Metode Menuntut Ilmu

23 Apr

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Metode Menuntut Ilmu

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Ilmu merupakan sebuah hal yang sangat urgen dalam segala hal. Urusan dunia dapat digapai dengan ilmu. Ilmu dalam urusan agama lebih urgen lagi dibandingkan urusan duniawi. Sebab demikian pentingnya ilmu, maka perlu diketahui bagaimana metode dalam mendapatkan ilmu agama tersebut. Simak penuturan salah seorang ulama tersohor di abad kita ini.

 

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan[1],

“Agar ilmu itu dapat digapai dengan 2 metode.

Metode Pertama, mengambilnya dari kitab-kitab yang terpercaya. Kitab yang ditulis oleh para ulama yang sudah terkenal mumpuni ilmunya, amanah ilmiyahnya dan selamat aqidahnya dari bid’ah serta khurofat.

Namun seseorang yang mengambil ilmu dari isi kitab tentu akan menemui, menjumpai batas yang disana ada 2 rintangan.

Rintangan Pertama, waktu yang lama. Sebab seseorang tentu memerlukan waktu lama dan rintangan yang hebat, kesungguhan yang besar hingga dia mendapatkan ilmu yang dia inginkan. Kebanyakan orang tidak kuat memikul rintangan ini. Apalagi dia melihat banyak orang di sekelilingnya banyak yang menghabiskan waktunya dengan hal yang tidak berfaidah. Rasa malas, bosan akan menghinggapinya hingga dia tidak tahu lagi apa yang sebenarnya dia inginkan/cari”.

Rintangan kedua, sesungguhnya orang yang mengambil ilmu (hanya) dari buku semata pada umumnya ilmunya lemah, tidak dibangun di atas kaidah dan dasar. Oleh sebab itulah kita dapati pada orang yang mengambil ilmu dari kitab (semata) mereka tidak memiliki kaidah dan ushul/dasar yang duduk dan yang dapat dibangun di atasnya berbagai permasalahan yang ada di Al Qur’an dan hadits”.

“Kita dapati sebagian orang yang dia membawakan/berdalil dengan sebuah hadits yang tidak terdapat dalam kita-kitab hadits yang menjadi rujukan utama baik dari berbagai kitab shahih ataupun musnad-musnad. Ini merupakan metode yang menyimpang dari ushul pegangan di kalangan para ulama pun demikian orang awamnya. Lalu dia menjadikan hadits tersebut sebagai pegangan yang dibangun di atasnya aqidah. Tentu ini tidak diragukan lagi merupakan sebuah kesalahan. Sebab Al Qur’an dan Hadits pada keduanya ada ushul/dasar yang (dibangun) di atasnya masalah-masalah parsial/turunan. Maka sudah seharusnya masalah turunan tersebut dirujuk kepada ushul/pokok. Dalam artian bila kita mendapati pada masalah turunan tersebut ada sesuatu yang menyelisihi ushul ini dengan perselisihan yang tidak dapat dikompromikan maka sikap kita adalah meninggalkan/membuang turunan tersebut”.

Metode Kedua, mengambil ilmu tersebut dari seorang mu’allim/guru yang ilmu dan agama/amalnya terpercaya. Inilah metode yang paling cepat dan kokoh dalam mendapatkan ilmu. Sebab boleh jadi seseorang akan tersesat ketika menempuh metode pertama dalam keadaan dia tidak tahu kalau dia keliru boleh jadi karena buruknya pemahamannya, kedangkalan ilmunya atau sebab sebab lainnya”.

“Adapun pada metode kedua ini maka di sana ada soal jawab, tanya jawab bersama guru tersebut. Sehingga terbukalah baginya berbagai pintu dalam memahami, tahqiq, bagaiamana mempertahankan pendapat yang shohih dan membantah pendapat yang lemah. Namun bila seorang penuntut ilmu mampu menggabungkan kedua metode ini  tentu akan semakin sempurna dan lengkap. Hendaklah seorang penuntut ilmu memulai dengan ilmu yang paling penting kemudian yang di bawahnya. Ilmu-ilmu yang ringkas sebelum ilmu yang njelimet, ruwet. Hingga dia dapat meniti jalan menanjak dari satu tingkatan menuju tingkatan atas berikutnya. Janganlah dia menaiki tingkatan yang lebih tinggi sebelum mantap, kokoh tingkatan sebelumnya agar pendakian berikutnya selamat”. Sekian ucapan beliau Rohimahullah.

Ringkasnya metode dalam menuntut ilmu agama ada 2 :

  1. Membaca buku pegangan yang terpercaya yang disusun oleh ulama terpercaya pula.
  2. Mendengarkan, mencatat dan bertemu langsung dengan guru, ustadz, kiyai atau syaikh dan menimba ilmu darinya.
  3. Jalan yang paling sempurna adalah sambil menimba ilmu dari sang guru hendaknya kita memperkaya bacaan dan menelaah di rumah. Apabila ada benturan diskusikan dengan sang guru.

 

Allahu a’lam.

Selepas Subuh, 22 Rojab 1438 H | 19 April 2017,

Aditya Budiman bin Usman

-mudah mudahan Allah mengampuni dosa kami, orang tua kami dan seluruh kaum muslimin-

[1] Lihat Kitabul Ilmu hal. 68-70 terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

Tulisan Terkait

One Comment ( ikut berdiskusi? )

  1. Asroel
    May 16, 2017 @ 11:33:39

    Alhamdulillah, mohon izin untuk berbagi.

    Reply

Leave a Reply