Pelajaran Tauhid dan Adab dari Mudik

13 Jul

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Pelajaran Tauhid dan Adab dari Mudik

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Seorang muslim selayaknya untuk senantiasa memikirkan dan mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa yang dilaluinya. Salah satunya adalah dari mudik. Orang yang mudik tentulah bersafar. Ketika kita sedang bersafar tentulah kita akan menemui berbagai macam rintangan dan peristiwa. Tak jarang kita mengalami berbagai peristiwa yang memancing emosi kita disebabkan kesusahan yang ada diperjalanan. Sungguh benar sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang mana beliau menyifati safar sebagai sebuah potongan adzab.

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ

“Safar merupakan sebuah potongan dari adzab”[1].

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,

Pelajaran Tauhid dan Adab dari Mudik 1

“Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ) yaitu bagian dari adzab. Sedangkan yang dimaksud dengan adzab di sini adalah rasa sakit yang muncul dari kesusahan yang didapat ketika berkendara atau berjalan serta tidak bersama (keluarga –pen)”[2].

Demikianlah safar, seenak-enaknya safar tentulah lebih nyaman ketika tidak safar.

Oleh sebab itulah kita perlu mempersiapkan diri kita, keimanan kita sebelum bersafar. Diantara adab yang diajarkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ketika bersafar adalah membaca do’a ketika naik kendaraan. Do’a dan tata cara ini merupakan metode yang diterapkan oleh ‘Ali bin Abi Tholib Rodhiyallahu ‘anhu,

فَلَمَّا وَضَعَ رِجْلَهُ فِى الرِّكَابِ قَالَ بِسْمِ اللَّهِ فَلَمَّا اسْتَوَى عَلَى ظَهْرِهَا قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ ثُمَّ قَالَ (سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ) ثُمَّ قَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ. ثَلاَثَ مَرَّاتٍ. ثُمَّ قَالَ اللَّهُ أَكْبَرُ. ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ثُمَّ قَالَ سُبْحَانَكَ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَاغْفِرْ لِى فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ. ثُمَّ ضَحِكَ فَقِيلَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَىِّ شَىْءٍ ضَحِكْتَ قَالَ رَأَيْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَعَلَ كَمَا فَعَلْتُ ثُمَّ ضَحِكَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنْ أَىِّ شَىْءٍ ضَحِكْتَ قَالَ « إِنَّ رَبَّكَ يَعْجَبُ مِنْ عَبْدِهِ إِذَا قَالَ اغْفِرْ لِى ذُنُوبِى يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ غَيْرِى ».

Ketika ‘Ali meletakkan kakinya di kendaraannya, beliau berucap, (بِسْمِ اللَّهِ) ‘Dengan menyebut nama Allah’. Kemudian ketika beliau telah duduk di atas kendaraannya, beliaupun berucap, (الْحَمْدُ لِلَّهِ) ‘Segala puji hanya milik Allah’. Kemudian beliau membaca,

سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ

‘Maha Suci Dzat yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”. (QS. Az Zukhruf [43] : 13-14)

Kemudian beliau mengucapkan, (الْحَمْدُ لِلَّهِ) ‘Segala puji hanya milik Allah’ sebanyak 3 kali. Lalu mengucapkan, (اللَّهُ أَكْبَرُ) ‘Allah Maha Besar’ sebanyak 3 kali. Kemudian mengucapkan,

سُبْحَانَكَ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَاغْفِرْ لِى فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Maha Suci Engkau (Allah), sesungguhnya aku telah menzholimi diriku sendiri, sesungguhnya tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”.

Kemudian beliau tersenyum. Lalu ada yang bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, mengapa anda tersenyum ?” Beliaupun menjawab, “Aku melihat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melakukan sebagaimana yang telah aku lakukan tadi, kemudian beliaupun tersenyum. Lantas akupun bertanya, “Wahai Rosulullah mengapa anda tersenyum ?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Robbmu takjub kepada hamba-hamba Nya ketika dia mengucapkan ‘Ampunilah dosa ku’ padahal dia tahu bahwasanya tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosanya selain Aku (Allah)”[3].

Adab berkendara yang dapat dipetik dari hadits ini :

  1. Ketika anda hendak menaiki kendaraan ucapkanlah Bismillah.
  2. Ketika anda telah berada mantap di atas kendaraan maka ucapkanlah Alhamdulillah.
  3. Setelah itu bacalah potongan Firman Allah dalam Surat Az Zukhruf ayat 13-14.
  4. Setelah itu, ucapkanlah Alhamdulillah sebanyak 3x dan Allahu Akbar sebanyak 3x.
  5. Kemudian bacalah dzikir (سُبْحَانَكَ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَاغْفِرْ لِى فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ) ‘Maha Suci Engkau (Allah), sesungguhnya aku telah menzholimi diriku sendiri, sesungguhnya tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau’.

 

Adapun pelajaran Tauhid yang dapat diambil dari hadits ini adalah :

  1. Ketika seseorang membaca bismillah maka sesungguhnya dia sedang bertabarruk dengan menyebut Nama Allah sekaligus beristi’anah (memohon bantuan) Allah ‘Azza wa Jalla[4].
  2. Seorang muslim selayaknya mengawali tindakan dan aktifitasnya karena Allah ‘Azza wa Jalla. Ketika dia bersafar hendaklah dia bersafar karena Allah. Safarnya tersebut tidak dia kerjakan dalam rangka bermaksiat kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
  3. Ketika dia telah mendapatkan kemudahan dari Allah, dalam hal ini mampu menaiki kendaraan dengan tenang maka dia selayaknya memuji Allah Subhana wa Ta’ala atas nikmat yang telah diberikan kepadanya[5].
  4. Ada pelajaran aqidah penting ketika seseorang membaca ayat pada surat Az Zukhruf di atas. Ketika kita renungkan mengapa bunyi teks ayatnya menggunakan tasbih bukan tahmid ? Maka salah satu hikmahnya adalah sebagaimana yang disampaikan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah berikut,

Pelajaran Tauhid dan Adab dari Mudik 2

“Orang yang mentadabburi seseorang yang mengucapkan (الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا) “Segala puji milik Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami” padahal yang diperintahkan kepada kita adalah mengucapkan, (سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هَذَا) “Maha Suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami”. Mengapa demikian ? Karena kalimat (سُبْحَانَ) memiliki arti mensucikan, yaitu mensucikan Allah ‘Azza wa Jalla dari shifat ketergantungan dan kekurangan. Ketika seseorang sedang berkendara dengan kapal ataupun hewan tunggangan, dia seolah-olah merasa bahwas dia sangat membutuhkan kendaraan dan sangat berharap pada bantuan dengan kendaraan tersebut untuk menunaikan hajatnya (selamat berkendara –pen). Maka ketika itu dia diperintahkanlah untuk bertashbih/mensucikan Allah ‘Azza wa Jalla (agar kembali menyadari bahwa –pen) Allah adalah Dzat tidak membutuhkan seluruh ciptaan Nya. Oleh sebab itulah tashbih lebih pas untuk keadaan ini”[6].

Artinya ketika kita sedang berkendara boleh jadi hati kita sangat bergantung dengan kendaraan tersebut sehingga lupa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Oleh sebab itulah kita diperintahkan untuk bertasbih untuk mensucikan Allah. Agar kita kembali menyadari bahwasanya Allah ‘Azza wa Jalla sajalah yang layak kita merasa tergantung dengan Nya. Karena Dialah Dzat Yang Maha Tidak Membutuhkan Makhluk Nya.

  1. Ketika seorang muslim mengucapkan ayat ini maka dia tidak akan ujub/sombong dengan kecanggihan teknologi kendaraan yang dia gunakan. Karena sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menundukkan kendaraan tersebut untuknya.
  2. Ketika seorang muslim mengucapkan ayat ini maka dia juga akan tersadarkan kembali bahwa kehidupan ini akan berakhir dan akhir perjalannya akan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

Pelajaran Tauhid dan Adab dari Mudik 3

“Ketika seseorang mengendarai kendaraan ini untuk bersafar maka seolah-olah dia diingatkan tentang safar terakhir dari dunia ini. Yaitu perjalanan seseorang menuju Allah ‘Azza wa Jalla ketika dia telah mati kelak”[7].

Ketika dia menyadari demikian maka dia harus mempersiapkan safarnya menuju Allah ‘Azza wa Jalla ketika mati dengan bekal taqwa.

  1. Setelah membaca potongan ayat di atas, kita diajarkan untuk bertahmid dan bertakbir. Kita bertahmid untuk memuji Allah, menyakini bahwasanya semua kemudahan yang kita dapatkan dari kendaraan dan saat berkendara datangnya semata dari Allah ‘Azza wa Jalla. Kemudian kita bertakbir untuk mengagungkan Allah karena sebesar apapun kemampuan kita dalam mengendalikan kendaraan kita tetaplah kerdil. Allah lah Dzat Yang Maha Besar.
  2. Kita diajarkan untuk berdo’a meminta ampunan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala :

سُبْحَانَكَ إِنِّى ظَلَمْتُ نَفْسِى فَاغْفِرْ لِى فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ أَنْتَ

“Maha Suci Engkau (Allah), sesungguhnya aku telah menzholimi diriku sendiri, sesungguhnya tidak ada yang mampu mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau”.

untuk memohon ampunan dari Allah ‘Azza wa Jalla atas dosa-dosa yang telah kita lakukan sebelum melaksanakan safar maupun ketika safar.

 

Semoga bermanfaat menjadi bahan renungan dan petunjuka beramal.

 

Sigambal, 8 Syawwal 1437 H / 13 Juli 2016 M.

 

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

[1] HR. Bukhori no. 1804, Muslim no. .

[2] Lihat Fathul Bari hal. 46/V terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[3] HR. Abu Dawud no. 2902, Tirmidzi no. 2446. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[4] Lihat Tafsir Juz ‘Amma oleh  Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rohimahullah hal. 8 terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

[5] Lihat Muro’atul Mafatih Syarh Misykatul Mashobih hal. 187/VIII terbitan Benares India (Via Syamilah).

[6] Syarh Riyadhus Sholihin hal. 601-602/IV terbitan Madarul Wathon, Riyadh, KSA.

[7] Idem hal. 602/IV.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply