Tingkatan Manusia Dalam Menghadapi Musibah

14 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tingkatan Manusia Dalam Menghadapi Musibah

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Musibah merupakan sebuah hal yang sering mendatangi kita. Musibah itu terkadang menimpa diri kita, keluarga kita dan harta kita. Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ لَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلِهِ ابْتَلاَهُ اللَّهُ فِى جَسَدِهِ أَوْ فِى مَالِهِ أَوْ فِى وَلَدِهِ

“Sesungguhnya seorang hamba apabila sebuah kedudukan telah ditentukan untuknya namun amalnya tidak mampu menggapainya. Maka Allah akan timpakan kepada hamba tersebut musibah pada dirinya atau hartanya atau pada anaknya”[1].

Lantas sebagai muslim yang cerdas, sudah sepatutnya kita mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Diantara langkahnya adalah dengan mengetahui tingkatan manusia dalam menghadapi musibah. Agar musibah yang kita hadapi menjadi manfaat bagi kita.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah pernah ditanya[2],

Tingkatan Manusia Dalam Menghadapi Musibah1

“Apa hukumnya orang yang marah ketika musibah menimpanya ?”

Beliau Rohimahullah menjawab,

Tingkatan Manusia Dalam Menghadapi Musibah2

“Manusia ketika menghadapi musibah memiliki 4 tingkatan.

Tingkatan Pertama, marah terhadap musibah. Tingkatan ini terdiri dari 3 macam :

  1. Marah kepada Allah di dalam hatinya. Dia marah terhadap apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla takdirkan untuknya. Ini hukumnya haram. Bahkan dapat berubah menjadi kufur. Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَى حَرْفٍ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انْقَلَبَ عَلَى وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةَ

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi. Jika ia memperoleh kebaikan, tetaplah ia dalam keadaan itu (iman), dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang (kufur). Rugilah ia di dunia dan di akhirat”. (QS. Al Hajj [22] : 11)

  1. Marah dengan ekspresi lisannya, mengucapkan ucapan celaka, binasa dan yang semisal. Ini hukumnya juga haram.
  2. Marah dengan ekspresi anggota tubuhnya, menampar pipi, merobek pakaian, menggundul rambut dan yang semisal. Semuanya haram meniadakan kesabaran yang hukumnya wajib”.

Tingkatan Manusia Dalam Menghadapi Musibah3

Tingkatan kedua, sabar. Sabar itu sebagaimana diungkapkan penyair,

Sabar itu rasanya sesuai namanya

Namun hasilnya lebih manis dari madu

Sehingga seseorang menilai bahwa musibah tersebut berat untuknya. Dia berusaha memikulnya sedangkan dia tidak menyukai musibah tersebut terjadi padanya. Ada atau tidaknya musibah tersebut tidaklah sama baginya. Namun imannya mampu mencegahnya dari marah. Sabar ini hukumnya wajib. Karena Allah Ta’ala berfirman,

وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Bersabarlah kalian[3], sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”.(QS. Al Anfal [8] : 46)

Tingkatan Manusia Dalam Menghadapi Musibah4

Tingkatan ketiga, ridho. Yaitu seseorang ridho dengan musibah yang menimpanya. Baginya ada atau tidak adanya musibah tersebut sama saja, adanya musibah tidak membuatnya menjadi gusar/susah/galau, musibah itu baginya bukanlah suatu hal yang berat. Ridho terhadap musibah hukumnya mustahab/dianjurkan dan tidak wajib berdasarkan pendapat yang lebih tepat. Perbedaannya dengan tingkatan kedua (sabar) pada zhohirnya. Ada atau tidak ada musibah sama saja bagi orang yang berada pada tingkatan ini (ridho). Sedangkan orang yang masih berada pada tingkatan kedua (sabar) maka musibah itu mengguncang dirinya namun dia bersabar atasnya”.

Tingkatan keempat, syukur. Inilah tingkatan tertinggi. Dia mampu bersyukur kepada Allah atas musibah yang menimpanya. Dia mengetahui/merasa bahwa musibah yang menimpanya merupakan sebab digugurkannya dosanya dan penambah pahalanya. Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

مَا مِنْ مُصِيبَةٍ يُصَابُ بِهَا الْمُؤْمِنُ إِلاَّ كَفَّرَ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةُ يُشَاكُهَا

“Tidaklah sebuah musibah menimpa seorang mukmin/muslim melainkan Allah akan gugurkan dengannya dosanya walaupun hanya sekedar duri yang menusuknya”.[4]

Berat memang, namun sebagaimana kata pepatah :

مَا لَا يُدْرَكُ جُلُّهُ           لَا يُتْرَكُ كُلُّهُ

“Sesuatu yang tidak bisa di dapatkan dalam jumlah besar

 Tidak lantas ditinggalkan semuanya”.

 

 

Sigambal, Setelah subuh ditemani teh dari istri tercinta,

 

4 Robi’ul Awwal 1436 H/ 26 Desember 2014 M.

Aditya Budiman bin Usman

[1] HR. Abu Dawud no. 3093. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahumallah.

[2] Lihat Fataawaa Arkaanil Islaam oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 126-127 terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

[3] Dalam bentuk perintah. Sedangkan perintah jika tidak ada dalil yang memalingkannya hukum dasarnya wajib.

[4] HR. Bukhori no. 5640 dan Muslim no. 2572.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply