Romantisme Bersama Dengan Istri Tercinta

19 Nov

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Romantisme Bersama Dengan Istri Tercinta

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Kembali ke tema hubungan, romantisme antara suami istri. Sering bahkan hampir-hampir pasti ketika seorang pemuda dan seorang pemudi hendak menikah, membaca teori-teori, penelitian, artikel yang memuat bagaimana memupuk romantisme bersama istri atau suami yang berasal dari ahli asing, akademisi dan pengamat. Sehingga terkadang kita lupa firman Allah ‘Azza wa Jalla,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرً

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al Ahzab [33] : 21)

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

Romantisme1

“Ayat yang mulia ini merupakan dalil utama tentang meneladani Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dalam ucapan, perbuatan dan keadaannya/ikhwal[1].

Mari kita perhatikan akhir ayat yang mulia ini, Allah Subhana wa Ta’ala mengatakan bahwa orang-orang yang menjadikan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai tauladan dalam semua masalah baik perkataan, perbuatan dan keadaan/ikhwal hanyalah orang-orang yang berharap rahmat Allah, hari akhir dan banyak mengingat Allah ‘Azza wa Jalla.

Maka mari saudaraku saudariku, kita buka kembali, gali kembali tuntunan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dalam menggapai rumah tangga idaman, rumah tangga yang menghantarkan anggotanya ke surga Allah ‘Azza wa Jalla.

Diantara romantisme Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dengan istrinya adalah mandi bersama dengan istri beliau.

 [1]. Ketika Bersama ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha,

قَالَتْ عَائِشَةُ كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ وَنَحْنُ جُنُبَانِ.

‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha mengatakan, “Aku dan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mandi bersama dalam suatu wadah yang sama sedangkan kami berdua dalam keadaan junub”[2].

Hadits ini diletakkan oleh Imam Bukhori Rohimahullah dalam kitab Shohihnya dengan Judul Bab, ‘Bab Ghusli ar Rojuuli ma’a Imroatihi’ yaitu Bab Mandi Seorang Suami Bersama Istrinya. Artinya beliau Rohimahullah juga memperhatikan masalah ini. Jika hal ini tidaklah penting atau tidak bermanfaat maka tentulah beliau tidak membuat judul bab demikian mengingat Kitab Shohih Bukhori ini merupakan kitab teragung karya Imam Bukhori Rohimahullah yang tentu beliau susun dengan penuh perhatian dan kehati-hatian.

 

[2]. Ketika Bersama Ummu Salamah[3] Rodhiyallahu ‘anha,

…وَكُنْتُ أَغْتَسِلُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ قَالَتْ وَكَانَ يُقَبِّلُ وَهُوَ صَائِمٌ

“…. Aku (Ummu Salamah) pernah mandi bersama Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dalam sebuah wadah yang sama. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menciumku sedangkan beliau sedang dalam keadaan berpuasa”[4].

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menikahi Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anha yang berstatus janda yang ditinggal wafat suaminya Abu Salamah Rodhiyallahu ‘anhu. Disebutkan usia Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anha ketika Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menikahinya adalah 62 tahun. Namun lihatlah betapa romantisme Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak termakan usianya juga istrinya.

 

[3]. Ketika Bersama Maimunah Rodhiyallahu ‘anha,

عَنْ ابنِ عَبَّاسٍ : أَنَّ النَّبِيَ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ وَمَيْمُوْنَةَ كَانَا يَغْتَسِلَانِ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ

Dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma, Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan Maimunah keduanya pernah mandi bersama dalam suatu wadah yang sama[5].

Disebutkan bahwa Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menikahi Maimunah Rodhiyallahu ‘anha seorang janda dari kabilah kinanah yang ketika itu berusia 63 tahun. Namun sama seperti Ummmu Salamah Rodhiyallahu ‘anha, kisah romantisme Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak lekang oleh usia.

Inilah tauladan romantisme yang sudah selayaknya ditiru kaum muslimin dalam keluarganya. Riwayat-riwayat ini tentulah lebih utama untuk kita ikuti daripada sekedar teori yang berasal dari orang-orang yang tidak dijamin oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh beliaulah contoh terbaik kita dalam memupuk romantisme antara suami dan istri. Terbukti sudah romantisme beliau tidak lekang oleh zaman dan usia. Allahu akbar.

 

 

Jika ada yang bertanya ‘Jika mandi bersama, apakah boleh seorang suami melihat aurot istrinya ? atau sebaliknya ?’

 

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan ketika menjelaskan hadits ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha di atas,

Romantisme2

Ad Dawudiy Rohimahullah berdalil dengan hadits ini bahwa seorang suami boleh melihat aurot istriya dan sebaliknya (istri boleh melihat aurot suaminya –pent.). Hal ini dikuatkan atsar yang diriwayatkan Ibnu Hibban dari jalur Sulaiman bin Musa bahwasanya dia ditanya tentang seorang suami yang melihat kemaluan istrinya maka beliau menjawab, aku pernah bertanya hal itu kepada Atho’ dan dia mengatakan, ‘Aku pernah bertanya kepada ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha maka beliau menyebutkan hadits ini dengan maknanya’.

Hadits ini merupakan nash/dalil tegas seputar masalah ini (bolehnya suami mandi bersama istrinya dan bolehnya suami melihat kemaluan istrinya -pent). Allahu a’lam[6].

 

 

 

Setelah Isya’ 18 Muharrom 1436 H/ 10 Nopember 2014 M. Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir hal. 391/VI terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA

[2] HR. Bukhori no. 316, Muslim no. 321.

[3] Dinikahi Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam setelah perang uhud.

[4] HR. Bukhori no. 316, Muslim no. 296, Ahmad no. 26745.

[5] HR. Bukhori no. 250, Muslim no. 322.

[6] Lihat Fathul Bari hal. 619/I.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply