Ustadz Aja Gitu, Berarti Boleh Dong …..Berarti Benar Dong…

8 Dec

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ustadz Aja Gitu, Berarti Boleh Dong …..Berarti Benar Dong…

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Pernahkah anda mengungkapkan ungkapan di atas ? Atau pernahkah anda mendengar seseorang mengungkapkannya ? Atau boleh jadi dengan redaksi lain semisal ‘Si Fulan aja yang ahli ibadah, rajin sholat gitu…’

Judul di atas merupakan kaidah berfikir sebagian orang. Benar memang, seorang ustadz sudah selayaknya bahkan harusnya mampu menjaga dirinya dari hal yang diharamkan Allah ‘Azza wa Jalla. Hal ini merupakan sesuatu yang sudah kita ketahui bersama.

Namun yang menjadi point penting pada artikel ini adalah perilaku, tingkah pola, perbuatan maksiat, pernyataan yang dibuat seorang ustadz, da’i, cendikiawan Islam ataupun ulama bukanlah berarti hal tersebut boleh dilakukan orang yang kedudukannya di bawah mereka. Bukan pula berarti hal tersebut bukan termasuk maksiat yang terlarang atau menjadi sebuah kebenaran. Kaidah ini mungkin juga tidak terucap dari lisan kita namun sering terbetik dalam hati kita dan menjadi amalan serta pembenaran bagi kita ketika melakukan kemaksiatan.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahab Rohimahullah mengatakan,

المَسَائِلُ التَّاسِعَةُ : الإِقْتِدَاءُ بِفَسَقَةِ الْعُلَمَاءِ وَ جُهَّالِ الْعُبَّادِ

“Perkara Jahiliyah Kesembilan,

Meneladani, mengikuti kefasikan ulama dan kebodohan ahli ibadah”.

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah mengatakan,

الفَاسِقُ هُوَ الخَارِجُ عَنْ طَاعَةِ اللهِ فِيْ عِلْمِهِ وَ عَمَلِهِ. وَ فَسَقَةُ الْعُلَمَاءِ هُمْ الذِيْنَ لَا يَعْمَلُوْنَ بِعِلْمِهِمْ أَوْ يَقُوْلُوْنَ عَلَى اللهِ الْكَذِبَ وَ هُمْ يَعْلَمُوْنَ.

“Fasik adalah keluar dari keta’atan kepada Allah dalam perkara ilmu dan amal. Sedangkan ulama fasik merekalah orang-orang yang tidak mengamalkan ilmunya atau mengatakan sebuah kedustaan atas Allah ‘Azza wa Jalla padahal mereka mengetahui (bahwa hal itu merupakan kedustaan –ed)”[1].

Beliau melanjutkan,

Ustadz aja gitu 1

“Boleh jadi mereka mengatakan hal ini halal dan hal itu haram. Padahal mereka mengetahui bahwa mereka adalah pendusta. Hal ini bisa terjadi karena senantiasa mengikuti kehendak dan hawa nafsu dengan kedok bahwa mereka adalah ulama sedangkan masyarakat umumnya mempercayai mereka. Demikian juga halnya seorang ahli ibadah yang masyarakat pada umumnya menganggap dia adalah orang yang sholeh.

Ustadz aja gitu 2

Maka janganlah tertipu dengan seorang yang mengerti tentang agama, ahli ibadah hingga anda dapati mereka adalah orang-orang yang lurus berjalan di atas agama Allah ‘Azza wa Jalla. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman tentang orang-orang Yahudi dan Nashrani,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْأَحْبَارِ وَالرُّهْبَانِ لَيَأْكُلُونَ أَمْوَالَ النَّاسِ بِالْبَاطِلِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya sebahagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan ahli ibadah Nashrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan bathil dan mereka menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah”. (QS. At Taubah [9] : 34)[2]

Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hafidzahullah mengatakan,

Ustadz aja gitu 2 (2)

“Perkara (jahilyah -ed) ini akan terus berkembang pada diri seseorang yang senantiasa mengikuti kehendaknya pada suatu hal. Hingga dia akan berkata, ‘Ini adalah fatwa ulama Fulan’ tanpa melihat apakah ulama tersebut benar-benar berpegang teguh dengan Al Qur’an dan Hadits dengan pemahaman yang benar (ketika itu-ed). Jika kita katakan bahwa ini merupakan fatwa yang keliru. Maka dia akan menjawab, ‘Apa urusanku (mau fatwa tersebut benar atau salah -ed) selama ulama Fulan berfatwa demikian !’[3]

Ustadz aja gitu 4

Sebaliknya jika fatwa ulama Fulan tidak berseberangan dengan hawa nafsunya maka dia akan mengatakan, ‘Ini merupakan fatwa yang tidak benar atau terlalu keras’. Hingga akhirnya dia menjadikan posisi ketergelinciran ulama dalam memberikan fatwa layaknya posisi Al Qur’an yang wajib diikuti dan menyebarkannya dalam rangka agar orang lain menjadi ikut-ikutan meremehkan (maksiat –ed) dengan dalih ‘Agama Islam itukan mudah dan tidak meyusahkan pemeluknya’. Jika ada yang mengatakan, ‘Timbanglah fatwa tersebut apakah sesuai Al Qur’an dan Hadits’. Maka dia akan menjawab, ‘Inikan fatwanya ulama Fulan, apakah ulama besar seperti ulama Fulan tidak menimbang ucapannya dengan Al Qur’an dan Hadits !!?’ Sesungguhnya dia mengatakan hal itu karena dorongan hawa nafsu, kita berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang berfirman,

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ

“Mereka menjadikan orang-orang alim dan ahli ibadah mereka sebagai sesembahan (yang menentukan halal dan haram –ed.) selain Allah”. (QS. At Taubah [9] : 31)

Jika kita larang mereka dari perbuatan bid’ah yang dilarang Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam maka mereka akan mengatakan, ‘Hal ini diamalkan oleh si Fulan dan dia adalah orang yang berilmu dan ahli ibadah, hal ini sudah diamalkan di daerah Fulan yang mayoritas penduduknya ahli ibadah dan bertaqwa’. Maka kita sampaikan, ‘Kesholehan/rajin beribadah dan taqwa semata belumlah cukup bahkan sesuatu itu harus bersesuaian dengan Al Qur’an dan Hadits’[4].

Apa yang disampaikan beliau hafidzahullah benar-benar kita jumpai pada beberapa kesempatan. Ketika kita sampaikan bahwa janganlah berbuat demikian (misalnya sering tidak berjama’ah sholat lima waktu di mesjid). Maka mereka akan mengatakan, ‘Ustadz Fulan saja yang lulusan universitas Islam atau pondok saja tidak seperti anda’. Atau ketika kita katakan, ‘Janganlah ngalap berkah kepada Tuan Guru Fulan yang sudah wafat, atau mencari barang hilang dengan meminta ‘wangsit/arahan’ Tuan Guru Fulan’. Maka mereka akan mengatakan, ‘Anda siapa, lulusan mana berani mengatakan demikian? Ustadz Fulan saja yang sudah keyang dengan agama dan lulusan pondok saja tidak mengatakan demikian !’

Padahal maksud kita bukan sama sekali merendahkan Ustadz Fulan, Tuan Guru Fulan. Bahkan maksud kita adalah mengajak berfikir ulang, ‘mari saudaraku timbang perbuatan, perkataan orang yang anda anggap sebagai ulama, tuang guru ataupun ustadz dengan Al Qur’an dan Hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sesuai dengan pemahaman para shahabat Rodhiyallahu ‘anhum’.

Inilah realitanya, Laa Hawlaa wa Laa Quwwata illaa Billah.

 

 

Mudah-mudahan kita senantiasa istiqomah dan diberi hidayah oleh Allah ‘Azza wa Jalla.

Setelah Subuh 22 Muharrom 1436 H/ 15 Nopember 2014 M. Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Syarh Masail Jahiliyah Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hal. 50 cet. Darul Bashiroh, Mesir.

[2] Idem.

[3] Relita ini juga tak jarang kita dapati pada orang-orang yang melarang taqlid buta kepada para Imam Mazhab namun mereka malah terjatuh pada taqlid buta pada ulama sekarang yang ilmunya dan amalnya sangat jauh dari para Imam Mazhab. Allahul Musta’an. Ed.

[4] Lihat Syarh Masail Jahiliyah Syaikh DR. Sholeh Al Fauzan hal. 51-52.

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply