Tawadhu’nya Para Ulama’

29 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tawadhu’nya Para Ulama’

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Telah masyhur disebutkan para ‘ulama bahwa banyak sekali orang yang mengadiri majelisnya Imam Ahmad yang bertujuan untuk mempelajari dan menyaksikan sendiri bagaimana adab para ‘ulama. Alhamdulillah walaupun kita yang berada di Indonesia tidak dapat menyaksikan langsung adab mereka namun kita masih dapat mendengar perkataan atau membaca tulisan orang yang langsung berguru dan belajar kepada para ‘ulama. Salah satu ‘ulama besar di zaman kita adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albaniy Rohimahullah.

 

Berikut kita nukilkan sebuah adab yang mulai jarang kita temukan saat ini. Adab yang kami maksudkan itu adalah tawadhu’/rendah hati.

Pertanyaan[1] :

Sebagian ahlu ilmu/’ulama[2] menyifati/memberi gelar kepada anda dengan sebutan Al Hafidz Al Albaniy. Ketika ditanyakan tentang hal itu, dia menjawab, ‘Maksudnya adalah sesungguhnya anda (Syaikh Al Albaniy) memahami atas apa yang tidak dipahami selain anda dari kalangan ahlu ‘ilmu/’ulama.

Beliau beralasan dengan apa yang dijadikan alasan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolaniy tentang syaikhnya (gurunya) Al ‘Irooqiy bahwa sesungguhnya Al Hafdzu[3] adalah Al Ma’rifah (ilmu/pengetahuan). Sedangkan anda mengetahui sanad-sanad kitab-kitab matan. Maka bagaimana pendapat anda ?

 

Jawaban :

“Aku (Syaikh Al Albaniy) –dalam hal apapun- ,

Pertama Aku tidaklah ridho dengan gelar itu[4].

Kedua permasalahan gelar ini dikembalikan ke istilah yang dikenal di kalangan pengguna istilah tersebut (mushtholah hadits). Adapun yang dijadikan sandaran oleh anda (pemberi gelar) dengan apa yang disebutkan Al Hafidz Ibnu Hajar kepada gurunya Al Irooqiy adalah istilah yang khusus untuk mereka dan bukan istilah yang digunakan secara umum. Makna  Al Hafidz yang disebutkan dalam kitab-kitab mushtholah hadits, bahwa Al Hafidz adalah orang yang hafal ribuan hadits (beserta sanadnya), saya tidak menyebutkan batasan jumlahnya –saya berharap anda (syaikh ‘Ali) menyebutkannya- ?”

Saya (Syaikh ‘Ali) : “Seratus ribu hadits[5]”.

Syaikh Al Albaniy : “Ya seratus ribu hadits, inilah pengertian Al Hafidz menurut istilah mushtholah hadits secara umum. Adapun apabila maksud digunakan para ulama dahulu dengan al ma’rifah maka hal ini merupakan istilah secara khusus. Dan saya –dalam hal apapun- berlepas diri dari orang yang memberikan istilah (Al Hafidz) dengan istilah yang umum. Sesungguhnya saya –sebagaimana yang selalu saya sebutkan- adalah seorang tholibul ‘ilmi (penuntut ilmu)[6].

 

[Su’alaat ‘Ali bin Hasan bin Ali bin Abdul Hamiid Al Halabiy Al Atsariy lii Syaikhihi Al Imam Al ‘Allamah Al Muhaddits Asy Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albaniy hal. 75-76 ]

 

Maka lihatlah wahai kawan kalimat terakhir ini, jika beliau menganggap diri beliau dengan keilmuannya dengan sebutan tholibul ilmi maka bagaimana dengan kita yang teramat jauh sekali jika dibandingkan dengan beliau !!!???

 

Sigambal, setelah subuh

17 Syawal 1434 H / 24 Agustus 2013 M / Aditya Budiman bin Usman



[1] Penanya adalah Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah salah satu murid senior Syaikh Al Albaniy Rohimahullah. (ed.)

[2] Beliau adalah Syaikh Al ‘Allamah Said Syifa as Saluliy, termasuk diantara ‘ulama Mekkah Al Harom. Aku (Syaikh ‘Ali) bertemu dengan beliau Rohimahullah ketika mengajar di masjidil harom pada tahun 1402 H.

[3] Lihat ‘Inbaahu Al Ghumri bi abnaai al ‘umri oleh Ibnu Hajar hal. 296/I.

[4] Ini adalah bentuk ketawadhu’an guru kami Rohimahullah. Ini adalah kebiasaan beliau yang sudah dikenal. Tidak sebagaimana sebagian orang yang menganjurkan ketawadhu’an namun hal itu berbeda dengan penerapan nyatanya.

[5] Lihat Tadriibu ar roowiy hal. 43/I oleh As Suyuthi terbitan Dar Al ‘Ashimah.

[6] Mudah-mudahan Allah merahmati guru kami atas ketawadhu’an yang amat agung. Dengan sikapnya beliau telah menerapkan hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam “Barangsiapa yang tawadhu’ kepada Allah maka Allah akan angkat derajatnya”. (HR. Ahmad no. , Ibnu Hibban no. sanad hadits ini dinilai oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dhoif dan dinilai hasan karena banyak syahidnya oleh Al Albaniy dalam Ash Shohihah no. 2328)

Tulisan Terkait

Leave a Reply