Sedih Kita Berbeda dengan Sedih Mereka

23 Mar

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Sedih Kita Berbeda dengan Sedih Mereka

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Setiap orang insya Allah pernah sedih. Sebabnya berbeda-beda sesuai kondisi seseorang. Ada yang sedih ketika kedua orang tuanya tiada. Ada yang sedih ketika buah hatinya tiada. Ada yang sedih karena hartanya berkurang. Demikian seterusnya.

Kita sepakat bahwa generasi terbaik ummat manusia setelah para Nabi dan Rosul ‘alaihimussalam adalah para shahabat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Itulah firman Allah Subhana wa Ta’ala,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia”. (QS. Ali ‘Imron [3] : 110)

Kemudian kita tentu pernah membaca Firman Allah Ta’ala yang berisi permisalan di dalam Al Qur’an, seperti ayat berikut,

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit”. (QS. Ibrohim [14] : 24)

Ketika membaca ayat yang berisi permisalan demikian seorang shahabat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang bernama ‘Amru bin Murroh bertutur,

ما مررت بآية من كتاب الله لا أعرفها إلا أحزنني، لأني سمعت الله تعالى يقول: { وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ } .

“Tidaklah aku membaca melalui sebuah ayat dalam Kitab Allah yang aku tidak mengetahuinya melainkan membuatku sedih. Karena aku pernah mendengar Allah Ta’ala berfirman,

وَتِلْكَ الأمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلا الْعَالِمُونَ

“Perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia. Tiada yang dapat memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu”. (QS. Al Ankabut [29] : 43)[1]

Ibnul Qoyyim Rohimahullah menuturkan,

Sedih Kita Berbeda dengan Sedih Mereka 1

Sebagian shahabat biasanya ketika membaca ayat dan melalui permisalan (yang ada dalam Al Qur’an –pen) yang tidak dapat dia pahami lantas menangis kemudian bertutur, “Aku bukan termasuk orang yang ‘alim (berilmu)”

Beliau juga berkata,

Sedih Kita Berbeda dengan Sedih Mereka 2

“Di dalam Al Qur’an terdapat sekitar 40 an permisalan”[2].

Pertanyaannya

 Sudahkah kita bisa mengambil faidah dari permisalan yang ada dalam Al Qur’an ??!!

Sedihkah kita ketika membaca ayat yang tidak kita pahami ??!!!

 

Mari instropeksi dimana hati kita, pada apa dia tertambat ??!!

Mudah-mudahan bermanfaat

 

Setelah subuh sebelum berangkat kerja, 14 Jumadil Akhir 1437 H, 23 Maret 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir hal. 280/VI terbitan Dar Thoyyibah, KSA.

[2] Lihat Miftah Daris Sa’adah hal. 226/I terbitan Dar Ibnu Affan.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply