Menyambung Tali Silaturahim Yang Keren

28 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Menyambung Tali Silaturahim Yang Keren

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Menyambung tali kekerabatan atau yang dalam istilah agamanya tali silaturahim memiliki kedudukan yang mulia di dalam agama kita. Salah satu keutamaanya adalah apa yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla dalam hadits qudsi.

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا الرَّحْمَنُ خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا اسْمًا مِنَ اسْمِى فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلْتُهُ وَمَنْ قَطَعَهَا بَتَتُّهُ

“Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Aku adalah Ar Rohman, Aku ciptakan rahim dan aku jadikan rahim merupakan pecahan kata dari nama Ku. Barangsiapa yang menyambungnya Aku akan menyambungkannya. Barangsiapa yang memutusnya maka aku akan memutuskannya”[1].

Masih banyak keutamaan lainnya yang disebutkan dalam Al Qur’an dan hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Namun kita tidak sedang membahas keutamaan menyambung tali silaturahim. Melainkan kita akan mengetengahkan sebuah hal yang merupakan bentuk menyambung tali silaturahim namun kebanyakan kita mengira bahwa hal ini tidak termasuk menyambung tali silaturahim.

Imamnya para ahli hadits Muhammad bin Isma’il Al Bukhori Rohimahullah membuat satu judul bab dalam kitab Adabul Mufrodnya dengan Bab Wujubu Silatirrohim (Bab Wajibnya Menyambung Tali Silaturahim),

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنَ إِسْمَاعِيْلَ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَّانَةِ عَنْ عَبْدِ المَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ مُوْسَى بنِ طَلْحَةَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ : لَمَّا أُنْزِلَتْ هَذِهِ الآيَةُ (وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ) قَامَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَنَادَى : يَا بَنِى كَعْبِ بْنِ لُؤَىٍّ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ يَا بَنِى عَبْدِ مَنَافٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ يَا بَنِى هَاشِمٍ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ يَا بَنِى عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنْقِذُوا أَنْفُسَكُمْ مِنَ النَّارِ يَا فَاطِمَةُ أَنْقِذِى نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ فَإِنِّى لاَ أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلاَلِهَا.

Musa bin Isma’il telah menceritakan kepada kami, dia mengatakan, Abu Awwanah telah menceritakan kepada kami dari ‘Abdul Malik bin ‘Umair dari Musa bin Tholhah dari Abu Huroiroh. Dia berkata, “Ketika turun ayat ini,

وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ

“Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”.

(QS. Syu’aro [26] : 214)

Maka Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun berdiri dan memanggil, “Wahai Bani Ka’ab bin Luay, selamatkanlah, bebaskanlah diri kalian dari Neraka. Wahai Bani Abul Manaf, selamatkanlah, bebaskanlah diri kalian dari Neraka. Wahai Bani Hasyim, selamatkanlah, bebaskanlah diri kalian dari Neraka. Wahai Bani ‘Abdul Muthollib, selamatkanlah, bebaskanlah diri kalian dari Neraka. Wahai Fathimah, selamatkanlah, bebaskanlah dirimu dari Neraka sebab aku tidak punya kuasa sedikit pun atas di dirimu di hadapan Allah selain karena aku dan kalian memiliki hubungan rahim di dunia”[2].

Syaikh Husain Al ‘Uwaisyah Hafizhahullah mengatakan,

“Silaturahim merupakan ungkapan dari berbuat baik kepada para kerabat yang memiliki hubungan nasab dan kekerabatan, belas kasih, lemah lembut atas mereka serta memperhatikan keadaan-keadaan mereka. Baik yang jauh jaraknya atau yang berbuat buruk pada anda. Sedangkan memutus tali silaturahim merupakan kebalikannya. Sehingga berbuat baik kepada mereka seolah-olah anda telah menyambung tali kekerabatan yang ada di antara anda dengan mereka. Silakan lihat Kitab An Nihayah[3].

 

Penulis Rosyul Barod Syarh Adab Al Mufrod mengatakan[4],

من معاني صلة الرحم إنذار الأقراب من النار و حثهم على الأعمال الصالحة لإنقاذهم من سخط الله و عذابه

Termasuk dalam makna silaturahim memperingatkan karib kerabat dari api neraka dan mendorong mereka untuk melakukan berbagai amal sholeh agar mereka terlepas, terbebas dari murka dan adzab Allah”.

Imam Bukhori memasukkan hadits ini dalam Bab Wujubu Silatirrohim (Bab Wajibnya Menyambung Tali Silaturahim) menunjukkan apa yang disebutkan di atas yaitu isyarat dari beliau bahwa berdakwah, memberikan peringatan dan mengajak beramal sholeh dan berbagai cara/washilah dakwah yang lainnya merupakan salah satu bagian dari silaturahim kepada para kerabat kita. Sebab ketika ayat 214 dalam surat Asy Syu’aro di atas turun, Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam langsung berdiri dan menyeru para kerabat beliau dan memberitahukan bahwa kedekatan nasab dengan beliau tidak berpengaruh di sisi Allah ‘Azza wa Jalla jika tidak dibarengi dengan iman dan amal sholeh.

Oleh sebab itu, ketika kita sedang berkunjung, menyambung tali silaturahim dengan saudara-saudara kita hendaknya kita juga sambilkan untuk berdakwah kepada mereka. Tidak mesti dengan membawa buku, kitab atau hafal dalilnya. Namun yang terpenting dalam dakwah dengan keluarga adalah sikap dan perilaku kita dapat mencerminkan pengamalan dari ilmu kita serta memilih cara penyampaian yang terbaik/hikmah. Susah memang, namun jika belum mampu dengan lisan langsung maka jangan sampai kita lupa mendo’akan hidayah dan kebaikan kepada mereka. Allahu a’lam.

Terakhir, Penulis Faidhul Qodir Rohimahullah mengatakan[5],

أنذرهم وإن لم يسمعوا قولك أو لم يقبلوا نصحك لكونهم أزهد الناس فإن ذلك ليس عذرا مسقطا للتبليغ عنك

Peringatkanlah mereka walaupun mereka tidak mendengarkan apa yang anda sebutkan, peringatkanlah mereka walaupun mereka tidak menerima nasihat anda dikarenakan mereka adalah orang-orang yang paling enggan menerima. Sebab hal itu bukanlah udzur yang menggugurkan adanya penyampaian (nasihat dan peringatan) dari anda”.

Artinya walaupun nasihat yang anda sampaikan tidak didengar, maka janganlah hal itu membuat anda berhenti menasihati mereka. Allahu a’lam.

 

 

Sigambal, 27 Robi’ul Akhir 1439 H / 14 Januari 2018 M

 

Aditya Budiman bin Usman

[1] HR. Abu Dawud no. 1696, Ahmad no. 1680. Dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[2] HR. Bukhori no. 2753 dan Muslim no. 348.

[3] Lihat Syarh Shohih Adabul Mufrod hal. 63/I terbitan Maktabah Islamiyah, Amman, Yordania.

[4]  Hal. 44 terbitan Dar Ad Da’i, Riyadh, KSA.

[5] Hal. 617/I via Maktabah Syamilah.

Tulisan Terkait

Leave a Reply