Mengekang dan Mengendalikan Jiwa Dengan Sabar

26 Oct

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Mengekang dan Mengendalikan Jiwa Dengan Sabar

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Kalaulah ada diantara kita yang terkena sebuah penyakit katakanlah diabetes atau asam urat dan lain sebagainya. Maka tentulah kita akan berusaha mengekang diri untuk tidak memakan pantangannya. Tujuannya tentulah agar penyakit tersebut tidak kambuh dan mengganggu aktifitas kita.

Nah, seharusnya demikian pulalah bagi kita yang belum mampu sabar atas gangguan orang lain. Mari simak penuturan seorang ulama besar berikut ini.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Wafat 728 H) Rohimahullah mengatakan[1].

Mengekang dan Mengendalikan Jiwa Dengan Sabar 1

Keduabelas, Hendaklah dia menyaksikan, menyadari bahwa sesungguhnya kesabarannya merupakan hukuman, pengekangan dan sesuatu yang digunakan untuk mengalahkan hawa nafsunya. Tatkala hawa nafsunya terkekang dan terkalahkan olehnya maka nafsu tersebut tidak akan mampu memperbudak dan menawan dirinya serta menjerumuskannya ke jurang kebinasaan.

Sebaliknya apabila dirinya menuruti dan mendengarkan hawa nafsunya maka jadilah dia terkekang oleh hawa nafsunya tersebut. Hingga akhirnya terjerembab pada lembah kebinasaan kecuali rahmat dari Robb nya yang mencegahnya.

Seandainya tidak ada (keistimewaan –pen) dari kesabaran melainkan pengekangan terhadap hawa nafsu dan syaithon yang ada pada dirinya (tentulah itu sudah cukup –pen). Ketika itu terlihat jelaslah penguasa hati dan kokohlah, bahagialah serta kuat bala tentara hati (anggota badan) sehingga musuhpun terusir darinya”.

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan,

Mengekang dan Mengendalikan Jiwa Dengan Sabar 2

“Ini juga merupakan perkara yang mampu membantu agar seseorang sabar. Sesungguhnya jika anda sabar atas gangguan mereka maka kesabaran anda merupakan penolong bagi diri anda atas hawa nafsu anda. Kesabaran tersebut merupakan kekuatan untuk bertindak. Berbanding terbalik orang yang kalah (oleh hawa nafsunya –pen) dia diatur dibalik keinginan dan dorongan hawa nafsunya berupa keinginan untuk menyembuhkan rasa sakit hatinya dan mengalahkan/membalaskan dendam pada orang lain”.

 

Rantauprapat, 24 Muharrom 1438 H, 25 Oktober 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

-Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni dosa kami, orang tua kami, atok kami dan para pendahulu generasi kami-

[1] Al Umur Al Mu’inah ‘ala Ash Shobri ‘ala Adzaa Al Kholq dengan ta’liq Syaikh ‘Abdur Rozzaq hal. 32 Terbitan Dar Al Ilmu Ash Shohih

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply