Masih Berfikir Merayakan Tahun Baru ?

30 Dec

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

 Masih Berfikir Merayakan Tahun Baru ?

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah

Beberapa waktu yang lalu bangsa didera berbagai macam musibah. Musibah ini hampir menyita seluruh nusantara bahkan menjadi salah satu pusat perhatian dunia. Ini merupakan momentum bagi ummat untuk kembali memuhasabah diri. Sebab kita ummat Islam yakin bahwa sebab utama terjadinya berbagai musibah adalah maksiat. Allah Taala berfirman,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar, taubat)”. (QS. Ar Ruum [30] : 41)

Sudah bukan rahasia lagi bahwa pada hampir setiap kesempatan semisal sekarang ini berkumpul berbagai kemaksiatan. Event akbar kemaksiatan tersebut sudah di pelupuk mata. Jika anda masih punya niatan untuk merayakannya maka mari simak beberapa point berikut ini :

  1. Perayaan tahun baru adalah perayaan yang tidak berguna baik dunia apalagi akhirat

Nabi shollallahu alaihi wa sallam bersabda,

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ، تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ. رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ، وَقَالَ حَسَنٌ

“Diantara tanda baiknya Islam seseorang adalah dia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna”. HR. Tirmidzi, Hasan

Lebih jauh lagi, berbagai perilaku kita di dunia yang tidak bermanfaat di akhirat nanti akan menjadi penyesalan. Jangan tunggu hingga anda ingin dikembalikan ke dunia untuk beramal amalan yang dulu anda tinggalkan. Allah Taala berfirman,

هَل يَنظُرونَ إِلّا تَأويلَهُ ۚ يَومَ يَأتي تَأويلُهُ يَقولُ الَّذينَ نَسوهُ مِن قَبلُ قَد جاءَت رُسُلُ رَبِّنا بِالحَقِّ فَهَل لَنا مِن شُفَعاءَ فَيَشفَعوا لَنا أَو نُرَدُّ فَنَعمَلَ غَيرَ الَّذي كُنّا نَعمَلُ ۚ قَد خَسِروا أَنفُسَهُم وَضَلَّ عَنهُم ما كانوا يَفتَرونَ

“Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Quran itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang melupakannyasebelum itu: “Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa’at yang akan memberi syafa’at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?.” Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan”. (QS. Al A’rof  [7] : 53)

  1. Banyak harta terhambur sia-sia bahkan Allah sebutkan menjadi temannya syaithon

Allah Taala berfirman,

إِنَّ المُبَذِّرينَ كانوا إِخوانَ الشَّياطينِ ۖ وَكانَ الشَّيطانُ لِرَبِّهِ كَفورًا

“Sesungguhnya orang yang mubadzir itu adalah saudara-saudara syaithon dan syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya”. (QS. Al Isro’ [17] : 27)

Disebutkan dalam tafsir Al Muyassar,

إِنَّ المُسْرِفِيْنَ وَ المُنْفِقِيْنَ أَمْوَالَهُمْ فِيْ المَعَاصِيِّ هُمْ أَشْبَاهُ الشَيَاطِيْنَ فِيْ الشَّرِّ وَ الفَسَادِ وَالمَعْصِيَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang menghamburkan harta dan menggunakan hartanya pada kemaksiatan merekalah orang-orang yang menyerupai syaithon dalam hal keburukan, kerusakan dan maksiat/ pembangkangan”.

  1. Tahun yang dirayakan adalah perhitungan waktu yang tidak diperuntukkan Allah bagi manusia,

يَسأَلونَكَ عَنِ الأَهِلَّةِ ۖ قُل هِيَ مَواقيتُ لِلنّاسِ وَالحَجِّ

“Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji”. (QS.Al Baqoroh [2] : 189)

  1. Kita sangat teramat benci disebut sebagai orang kafir. Bahkan kita rela baku hantam jika ada orang yang menyebutkan diri kita sebagai orang non muslim.

Namun di sisi lain banyak orang mengaku muslim dengan suka rela menyerupai orang-orang kafir walaupun itu dengan susah payah dan menghabiskan uang, waktu serta tenaga.

Rosulullah shollallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud. Dinyatakan hasan shohih oleh Al Albani)

Demikian pula sungguh benarlah sabda Nabi shollallahu alaihi wa sallam,

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Sungguh benar-benar kalian akan mengikuti sunnahnya orang-orang sebelum kalian. Sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta bahkan hingga seandainya mereka berjalan masuk ke lobang dhob maka kalian pun akan ikut memasukinya”. Para Shahabat bertanya, “Wahai Rosulullah, Apakah yang anda maksudkan Yahudi dan Nashrani ?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Mari sadar wahai kawan, wahai saudaraku, janganlah kita menumpuk maksiat dan memancing adzab Allah dengan merayakan perayaan maksiat.

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

Tulisan Terkait

Leave a Reply