa laa fiis samaa’i wa huwas saamii’ul ‘aaliim” (Dengan Nama Allah tidak ada yang mampu membahayakan sesuatu di bumi dan langit. Dia adalah Dzat Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui) tiga kali maka tidak akan ada yang mampu membahayakannya”[5].

Pertanyaannya adalah kapan dzikir ini diucapkan ? Kapan waktu akhirnya ? Bagaimana jika tidak sempat mengucapkan pada waktu yang telah ditentukan tersebut ?

Maka mari simak apa yang disebutkan Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafidzahullah berikut,

Waktu Dzikir Pagi Petang 4

“Waktu dzikir-dzikir yang dilakukan secara kontiniu ini adalah di waktu pagi yaitu setelah sholat subuh hingga sebelum matahari terbit. Sedangkan untuk petang yaitu setelah sholat ‘ashar hingga sebelum matahari tenggelam. Namun waktu untuk hal ini Insya Allah luas yaitu seandainya seseorang lupa mengucapkannya pada waktu tersebut atau karena adanya halangan tertentu maka tidak mengapa dia mengucapkan dzikir pagi ketika matahari telah terbit dan dzikir petang ketika matahari telah tenggelam[6].

 

Jika anda lupa subuh tadi, maka laksanakanlah sekarang…

Jika anda lupa petang tadi, maka laksanakanlah sekarang…

 

 

Selesai Subuh, 29 Jumadil Ulaa 1436 H, 20 Maret 2015 M

Al Faaqir ilaa Maghfiroti Robbihi/Aditya Budiman bin Usman.

[1] Lihat Taisir Karimir Rohman hal. 270/II terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[2] HR. Muslim no. 373.

[3] Lihat Fiqh Al Adzkaar wal Ad’iyah hal. 7/III terbitan Kunuuz Syibilia, Riyadh, KSA.

[4] Idem.

[5] HR. Abu Dawud no. 5088, Tirmidzi no. 3388, Beliau Rohimahullah mengatakan, ‘Hadits ini hasan shohih ghorib’. Syaikh Al Albani Rohimahullah menilai hadits ini shohih.

[6] Lihat Fiqh Al Adzkaar wal Ad’iyah hal. 12/III.

 

Tulisan Terkait

4 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. Salindra di gunter
    Apr 10, 2015 @ 08:04:22

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.mhn beri pnjelasan amalan apa yang baik dan ssuai syariat agar manusia di mudahkn rezeki dan jodoh?syukron

    Reply

    • Aditya Budiman
      Apr 11, 2015 @ 09:07:03

      عليكم السلام و رحمة الله
      Berdoa minta rizki kepada Allah.

      Reply

  2. Dewi Kemala
    Feb 18, 2016 @ 19:52:51

    Assalamu’alaikum
    Trims ukhti/ akhi artikel nya
    Semoga menjadi amal jariyah ya 🙂

    Reply

Leave a Reply