Syrup dan Romadhon

25 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Syrup dan Romadhon

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Eh udah mau Romadhon aja ya, udah banyak yang jual dan iklan syrup dan kurma’. Ungkapan ini mungkin pernah meluncur dari lisan kita atau pernah kita dengar. Sekilas ini ungkapan biasa aja sih, namun kalau kita dalami lagi dan tarik pada diri kita masing-masing, berujung pada betapa lalainya kita dari persiapan menjelang Romadhon. Hal ini juga menunjukkan betapa jauhnya kita dari iman dan amal para salafus sholeh Rodhiyallahu ‘anhum.

Ibnu Rojab Al Hambaliy (wafat Tahun 795 H) Rohimahullah mengatakan,

“Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dahulu biasa memberikan kabar gembira kepada para shahabatnya tentang akan datangnya Bulan Romadhon. Hal ini sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad dan An Nasa’i dari shahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan,

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُبَشِّرُ أَصْحَابَهُ قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda dan memberikan kabar gembira kepada para shahabatnya, “Akan datang kepada kalian Bulan Romadhon, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan bagi kalian puasa pada bulan tesebut. Pada bulan tersebut dibukakan pintu surga dan dikunci pintu neraka jahim serta syaithon dibelunggu. Pada malam harinya terdapat sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tercegah mendapatkannya maka sungguh dia telah tercegah (dari berbagai keberkahan –pen)”[1].

Sebagian ulama berpendapat bahwa hadits ini merupakan dalil seputar saling mengucapkan tahniyah (ucapan selamat) atas keadatangan Bulan Romadhon satu orang dengan orang lainnya”.

Dari hadits ini terlihat bahwa Bulan Suci Romadhon merupakan bulan yang dinanti-nanti Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam karena begitu banyak keutamaan yang berhubungan dengan akhirat di dalamnya. Berupa keberkahan, adanya kewajiban puasa Romadhon, dibukanya pintu-pintu surga, dikuncinya pintu neraka jahim, dibelenggu syaithon dan adanya malam istimewa Laitul Qodar. Dari hadits ini juga kita dapat melihat betapa beliau sangat berhasrat untuk memberitahukan kepada para shahabatnya bahwa Romadhon sebentar lagi datang dan adanya isyarat untuk mari maksimalkan diri pada Bulan Romadhon untuk beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Syaikh Prof. DR. Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,

“Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ) ‘Akan datang kepada kalian Bulan Romadhon’ yakni maka persiapkanlah untuk menyambut tamu agung ini. Persiapkan diri kalian untuk memuliakannya dan memenuhi haknya, persiapkanlah diri kalian untuk itu. Karena sesungguhnya Romadhon sebagaimana datangnya cepat perginya pun cepat. Oleh karena itu persiapkanlah diri kalian untuk melaksanakan amal-amal yang mulia dan berbagai keta’atan serta berbagai ibadah yang kalian suka membawanya bila kalian bertemu dengan Robb kalian, Allah Tabaroka wa Ta’ala[2].

Persiapan untuk tamu mulia tentu bukanlah persiapan yang tergesa-gesa atau bahkan lupa akan persiapan untuk menyambut sang tamu.

Lihat pula apa yang dinukil Ibnu Rojab Rohimahullah tentang kebiasaan para salaf tentang Romadhon,

“Sebagian salaf berkata, “Mereka (para pendahulu kami dari generasi yang utama) biasa berdo’a kepada Allah selama 6 bulan (sebelum Romadhon) agar Allah menyampaikan (umur) mereka pada Bulan Romadhon. Kemudian mereka pun berdo’a kepada Allah 6 Bulan (setelah Romadhon) agar Allah menerima amal mereka”.

6 Bulan wahai saudaraku !!!!!

Sungguh betapa lalai kita dari petunjuk Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan generasi utama ummat ini.

#muhasabahdirimenyambuttamuagung

 

Sigambal, 28 Sya’ban 1438 H / 25 Mei M.

Menjelang Zhuhur,

 

Aditya Budiman bin Usman

[1] HR. Ahmad dan An Nasa’i. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth Rohimahullah.

[2] Lihat Wa Ja’a Syahru Romadhon hal. 7 terbitan Darul Fadhilah.

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply