Tertawa, Antara Tidak Pernah dan Berlebihan

2 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tertawa, Antara Tidak Pernah dan Berlebihan

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Anda termasuk orang yang mudah tertawa, banyak tertawa, jaim, atau bahkan mukanya sering cemberut ? Mari duduk sejenak.

Seseorang atasan, biasanya cenderung enggan untuk senyum kepada bawahannya. Seorang juragan biasanya enggan senyum kepada pekerjanya. Seorang yang kaya biasanya enggan senyum kepada orang miskin. Namun tak jarang juga seorang suami enggan senyum kepada istri dan anaknya.

Sebagian kita, terutama orang yang secara status sosial berada di atas orang lain menyangka dengan tidak mau senyum, membaur dengan orang yang status sosialnya berada di bawah orang lain akan mengurangi wibawa dan harga diri. Sehingga sebagian gambaran di atas tak jarang kita jumpai. Namun yang lebih parah, seorang suami, seorang ustadz, da’i, guru yang memang bertugas untuk mendidik orang yang berada di bawah tanggung jawabnya pun punya pemikiran semacam ini.

Untuk mengingatkan diri kami sendiri sebagai suami dan pembaca sekalian mari kita simak keterangan dari para ulama berikut.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad As Sadhan Hafidzahullah mengatakan,

Tertawa1

“Hal ini yaitu cemberut/muka mengkerut termasuk diantara sebab-sebab terbesar larinya seseorang dari orang lain. Sebaliknya kita dapatkan bahwa wajah ceria termasuk sebab-sebab terbesar untuk menarik hati orang lain. Oleh karena itulah merupakan sebuah kekeliruan seseorang yang menganggap bahwa sikap cemberut/muka masam dan tidak mau senyum sama sekali kepada orang yang menjumpainya merupakan salah satu sikap/perangai yang menjadi sebab kewibawaan[1].

Jika kita renungkan lebih mendalam sungguh benar yang beliau ucapkan ini. Terutama pada kalimat terakhir, inilah kenyataan sebagian saudara kita orang yang baru-baru sadar untuk beragama dengan benar atau ‘baru ngaji’. Sering kita dapati ikhwan-ikhwan semisal ini enggan tersenyum kepada masyarakat luas. Padahal di medan dakwah sebagaimana isyarat Syaikh di atas merupakan salah satu sebab terbesar untuk melembutkan dan mengambil hati masyarakat. Yang akhirnya berbuah mudahnya masyarakat menerima dakwah yang haq ini.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad As Sadhan Hafidzahullah juga mengatakan[2],

Tertawa2

“Sebaliknya juga, terlalu berlebihan dalam masalah senyum pada semua orang juga pelakunya tidak terpuji. Namun seyogyanya sesuai batasan syar’i diantara kedua hal ini. Betapa indah apa yang dikatakan Imam Syafi’i Rohimahullah Ta’ala ketika beliau berwasiat kepada Yunus bin Abdul A’laa. Beliau Rohimahullah Ta’ala mengatakan,

يَا يُوْنُسَ، الاِنْقِبَاضُ عَنْ النَّاسِ مَكْسَبَةٌ لِلْعَدَاوَةِ، وَالاِنْبِسَاطُ إِلَيْهِمْ مُجَلَّبَةٌ لِقُرَنَاءِ السُّوْءِ، فَكُنْ بَيْنَ المُنْقَبِضِ وَالمُنْبَسِطِ.

“Wahai Yunus, mengkerutkan wajah kepada masyarakat merupakan pintu pembuka permusuhan. Sedangkan terlalu bergaul dengan mereka mendatangkan teman-teman yang buruk. Maka jadilah engkau pertengahan diantara selalu mengkerutkan wajah dan terlalu banyak bergaul dengan mereka[3].

Al Imam Adz Dzahabiy Rohimahullah mengatakan sebuah perkataan emas dalam sebuah kitab emas,

الضحك اليسير والتبسم أفضل، وعدم ذلك من مشايخ العلم على قسمين: أحدهما: يكون فاضلا لمن تركه أدبا وخوفا من الله، وحزنا على نفسه المسكينة.

والثاني: مذموم لمن فعله حمقا وكبرا وتصنعا، كما أن من أكثر الضحك استخف به، ولا ريب أن الضحك في الشباب أخف منه وأعذر منه في الشيوخ.

وأما التبسم وطلاقة الوجه فأرفع من ذلك كله، قال النبي صلى الله عليه وسلم: تبسمك في وجه أخيك صدقة.

وقال جرير: ما رآني رسول الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم قط إلاَّ تبسم في وجهي.

فهذا هو خلق الاسلام، فأعلى المقامات من كان بكاء بالليل، بساما بالنهار.

وقال عليه السلام:لن تسعوا الناس بأموالكم، فليسعهم منكم بسط الوجه

بقي هنا شئ: ينبغي لمن كان ضحوكا بساما أن يقصر من ذلك، ويلوم نفسه حتى لا تمجه الانفس، وينبغي لمن كان عبوسا منقبضا أن يتبسم، ويحسن خلقه، ويمقت نفسه على رداءة خلقه، وكل انحراف عن الاعتدال فمذموم، ولا بد للنفس من مجاهدة وتأديب.

“Sedikit tertawa dan tersenyum lebih utama. Sedangkan tidak tersenyum dan tertawanya seorang yang telah tua boleh jadi karena dua perkara.

Pertama : boleh jadi menjadi sebuah hal yang utama bagi orang yang melakukannya sebagai bentuk adab kepada Allah, takut terhadap Nya dan menangisi kondisi diri yang patut dikasihani (boleh jadi karena kemaksiatan yang pernah dilakukan –ed).

Kedua : tercela bagi orang yang melakukannya karena dorongan adanya kedunguan, sombong dan dibuat-buat.

Sebagaimana telalu banyak tertawa juga akan menyebabkan dianggap remeh orang[4].

Tidak perlu diragukan lagi terlalu banyak tertawa jika terjadi pada orang yang masih muda masih dapat dimaklumi daripada jika dilakukan orang yang sudah tua.

Sedangkan tersenyum dan wajah yang ceria lebih mulia daripada semua hal itu. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ صَدَقَةٌ

“Engkau tersenyum di hadapan saudaramu merupakan sebuah sedekah”[5].

Jarir bin ‘Abdullah Rodhiyallahu ‘anhu mengatakan,

ما رآني رسول الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم قط إلاَّ تبسم في وجهي

“Tidaklah aku melihat Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melainkan beliau selalu tersenyum kepadaku”[6].

Inilah akhlak Islami, setinggi-tinggi kedudukan adalah barangsiapa yang banyak menangis di waktu malam (qiyamul lail -ed) dan tersenyum ketika siang hari (ketika bergaul dengan masyarakat -ed). Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

لَنْ تَسَعُوا النَّاسَ بِأَمْوَالِكُمْ فَلْيَسَعْهُمْ مِنْكُمْ بَسْطُ وَجْهٍ , وَحُسْنُ خُلُقٍ.

“Kalian tidak akan mampu mengambil hati/simpati manusia dengan harta kalian. Namun ambillah hati/simpati mereka dengan senyuman dan akhlak yang baik”[7].

Kesimpulannya :

Seyogyanya orang yang banyak tertawa mengurangi dosisnya, hendaklah dia mencela dirinya sendiri sehingga jiwa orang lain tidak muak dengannya.

Sebaliknya seyogyanya bagi orang yang selalu cemberut dan suka menyendiri hendaklah dia berusaha tersenyum dan memperbaik akhlaknya serta memarahi dirinya sendiri karena akhlaknya yang buruk.

Seluruh bentuk penyimpangan dari sebuah perkara yang pertengahan merupakan suatu hal yang tercela. Seyogyanya setiap kita berusaha lebih baik dan beradab yang baik[8].

 

Guru Kami Ustadz Aris Munandar Hafidzahullah pernah mengatakan,

“Tersenyumlah, karena gigimu bukan aurot”.

Mari saudaraku, jangan kita kotori dakwah ini dengan akhlak kita yang buruk. Jangan sampai orang mencela Islam dan Sunnah karena kita yang enggan senyum kepada masyarakat.

Setelah ‘Maghrib 3 Shofa 1436 H/ 26 Nopember 2014 M. Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Ma’alim fii Thoriq Tholab Al Ilmi hal. 147 cet. Darul ‘Ashimah, Riyadh, KSA terbitan tahun 1433 H.

[2] Idem.

[3] Syiar A’lam An Nubalaa hal. 89/X.

[4] Kurang wibawa.

[5] HR. Tirmidzi no. 1956, Ibnu Hibban no. 474, Bukhori dalam Kitab Adabul Mufrod no. 891 dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[6] Muttafaqun ‘Alaihi.

[7] HR. Albazzaar dalam Mushonnafnya. Ibnu Hajar dan Al Albani Rohimahumullah menyatakan hadits ini hasan.

[8] Syiar A’lam An Nubalaa hal. 140-141/X.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply