Teruslah Menuntut Ilmu Agar Dada Anda Lebih Lapang

30 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Teruslah Menuntut Ilmu Agar Dada Anda Lebih Lapang

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Tak jarang kita dapati seorang pemuda atau pemudi yang baru mengenal ilmu, kitab dan ucapan ulama terjangkiti sebuah penyakit tidak dapat menerima perbedaan pendapat dalam masalah ijtihadiyah. Atau mungkin kita sendiri dulu mengalaminya. Sehingga tak jarang orang seperti ini akan bersikap sangat kaku dengan orang yang berbeda pendapat dengannya. Atau bahkan menganggap mereka sebagai ahlu bid’ah.

Berikut kami nukilkan ucapan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah buat kita para penuntut ilmu.

Beliau Rohimahullah mengatakan[1],

“Hedaklah dada seorang penuntut ilmu lapang pada ranah khilafiyah yang sumber khilafnya adalah itjihad. Sebab masalah khilafiyah di kalangan para ulama dapat saja terjadi pada perkaran yang tidak ada ruang ijtihad padanya, perkaranya pun telah jelas maka tidak ada udzur bagi seseorang untuk menyelisihinya. Boleh jadi perbedaan pendapat tersebut terjadi pada permasalahan ranah ijtihadiyah. Maka pada yang demikian orang yang menyelisihi salah satu pendapat ulama memiliki udzur untuk tidak sependapat. Sehingga pendapat anda bukan merupakan hujjah bagi orang yang menyelisihi anda. Sebab jika kita terima hal itu maka kebalikannya juga berlaku yaitu pendapat orang lain dapat menjadi hujjah untuk anda”.

“Yang saya maksudkan adalah pada perkara yang ada ruang bagi akal/ijtihad. Maka hendaklah seseorang berlapang dada dengan perbedaan pendapat. Adapun pada perkara yang menyelisihi jalannya para shahabat/salaf semisal masalah aqidah maka ini tidak diterima pendapat siapapun yang menyelisihi keyakinan para salafush sholeh. Namun permasalahan lain yang ada ruang untuk berpendapat maka tidak seharusnya masalah khilaf yang demikian dijadikan alasan untuk mencela orang lain atau menjadikannya sebab permusuhan dan kebencian.

Beliau Rohimahullah memberikan contoh permasalahan yang termasuk khilafiyah ijtihadiyah adalah permasalahan seputar letak atau posisi tangan setelah bangkit dari ruku’ setelah selesai mengucapkan “Robbana wa lakal Hamdu”. Apakah posisi tangan lurus dengan badan atau kembali bersedekap.

Beliau Rohimahullah kemudian mengatakan,

“Jadi wajib bagi para penuntut ilmu menjadi sebuah tangan dan janganlah mereka menjadikan perkara yang demikian menjadi sebab untuk saling menjauh dan membenci. Bahkan wajib bagi anda jika anda berbeda pendapat dengan teman anda sebab (perbedaan –pen) pendalilan menurut anda. Diapun menyisilihi pendapat anda karena (perbedaan –pen) pendalilan menurutnya. Hendaklah kalian menjadikan jiwa kalian pada jalan yang sama (beramal sesuai dalil -pen) dan saling menambah kecintaan diantara kalian.

Beliau juga menasehatkan kepada kita,

“Wajib bagi penuntut ilmu untuk menjalin, menjaga ukhuwah walaupun mereka saling berbeda pendapat pada sebagian permasalahan khilafiyah furu’iyah. Wajib bagi setiap orang dari mereka untuk mengajak orang lain dengan penuh ketenangan dan dialog yang diinginkan darinya Wajah Allah dan tersampaikannya ilmu. Dengan ini akan terwujudlah kecintaan dan hilanglah perpecahan dan sikap keras yang terjadi pada sebagian orang. Bahkan diantara mereka ada yang sampai pada pertengkaran dan permusuhan. Hal ini tidak diragukan lagi akan membuat senang musuh kaum muslimin. Pertengkaran di kalangan ummat merupakan diantara perkara yang sangat berbahaya. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al Anfal [8] : 46).

“Para shahabat Rodhiyallahu ‘anhum pun dahulu berbeda pendapat pada permasalahan yang demikian. Namun mereka tetap bersatu di atas kecintaan dan kasih sayang. Sekali lagi saya perjelas, sesungguhnya seseorang yang jika dia menyelisihi pendapatmu sebab tuntutan dalil yang ada padanya maka sesungguhnya orang tersebut pada hakikatnya bersesuaian dengan anda. Karena masing-masing dari kalian mencari kebenaran yang hakiki. Terlebih lagi tujuan kalian sama yaitu mencari kebenaran berdasarkan dalil. Dengan demikian dia sebenarnya tidak menyelisihi anda selama anda mengakui bahwa sesungguhna dia berbeda pendapat dengan anda karena tuntutan dalil yang ada padanya. Maka dimana khilafnya ? Dengan cara ini ummat akan tetap bersatu walaupun mereka berbeda pendapat pada sebagian permasalahan sebab tegaknya dalil diantara mereka. Adapun orang yang membangkang dan sombong setelah jelas baginya kebenaran maka tidak diragukan lagi wajib bersikap yang sesuai dengan prilakunya setelah pembangkangan dan kesombongannya pada kebenaran. Setiap keadaan ada sikap/ketentuannya”.

 

Ringkasnya :

Mari terus menerus belajar agar dapat mengetahui mana permasalahan yang tidak menerima khilaf dan mana permasalahan yang termasuk khilafiyah ijtihadiyah. Setiap hal dari keduanya memiliki sikap dan perlakukan yang berbeda.

 

Allahu a’lam.

Selepas Subuh, 1 Jumadil Awwal 1438 H | 29 Januari 2017,

 

Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Kitabul Ilmi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 30-33 terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply