Masih Belum Mau ‘Dekat’ Dengan Al Qur’an ?

3 Jul

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Masih Belum Mau ‘Dekat’ Dengan Al Qur’an ?

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Pada artikel yang lalu, telah disampaikan sebagian dalil yang menunjukkan berbagai keutamaan membaca Al Qur’an. Namun mungkin diantara kita mungkin masih ada yang belum tergerak untuk memulainya. Maka pada kesempatan kali ini kami akan kembali mengingatkan diri kami sendiri dan kita sekalian dalam sebuah tulisan ringkas ini.

Diantara kita mungkin ada yang pernah jatuh cinta pada seseorang, pernah kasmaran, pernah melihat orang yang lagi kasmaran, dimabuk cinta dan seterusnya. Bagaimanakah keadaan orang yang demikian ?? Tentulah kita dapati keadaan yang amat ingin bertemu dengan orang yang dicintai, senang membaca surat, sms, bbm, email, status atau yang semisal dengan itu dari orang yang dicintai. Padahal entah sudah berapa kali dibaca, dilihat bahkan mungkin sampai hafal redaksinya. Inilah keadaannya sahabat ! Inilah realitanya kawan ! Sungguh luar biasa keadaanya !!

Sudah tahu kelanjutan tulisanku ini wahai jiwa !!

Sudah tahu arah tulisanku ini wahai sahabat !

Sudah tahu maksud tulisanku ini wahai kawan !

 

Jika sudah, maka that’s it… stop ! segera follow up.

Jika belum, let’s continue….

 

Al Imam Abu Zakariyaa Yahya bin Syarof atau yang lebih dikenal dengan Imam Nawawiy Rohimahullah, diantara ulama besar mazhab Syafi’i, pernah menukil sebuah perkataan super dari seorang yang luar biasa.

Beliau menuliskan,

وَعَنْ الحَسَنِ رَحِمَهُ اللهُ قَالَ إِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَأَوْا القُرْآنَ رَسَائِلَ مِنْ رَبِّهِمْ فَكَانُوْا يَتَدَبَّرُوْنَهَا بِالْلَّيْلِ وَينْفَذُوْنَهَا فِيْ النَّهَارِ

‘Dari Al Hasan Rohimahullah,beliau berkata, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian (yaitu para shahabat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) melihat, menilai, menganggap Al Qur’an sebagai risalah/surat-surat dari Robb mereka. Maka mereka (para shahabat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) mentadabburinya/merenungkan maknanya di waktu malam dan mengamalkannya di waktu siang”[1].

Beliau Rohimahullah mengatakan, (يَتَدَبَّرُوْنَهَا) ‘mentadabburinya/merenungkan maknanya’. Tidaklah diragukan lagi bahwa seseorang yang mentadabburi/merenungkan makna sesuatu besar kemungkinan dia sudah terlebih dahulu telah membacanya.

Maka mari buka mata, buka hati wahai diri, sudahkah kita mengganggap Al Qur’an sebagai surat-surat dari Dzat yang paling kita cintai, Dzat yang paling kita mengharap bertemu dengannya kelak dengan pertemuan yang membahagiakan ?!!

Mari, mari wahai jiwa.. Mari kembali ‘mengakrabkan diri kita dengan Al Qur’an di Bulan Turunya Al Qur’an.

Mudah-mudahan hati kita sadar tergerak untuk ‘berdekatan’ dengan Al Qur’an pada Bulan Al Qur’an.

Sigambal, setelah subuh bersama Syifa.

4 Romadhon 1435 H / 2 Juli 2014 M / Aditya Budiman bin Usman

 

[1] Lihat At Tibyan fii Adaab Hamalat Al Qur’an oleh An Nawawiy dengan tahqiq Abu ‘Abdullah Ahmad bin Ibrohim Abul ‘Aynaiyn hal. 67 terbitan Maktabah Ibnu ‘Abbas Kairo, Mesir.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply