Tips Ulama Buat Menuntut Ilmu (2)

6 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tips Ulama Buat Menuntut Ilmu (2)

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah. Melanjutkan tulisan sebelumnya seputar tips dari ulama dalam menuntut ilmu. Tips selanjutnya adalah tekun dan rajin dalam menuntut ilmu.   Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan[1], Kedua : Rajin, tekun dan senantiasa menuntut ilmu Mencurahkan kesungguhan dalam menuntut ilmu dan bersabar di atasanya akan membantu seseorang dalam menuntut ilmu. Demikian pula berusaha menjaga ilmu setelah mendapatkannya. Karena sesungguhnya ilmu tidak dapat diraih dengan badan yang santai (males-malesan –pen). Maka hendaklah seorang yang belajar, menempuh seluruh wasilah/sarana yang dapat menghantarkan kepada ilmu dan rajin serta tekun di atas jalan tersebut. Sebab telah valid disebutkan dalam Shohih Muslim dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, bahwasanya Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Siapa saja yang menempuh suatu jalan[2] yang dengannya dia mencari ilmu maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga”[3].

Maka hendaklah seorang penuntut ilmu rajin, tekun, bersungguh-sungguh, bergadang di malam hari serta meninggalkan semua hal yang memalingkan dan menyibukkannya dari menuntut ilmu”. Faidahnya : Ketika anda sudah berniat untuk menuntut suatu ilmu, menghadiri suatu pengajian maka tekun dan rajinlah mengikutinya serta gunakan semua sarana yang anda punya untuk membantu anda menuntut ilmu. Misalnya : anda punya laptop, smartphone maka gunakan untuk membantu anda untuk menuntut ilmu dengan merekam kajian, mengetik ringkasan kajian, menginstal program pencarian hadits, kalam ulama dan semisal itu. Dengan demikian disamping anda bersyukur atas nikmat tersebut, andapun akan lebih banyak terbantu menuntut ilmu serta ilmu yang didapat pun akan lebih menghujam pada diri anda, insya Allah. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah melanjutkan[4], “Para shahabat pun telah memberikan keteladanan yang masyhur dalam hal giat, rajin dan tekun dalam menuntut ilmu. Sampai-sampai diriwayatakan dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma bahwa dia pernah ditanya bagaimana dia mendapatkan ilmu ? Beliau menjawab, “Dengan lisan yang senantiasa bertanya, hati yang berfikir dan badan yang tidak malas. Demikian pula diriwayatkan dari beliau Rodhiyallahu ‘anhuma juga, beliau berkata, “Jika ada sebuah hadits yang akan disampaikan seorang laki-laki kepadaku maka aku akan mendatangi pintu rumahnya, menggelar kainku di depan pintunya, (walaupun –pen) angin bercampur debu menerpa wajahku. Kemudian orang tersebut mengatakan, “Wahai anak paman Rosulullah, apa gerangan denganmu ? Mengapa engkau tidak mengutus orang kemari agar aku mendatangimu ?” Aku pun akan mengatakan padanya, “AKULAH YANG LEBIH BERHAK MENDATANGIMU”. Kemudian aku pun akan memintanya menyampaikan hadits itu….”. Lihatlah, betapa Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma merendahkan dirinya untuk ilmu, maka Allah pun akan mengangkat derajatnya dengan ilmu tesebut”. Kemudian  Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah membawakan kisahnya Imam Syafi’i Rohimahullah yang bertamu ke rumah Imam Ahmad Rohimahullah. Kemudian Imam Syafi’i Rohimahullah begadangan semalam suntuk (dari selepas Isya hingga subuh) memikirkan sebuah hadits ringkas tentang Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang bertanya kepada seorang anak,

يَا أَبَا عُمَيْرٍ مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ

 “Wahai Abu Umair, apa yang dikerjakan sang burung kecil”[5].

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah menceritakan[6], “Guru kami Syaikh ‘Abdur Rohman As Sa’diy Rohimahullah telah menceritakan kepadaku tentang kisahnya seorang Imam Orang Kufah dalam bidang Nahwu yang bernama Al Kisa’iy. Bahwasanya beliau ketika menuntut ilmu nahwu tidak paham dengan kokoh. Suatu hari beliau melihat seekor semut yang membawa makanannya dan memanjat sebuah dinding. Setiap kali semut itu berusaha naik lalu jatuh. Namun semut itu senantiasa tekun berusaha naik hingga akhirnya dia berhasil mendaki dinding tersebut. Al Kisa’iy pun mengatakan, “Semut ini saja tekun hingga dia pun berhasil mencapai tujuannya”. Maka beliaupun rajin dan tekun menuntut ilmu hingga menjadi imam dalam bidang nahwu. Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah menutup[7], “Oleh sebab itulah sudah seharusnya bagi kita wahai penuntut ilmu untuk bergiat, tekun dan tidak putus asa. Sebab sesungguhnya putus asa itu berarti (baca : sama saja) menutup pintu kebaikan. Demikian pula seyogyanya bagi untuk tidak mencela, menilai diri buruk dirinya namun sebaliknya berharap dan berbaik sangka pada diri kita ( baca : kalau mau berusaha kita mesti bisa –pen)”.   Ayo semangat…. Om semangat om..   Allahu a’lam. Selepas Isya’, 29Robi’ul Awwal 1438 H | 28 Desember 2016,   Aditya Budiman bin Usman [1] Lihat Kitabul Ilmi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 59 terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA. [2] Apapun sarana tersebut. Sebab pada hadits ini terdapat isim nakiroh dalam konteks syarat. (pen) [3] HR. Muslim no. 30 dan 2699. [4] Lihat Kitabul Ilmi hal. 60. [5] HR. Bukhori dan Muslim. [6] Lihat Kitabul Ilmi hal. 61. [7] Idem hal. 62.  

Tulisan Terkait

Leave a Reply