Mengganti Lafazh Do’a Dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam Dengan Buatan Sendiri

18 Sep

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mengganti Lafazh Do’a Dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam Dengan Buatan Sendiri

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Judul di atas merupakan sebuah gambaran sekaligus mungkin pertanyaan sebagian kita baik yang sudah terucap atau yang masih di dalam benak. Inilah yang akan coba kita singgung dalam artikel kali ini.

Gambaran permasalahannya adalah : misal ada dzikir atau do’a yang diriwayatkan dengan riwayat yang shohih bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah mengucapkannya dalam suatu keadaan dan kondisi. Lalu apakah boleh kita menggantinya dengan lafazh yang kita buat sendiri ?

Maka Syaikh Bakr bin ‘Abdullah Abu Zayd Rohimahullah mengatakan[1],

larangan mengganti lafazh1

“Larangan mengganti lafazh yang diriwayatkan dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dengan lafazh yang tidak diriwayatkan dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Dari Shahabat Al Baroo’ bin ‘Aazib Rodhiyallahu ‘anhuma beliau mengatakan, ‘Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إِذَا أَتَيْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ وَقُلِ اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِى إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِى إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ فَإِنْ مِتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ فَأَنْتَ عَلَى الفِطْرَةِ وَاجْعَلْهُنَّ آخِرَ مَا تَتَكَلَّمُ بِهِ. قَالَ فَرَدَدْتُهَا عَلَى النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ فَلَمَّا بَلَغْتُ اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أُنْزِلْتَ قَلَتْ وَرَسُوْلِكَ قَالَ لاَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ

“Jika salah engkau mendatangi tempat tidurmu (hendak tidur -ed) maka berwudhulah sebagaimana wudhumu ketika hendak sholat. Kemudian berbaringlah dengan sisi badanmu yang kanan dan ucapkanlah :

اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ وَجْهِى إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِى إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِى إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَى مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ اللهم آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِى أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ

“Ya Allah, aku menyerahkan wajahku kepadaMu, aku menyerahkan urusanku kepadaMu, aku menyandarkan punggungku kepadaMu, karena penuh harapan (mendapatkan rahmatMu) dan takut pada (siksaanMu). Tidak ada tempat perlindungan dan penyelamatan dari (ancaman)Mu, kecuali kepadaMu. Aku beriman pada kitab yang telah Engkau turunkan, dan (kebenaran) NabiMu yang telah Engkau utus”.

(Kemudian Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan), “Jika engkau meninggal pada malam itu maka engkau meninggal di atas fitroh (Islam) dan jadikanlah dzikir tersebut adalah akhir yang engkau ucapkan”.

Kemudian aku mengulangi ucapan yang beliau ajarkan tersebut di hadapan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan ketika aku sampai pada kalimat :

اللَّهُمَّ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أُنْزِلْتَ

“Yaa Allah aku beriman kepada kitab Mu yang engkau turunkan……”

Kemudian aku ucapkan :

وَرَسُوْلِكَ

“Dan Rosul Mu……”

Lalu beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan,

لاَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ

“Tidak demikian namun ucapkanlah :

وَبِنَبِيِّكَ الَّذِى أَرْسَلْتَ

“Dan dengan Nabi Mu yang Engkau utus”[2].

 

Ibnu Hajar Rohimahullah mengutip perkataan Al Khoththobiy Rohimahullah dalam Fathul Baari berkaitan dengan perkataan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam di atas,

larangan mengganti lafazh2

“… Atau karena Lafazh-lafazh dzikir bersifat tauqifiyah/wahyu ilahiyah[3] dalam penentuan lafazh dan penentuan pahala[4].

Ditempat lain beliau Rohimahullah mengatakan,

larangan mengganti lafazh3

“Yang paling utama berkaitan dengan hikmah mengapa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menolak/mengulangi/membenarkan ucapan Al Baroo’ bin ‘Aazib Rodhiyallahu ‘anhuma adalah karena Lafazh-lafazh dzikir bersifat tauqifiy/wahyu ilahiyah, padanya ada kekhususan dan rahasia serta tidak boleh qiyas dalam hal ini. Sehingga wajib mengahafal/mengucapkan/membaca sesuai lafazh sesuai yang diriwayatkan.

Inilah pendapat Al Maazariy Rohimahullah”. Beliau (Al Maazariy) mengatakan, “Maka membatasi diri dengan lafazh yang diriwayatkan sesuai dengan huruf-hurufnya/tekstual. Balasan pahala dikaitkan jika menggunakan lafazh tersebut. Juga karena inilah lafazh yang diwahyukan sehingga wajib membacanya sesuai lafazh tersebut[5].

 

Al Imam Nawawiy Rohimahullah mengontari pendapat Al Maazariy Rohimahullah di atas dengan mengatakan,

larangan mengganti lafazh4

“Ini adalah pendapat yang benar/baik[6].

Demikianlah penjelasan para ulama besar yang bermazhab Syafi’iyah dalam masalah ini.

Kesimpulannya :

 

  • Lafazh dzikir/do’a yang terikat waktu dan keadaan merupakan perkara tauqifiyah.

  • Terlarang mengganti do’a/dzikir yang ada riwayatnya dari Al Qur’an ataupun Hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dengan lafazh lain.

  • Adanya pahala berkaitan dengan lafazh dzikir/do’a yang terikat dengan waktu dan keadaan tertentu yang terdapat riwayat yang shohih. Sehingga apabila kita menggantinya dengan lafazh lain maka boleh jadi tidak mendapatkan pahala dari Allah ‘Azza wa Jalla. Allahu a’lam.

 

Dengan demikian, jelaslah bagi kita perkara ini.

Mudah-mudahan bermanfaat.

 

 

Setelah ‘Isya,

14 Dzul Qo’dah 1435 H/ 9 September 2014.

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-

[1] Lihat Tashhih Ad Du’a oleh Syaikh Bakr bin ‘Abdullah Abu Zayd hal. 68 cet. Darul Ashimah, Riyadh, KSA.

[2] HR. Bukhori no. 274, Muslim no. 2710.

[3] Harus menunggu adanya dalil dari Al Qur’an ataupun Hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

[4] Lihat Fathul Baari oleh Ibnu Hajar hal. 609/I terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[5] Lihat Fathul Baari hal. 304/XIV.

[6] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim hal. 35/IX, terbitan darul Ma’rifah, Beirut, Lebanon.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply