Taubat Dari Ghibah

5 Sep

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Taubat Dari Ghibah

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Sungguh ghibah adalah sebuah dosa yang jarang sekali luput dari kalangan manusia pada hari ini. Ghibah menerpa hampir setiap kalangan, kalangan ahli maksiat bahkan kalangan ahli ta’at pun terkadang terjangkiti penyakit ini tanpa sadar. Maka bagaimana bertaubat dari dosa ghibah ini ?

Para ulama Rohimahullah mengatakan,

التوبة واجبة من كل ذنب، فإن كانت المعصية بين العبد وبين الله تعالى لا تتعلق بحق آدمي، فلها ثلاثة شروط:

أحدها: أن يقلع عن المعصية .

والثاني: أن يندم على فعلها .

والثالث: أن يعزم أن لا يعود إليها أبداً، فإن فقد أحد الثلاثة لم تصح توبته .

وإن كانت المعصية تتعلق بآدمي فشروطها أربعة: هذه الثلاثة، وأن يبرأ من حق صاحبها: فإن كانت مالاً أو نحوه رده إليه، وإن كانت حد قذف ونحوه مكنه منه أو طلب عفوه وإن كانت غيبة استحله منها

“Taubat wajib hukumnya atas setiap dosa. Jika (dosa) kemaksiatan tersebut antara Allah Ta’ala dan hamba Nya, tidak berhubungan dengan hak hamba lainnya maka syarat diterimanya taubat ada tiga.

Pertama, Berhenti melakakukan kemaksiatan tersebut.

Kedua, menyesal karena telah melakukan kemaksiatan.

Ketiga, ber’azam/bertekad kuat untuk tidak mengulanginya lagi untuk selamanya.

Jika salah satu dari ketiga syarat tersebut tidak terpenuhi maka taubatnya tidak sah.

Namun jika dosa (kemaksiatan) itu berhubungan dengan hak manusia lainnya maka syaratnya menjadi 4 (empat). Termasuk tiga syarat di atas dan ditambah syarat ke 4 (empat), yaitu mengembalikan hak pemiliknya. Jika berkaitan dengan harta atau materi lainnya maka harus dikembalikan. Jika berkaitan dengan had semisal qodzaf/tuduhan zina maka hendaklah ia meminta maaf atasnya. Jika dosa (kemaksiatan) tersebut berbentuk ghibah maka hendaklah ia meminta maaf atasnya”[1].

Lalu apakah setiap ghibah yang pernah kita kerjakan harus meminta maaf langsung kepada orang yang kita ghibahi ? ataukah ada solusi lainnya ?

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

فهذه اختلف فيها العلماء فمنهم من قال لابد أن تذهب إليه تقول له يا فلان إني تكلمت فيك عند الناس فأرجوك أن تسمح عنى وتحللني وقال بعض العلماء لا تذهب إليه بل فيه تفصيل إن كان قد علم بهذه الغيبة فلابد أن تذهب إليه وتستحله، وإن لم يكن علم فلا تذهب إليه واستغفر له وتحدث بمحاسنه في المجالس التي كنت تغتابه فيها فإن الحسنات يذهبن السيئات وهذا القول أصح وهو أن الغيبة إذا كان صاحبها لا يعلم بأنك اغتبته فإنه يكفي أن تذكره بمحاسنه في المجالس التي اغتبته فيها وأن تستغفر له تقول: اللهم اغفر له كما جاء في الحديث: كفارة من اغتبته أن تستغفر له

“Maka perkara ini adalah sebuah perkara yang diperselisihkan di kalangan para ‘ulama.  Diantara mereka ada yang berpendapat harus mendatanginya dan meminta kemaafan atas ghibah tersebut. Misal dengan mengatakan, ‘Wahai Fulan sesungguhnya aku ini telah mengatakan ini dan itu tentangmu di hadapan orang banyak maka dengan kedatanganku ini aku memohon kemaafan dari dirimu’.

Sebagaian ‘ulama lain berpendapat, ‘Tidak harus pergi menemui dan meminta maaf. Namun harus dirinci, jika orang tersebut itu telah mengetahui ghibah tersebut maka anda harus mendatanginya dan meminta maaf kepadanya. Namun apabila keadaannya tidak demikian maka anda tidak harus pergi mendatanginya dan meminta maaf kepadanya namun hendaklah ia memohonkan ampunan kepada Allah untuk orang yang sudah dighibahi dan menyebutkan kebaikan-kebaikan orang tersebut di tempat dimana anda pernah mengghibahinya.  Karena sesungguhnya kabaikan akan menghapus keburukan. Ini pendapat yang paling tepat. Yaitu jika orang yang dighibahi tidak tahu dirinya telah dighibahi maka  cukup bagi anda untuk menyebutkan kabiakannya di tempat dimana anda menghibahinya. Hal ini sebagaimana diriwayatkan,

كَفَّارَةٌ مَنْ اِغْتَبْتَهُ أَنْ تَسْتَغْفِرَ لَهُ

“Kafaroh bagi orang yang sudah mengghibah orang lain adalah dengan memohonkan ampunan dari Allah atas orang yang sudah dighibahi”[2].

 

[Lihat Syarh Riyadhus Sholihihn oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 53/I terbitan Darul Aqidah Mesir.]

Al Hasan Al Bashri Rohimahullah mengatakan, “Cukup (bagi orang yang mengghibah) memohonkan ampunan Allah untuk orang yang pernah ia ghibahi tanpa harus meminta maaf langsung”[3].

Mujahid Rohimahullah mengatakan, “Kafaroh bagi anda yang telah memakan daging saudara anda (ghibah) adalah engkau memuji kebaikannya dan mendo’akan kebaikan untukknya”[4].

 

Mudah-mudahan bermanfaat.

Sigambal, Setelah Subuh

28 Syawal 1434 H / 5 September 2013 M / Aditya Budiman bin Usman



[1] Lihat Riyadhus Sholihin dengan Syarh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 50/I terbitan Darul Aqidah, Mesir.

[2] Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Marom, “Diriwayatkan dari Al Harits bin Abu ‘Usamah dengan sanad yang lemah”. (Lihat Taudhihul Ahkam hal. 373/VII).

[3] Lihat Taudhihul Ahkam hal. 373/VII

[4] Idem.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply