Semakin Menuntut Ilmu Kok Semakin Susah Beramal -Tips Buat Muhasabah-

28 Nov

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Semakin Menuntut Ilmu Kok Semakin Susah Beramal

-Tips Buat Muhasabah-

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Pertama, artikel ringkas berikut ini bukan karena kami lebih bertaqwa dari pembaca sekalian.

Kedua, tujuan artikel ini adalah sebagai pengingat buat kita semua. Terkadang diri kita merasakan bahwa kok saya sekarang susah termotivasi untuk beramal ya ? Apalagi yang hukumnya sunnah. Kok saya susah menerima nasihat dari kawan-kawan ya ? Kok saya sering merasa lebih hebat ya ? Jika pernah merasakan hal serupa mari simak penuturan Syaikh DR.  ‘Abdul ‘Aziz As Sadhan Hafizhahullah[1]. semakin-menuntut-ilmu-kok-semakin-susah-beramal-1 “Diantara perkara yang paling bermanfaat untuk mengetahui letak kesalahan dan kekeliruan selanjutnya untuk memperbaikinya (tentunya setelah adanya taufiq dari Allah Ta’ala) adalah muhasabah seseorang terhadap dirinya sendiri dan tidak mencari-cari alasan lemah untuk membenarkan kesalahan-kesalahannya. Sebab mencari-cari alasan lemah malah memperparah untuk terus menerus dalam kesalahan. Bahkan yang lebih parah boleh jadi kesalahan tersebut malah menjadi benar menurut penilaiannya. Jika demikian musibahnya akan semakin besar”. Inilah yang harus terngiang di benak seorang penuntut ilmu yaitu muhasabah dirinya dengan penuh kejujuran. Sebagaimana disebutkan, semakin-menuntut-ilmu-kok-semakin-susah-beramal-2 “Seseorang tidak akan benar-benar menjadi orang yang bertaqwa hingga dia lebih memuhasabah dirinya sendiri melebihi perhitungan seorang kongsi dagang dengan patnernya. Hingga dia mengetahui dari mana didapatkan pakaian, makanan dan minuman orang tersebut”[2].

Syaikh DR.  ‘Abdul ‘Aziz As Sadhan Hafizhahullah melanjutkan, semakin-menuntut-ilmu-kok-semakin-susah-beramal-3 “Diantara hal yang dapat membantu seseorang untuk memuhasaba diri dengan jujur adalah memilih waktu yang cocok sehingga ketika itu tidak tersibukkan dengan problem dan berbagai kesibukan. Sebab tatkala seseorang jauh dari hal yang menyibukkan pikirannya maka perasaan dan panca indranya akan lebih terfokuskan. Demikian pula jiwanya akan lebih dapat menerima dimana letak kekurangan dan kesalahan apapun bentuknya”. Diantara waktu yang dinilai tepat oleh para ulama adalah ketika hendak beranjak tidur. Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan ketika menjelaskan berbagai sebab yang dapat menjadikan seseorang berhasil terhindar dari adzab qubur, semakin-menuntut-ilmu-kok-semakin-susah-beramal-4 “Hendaklah seseorang duduk sesaat ketika hendak tidur karena Allah. Kemudian dia memuhasabah dirinya tentang apa yang menguntungkan dan merugikan bagi dirinya di hari tersebut. Kemudian hendaklah dia memperbarui taubatnya antara dirinya dengan Allah dengan taubat yang nashuha. Kemudian dia tidur dalam keadaan taubat yang demikian. Kemudian beliau Rohimahullah mengatakan, “Hal tersebut dilakukan setiap malam[3].

Sebagian ulama berpendapat hendaknya dilakukan ketika bangun malam.

Faidahnya : Mari luangkan waktu kita untuk memuhasabah diri kita masing-masing. Apakah hari ini saya merugi di dunia dan akhirat ? Jika merugi maka mari bersegera bertaubat dan terus perbaharui taubat. Lakukan muhasahabah secara kontiniyu/rutin terutama pada saat anda tenang dan tidak tersibukkan urusan duniawi.

Allahu a’lam.

 

Sigambal, 14 Shofar 1438 H / 13 Nopember 2016 M.

 

Aditya Budiman bin Usman

#edisikajidiri

[1] Kami ringkas dari kitab Ma’alim fi Thoriq Tholabil ‘Ilmi hal. 106-107 terbitan Darul ‘Ashomah, Riyadh, KSA tahun 1433 H

[2] Siyar Al ‘Alam Nubala’ hal. 74/V.

[3] Ar Ruh hal. 345/I.

Tulisan Terkait

Leave a Reply