Qurban Bukan Sekedar Menyembelih Hewan

19 Sep

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Qurban Bukan Sekedar Menyembelih Hewan

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Ketika Khutbah ‘Idul Adha sering sekali para khotib mengisahkan kepada kita tentang bagaimana dialog antara Nabi Ibrohim dengan Nabi Isma’il ‘Alaihima Salam. Kisah tersebut termaktub dalam surat Ash Shoffat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101) فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

“Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar (Isma’il). Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ‘Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu’. Ia menjawab, ‘Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS. Ash Shoffat [37] : 101-102).

Hingga pada ayat 107 ketika Allah ‘Azza wa Jalla mengganti Nabi Isma’il ‘Alaihissalam dengan sembelihan yang agung,

وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar”. (QS. Ash Shoffat [37] : 108).

Kisah ini sudah sangat sering disampaikan. Namun ada faidah menarik yang disampaikan Ibnul Qoyyim Rohimahullah tentang kisah ini[1],

Qurban Bukan Sekedar Menyembelih Hewan 1

“Tatkala Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam berdo’a meminta diberikan anak maka Allah pun mengabulkan do’anya. Kemudian hati beliau terikat dengan kecintaan terhadap anaknya. Hingga cinta beliaupun bercabang. Maka Robb nya pun cemburu terhadap kekasih Nya (Nabi Ibrohim –pen.) karena di dalam hati kekasih Nya ada ruang untuk selain Nya. Lalu Allah pun memerintahkan beliau untuk menyembelih anaknya. Perintah tersebut didapat melalui wahyu di dalam mimpi supaya pelaksanaannya menjadi ujian dan cobaan yang lebih berat. Namun maksud sebenarnya dari perintah tersebut bukanlah untuk menyembelih anaknya. Bahkan maksudnya adalah untuk menyembelih rasa cinta terhadap anaknya dari hatinya hingga di hati beliau hanya murni kecintaan kepada Robb nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika beliau bersegera melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya dan mengedepankan kecintaan kepada Robb nya daripada kecintaan kepada sang putra maka terwujudlah tujuan. Sehingga perintah penyembelihan anaknya pun dicabut dan digantikan dengan penyembelihan hewan qurban yang besar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidaklah memerintahkan sesuatu kemudian mencabutnya secara menyeluruh. Bahkan akan tersisa sebagian dari perintah tersebut atau Allah menggantinya sebagaimana tetap disyari’atkannya perintah menyembelih hewan qurban. Demikian juga tetapnya perintah memberikan sedekah sebelum bercengkrama dengan Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam. Sebagaimana pula tetap diperintahkannya sholat setelah Allah cabut kewajiban melaksanakannya sebanyak 50 kali. Namun pahala mengerjakannya tetap tidak dihapus. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman dalam hadits qudsi,

لَا يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَيَّ , هِيَ خَمْسٌ فِيْ الْفِعْلِ , وَهِيَ خَمْسُونَ فِي الْأَجْرِ

“Perintah Ku tidak dapat diubah. Ia adalah sholat yang dikerjakan 5 kali namun pahalanya (tetap sebagaimana sholat –pen.) lima puluh (kali –pen.)”[2].

Inilah salah satu sebab mengapa Nabi Ibrohim ‘Alaihissalam mendapat predikat kekasih Allah yang paling mulia bersama Nabi Muhammad Shollalahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana terdapat dalam sebuah hadits,

فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى قَدِ اتَّخَذَنِى خَلِيلاً كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلاً

“Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menjadikanku sebegai kekasih Nya sebagaimana dia juga menjadikan Ibrohim sebagai kekasih Nya”[3].

Mari jadikan ibadah kita lebih bermakna dan lebih bernilai di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dengan memenuhi hati kita dengan kecintaan kepada Nya.

 

Sebelum Subuh 17 Jumadil Ullaa 1436 H/8 Maret 2015 M.

 

Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Ad Da’u wa Ad Dawa’u oleh Ibnul Qoyyim tahqiq Syaikh ‘Ali Al Halabiy hal. 272 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh KSA tahun 1429 H.

[2] HR. Bukhori no. 7517 dan Muslim no. 162 dari Shahabat Anas Rodhiyallahu ‘anhu.

[3] HR. Muslim no. 532 dari shahabat Jundub Rodhiyallahu ‘anhu.

 

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply