Taubat Orang Yang Masih Mengerjakan Maksiat

9 Sep

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Taubat Orang Yang Masih Mengerjakan Maksiat

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Telah kita nukilkan perkataan Imam Nawawiy Rohimahullah tentang syarat diterimanya taubat seseorang (klik di sini). Salah satu syarat tersebut adalah ber’azam/bertekad kuat untuk tidak mengulangi maksiat dan berhenti melakukan kemaksiatan. Kedua hal ini mengisyaratkan sebuah pemahaman apabila seseorang yang ingin taubat nasuha maka ia harus meninggalkan seluruh kemaksiatan. Lalu timbul pertanyaan, ‘Apakah jika seseorang telah bertaubat dari sebuah kemaksiatan namun di sisi lain ia belum bertaubat dari kemaksiatan lainnya. Apakah taubatnya yang pertama diteriman ?’

Pertanyaan ini mungkin bisa dijawab dengan apa yang disampaikan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah. Beliau mengatakan,

اختلف العلماء – رحمهم الله – هل تقبل التوبة من ذنب مع الإصرار على غيره أو لا في هذا ثلاثة أقوال لأهل العلم

1 – منهم من قال: إنها تصح التوبة من الذنب وإن كان مصراً على ذنب آخر، فتقبل توبته من هذا الذنب ويبقى الإثم عليه في الذنب الآخر بكل حال .

2 – ومنهم من قال: لا تقبل التوبة من الذنب مع الإصرار على ذنب آخر .

3 – ومنهم من فصل فقال: إن كان الذنب الذي أصر عليه من جنس الذنب الذي تاب منه فإنه لا تقبل وإن لا قبلت .

مثال ذلك: رجل تاب من الربا ولكنه يزني والعياذ بالله أو يشرب الخمر ولنقل إنه يشرب الخمر، تاب من الربا ولكنه مصر على شرب الخمر

“Para ‘ulama Rohimahullah berselisih pendapat apakah diterima taubat seseorang dari suatu kemaksiatan (dosa) namun masih terus menerus melakukan kemaksiatan (dosa) lainnya. Para ulama terbagi dalam tiga pendapat dalam masalah ini.

Pertama, sebagaian dari mereka berpendapat bahwa sah/diterima taubat seseorang dari suatu kemaksiatan (dosa) walaupun ia masih melakukan kemaksiatan (dosa) lainnya. Sehingga taubatnya atas suatu kemaksiatan (dosa) tersebut diterima dan ia tetap berdosa atas kemaksiatan (dosa) lainnya yang ia masih melakukannya.

Kedua, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa taubat seseorang dari suatu kemaksiatan (dosa) yang masih melakukan kemakasiatan lainnya tidak diterima.

Ketiga, diantara mereka ada yang berpendapat bahwa perlu dirinci. Jika kemaksiatan (dosa) yang masih dilakukannya merupakan kemaksiatan (dosa) yang sejenis dengan dosa yang ia bertaubat darinya maka taubatnya tidak diterima. Namun jika tidak demikian maka taubatnya diterima.

Misalnya seorang laki-laki yang bertaubat dari riba namun dia terjatuh dalam perbuatan zina –wal iyyadzu billah- atau meminum khomer. Sehingga orang ini telah bertaubat dari riba naum masih meminum khomer”.

Beliau Rohimahullah melanjutkan,

فهناك من العلماء من قال إن توبته من الربا لا تقبل كيف يكون تائباً إلى الله وهو مصر على معصيته ؟ وقال بعض العلماء: بل تقبل لأن الربا شيء وشرب الخمر شيء آخر وهذا هو الذي مشى عليه المؤلف – رحمه الله – وقال إنها تقبل التوبة من ذنب مع الإصرار على غيره عند أهل الحق .

فهذا فيه الخلاف أما إذا كان من الجنس مثل أن يكون الإنسان والعياذ بالله مبتلى بالزنا ومبتلى بالاطلاع على النساء والنظر إليهن بشهوة ومات أشبه ذلك فهل تقبل توبته من الزنا وهو مصر على النظر إلى النساء لشهوة ؟ أو بالعكس ؟ هذا فيه أيضاً خلاف فمنهم من يقول: تصح ومنهم من يقول لا تصح التوبة .

ولكن الصحيح في هذه المسألة أن التوبة تصح من كل ذنب مع الإصرار على غيره لكن لا يعطى الإنسان اسم التائب على سبيل الإطلاق ولا يستحق المدح الذي يمدح به التائبون لأن هذا لم يتب توبة تامة بل توبة ناقصة .

“Maka sebagian ulama berpendapat bahwa taubatnya dari riba tidak diterima karena bagaimana mungkin orang tersebut dikatakan bertaubat namum masih terus menerus berbuat maksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebagaian lain berpendapat, diterima taubatnya dari riba karena riba adalah sebuah kemaksiatan (dosa) dan minum khomer adalah sesuatu kemaksiatan (dosa) yang lain. Pendapat inilah yang dipilih oleh Imam Nawawi Rohimahullah. Beliau berpendapat diterimanya taubat seseorang dari suatu kemaksiatan (dosa) padahal masih melakukan kemaksiatan (dosa) lainnya menurut pendapat ahlu haq.

Masalah ini merupakan masalah yang diperselisihkan para ‘ulama. Adapun jika masih termasuk jenisnya, misal seseorang –wal iyyadzu billah- dicoba Allah dengan tertimpa perbuatan zina dan melihat perempuan dengan syahwat kemudian dia meninggal dalam keadaan demikian. Maka apakah diterima taubatnya dari perbuatan zina sedangkan dia masih suka melirik wanita dengan syahwat ? atau sebaliknya ? masalah ini juga masalah yang diperselisihkan dikalangan ‘ulama. Diantara mereka ada yang berpendapat bahwa taubatnya sah sedangkan yang lainnya berpendapat tidak sah.

Namun pendapat yang benar dalam masalah ini bahwa taubatnya sah atas setiap kemaksiatan (dosa) yang ia lakukan dan ia telah bertaubat darinya walaupun masih melakukan kemaksiatan lainnya. Namun tidaklah diberikan padanya sebutan orang yang bertaubat secara mutlak/sempurna, tidak berhak mendapat pujian bahwa ia termasuk orang-orang yang bertaubat. Karena orang yang demikian bukanlah orang yang bertaubat secara sempurna bahkan taubat yang ia lakukan adalah taubat yang belum sempurna/kurang”[1].

 

Mudah-mudahan bermanfaat.

Sigambal, menjelang ‘Ashar

30 Syawal 1434 H / 6 September 2013 M / Aditya Budiman bin Usman



[1] Syarh Riyadhush Sholihin oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 53/I terbitan Darul Aqidah Mesir.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply