Malu – Edisi Renungan –

3 Jun

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Malu – EdisiRenungan

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Malu merupakan sebuah sifat mulia dan akhlak yang utama. Namun sayang, rasa malu tersebut seakan terkikis oleh zaman, termakan oleh rayuan syaihton dan seolah lenyap dari dada kaum muslimin. Tak susah menemukan wanita yang tak segan-segan membuka aurotnya di khalayak ramai. Bahkan wanita dewasa yang menggunakan pakaian anak kecil yang belum balighpun tak sukar ditemukan di jalan raya ataupun di pusat perbelanjaan. Tak hanya itu pelaku korupsi dan kemaksiatan lainnya pun tak malu lagi. Namun musibah di atas musibah adalah pelaku kemusyrikan –walaupun mungkin tidak termasuk kemusyrikan besar- tak malu lagi menceritakan apa yang telah dilakukannya. Sebut saja, tak jarang sebagian orang yang kehilangan barang miliknya tanpa rasa malu menceritakan bahwa dia telah mendatangi orang pintar (entah berupa dukun dan ustadz serta lain sebagainya) ini dan itu kemudian ditemukanlah barang hilang miliknya tersebut. padahal sudah jelas Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun tidak mengetahui barang yang hilang –semisal yang terjadi ketika barang Ibunda Kaum Muslimin ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha hilang- Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkan para sahabat untuk mencarinya.

Semua keburukan di atas terjadi karena salah satu penyebabnya yaitu mulai sirnanya rasa malu dari dada kaum muslimin. Untuk itulah kami memilih tema tersebut dalam artikel yang serba terbatas ini.

[Definisi Malu]

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,

والحياء هو بالمد وهو في اللغة تغير وانكسار يعترى الإنسان من خوف ما يعاب به..

وفي الشرع خلق يبعث على اجتناب القبيح ويمنع من التقصير في حق ذي الحق.

“Malu secara bahasa berarti perubahan yang dilakukan seseorang untuk melepaskan dirinya dari rasa takut terhadap sesuatu yang dapat mencemarkan dirinya.. Sedangkan menurut istilah syari’at malu adalah akhlak/tabiat yang membangkitkan diri untuk menjauhi hal-hal yang hina/keji dan lalai dari menunaikan hak orang-orang yang berhak”[1].

[Malu Merupakan Tanda Hidupnya Seseorang]

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan,

والحياء مشتق من الحياة, والغيث يسمى حيا –بالقصر- لان به حياة الارض والنبات والدواب. وكذلك سميت بالحياة حياة الدنيا والآخرة. فمن لا حياء فيه ميت في الدنيا شقى في الآخرة.

“Al Hayaa’ (الحياء) malu merupakan bentuk pecahan kata / musytaq dari al hayyaat (الحياة) kehidupan. Hujan disebut dengan hayya (حيا) karena dengan hujanlah yang menjadi sumber kehidupan tumbuhan dan hewan. Demikian juga kehidupan dunia dan akhirat disebut dengan hayaatun dunya wal akhiroh (حياة الدنيا والآخرة). Maka barangsiapa yang tidak ada rasa malu / hayaa’ pada dirinya maka ia ibarat mayat di dunia dan sungguh ia akan celaka di akhirat”[2].

[Malu Dapat Menahan Seseorang Dari Melakukan Keburukan]

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda sebagaimana diriwayatkan dari shahabat Sa’id bin Zaid Rodhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ رُجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ : أَوْصِنِيْ

قَالَ : أُوْصِيْكَ بِتَقْوَى اللهِ وَ أَنْ تَسْتَحْيِ مِنْ اللهِ كَمَا تَسْتَحْيِ مِنْ الرُّجُلِ الصَالِحِ مِنْ قَوْمِهِ.

Ada seorang laki-laki yang berkataka kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, ‘Berikanlah aku nasihat’. Kemudian Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Aku nasihatkan kepadamu agar engkau bertaqwa kepada Allah dan hendaklah engkau malu kepada Allah sebagaimana engkau malu kepada seorang laki-laki sholeh dari kaummu”[3].

Maka adakah kita tidak merasa malu kepada Allah ‘Azza wa Jalla padahal kita malu seandainya ada seorang ustadz yang punya tempat di hati kita dalam hal rasa hormat, melihat kita sedang berbuat maksiat ??! Sungguh Allah ‘Azza wa Jalla lebih layak untuk kita malu terhadapnya.

Lebih dari itu Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun pernah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan oleh shahabat Abu Mas’ud Al Badriy Rodhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم : إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ اَلنَّاسُ مِنْ كَلَامِ اَلنُّبُوَّةِ اَلْأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحِ, فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya diantara perkataan kenabian yang terdahulu yang diketahui manusia adalah , “Jika engkau tidak malu, maka lakukanlah apa yang kau mau”[4].

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,

قال الخطابي الحكمة في التعبير بلفظ الأمر دون الخبر في الحديث أن الذي يكف الإنسان عن مواقعة الشر هو الحياء.

‘Al Khoththobiy Rohimahullah mengatakan, “Hikmah dari lafadz penyebutan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dalam hadits ini dengan bentuk kalimat perintah bukan khobar, bahwa sesungguhnya sesuatu yang mampu menahan manusia dari melakukan keburukan adalah rasa malu”[5].

Dari kedua hadits di atas jelaslah bahwa rasa malu lah yang dapat menahan seseorang dari melakukan perbuatan yang merusak agamanya, mencederai kehormatannya dan merusak adabnya.

 

[Malu Merupakan Cabang Keimanan]

Lebih jauh lagi Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda dalam sebuah hadits yang amat terkenal dari Shahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu,

الإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الإِيمَانِ

“Iman itu terdiri dari 70 atau 60 sekian cabang. Cabang yang paling utama adalah Laa Ilaaha Illallah dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Rasa malu termasuk cabang dari iman”[6].

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,

فإن قيل, الحياء من الغرائز فكيف جعل شعبة من الإيمان ؟ أجيب : بأنه قد يكون غريزة وقد يكون تخلق, ولكن استعماله على وفق الشرع يحتاج إلى اكتساب وعلم ونية, فهو من الإيمان لهذا, ولكونه باعثا على فعل الطاعة وحاجزا عن فعل المعصية, ولا يقال : رب حياء يمنع عن قول الحق أو فعل الخير, لأن ذاك ليس شرعيا.

“Jika ada yang mengatakan bahwa malu itu merupakan tabiat pembawaan. Maka mengapa dijadikan cabang keimanan? Maka jawabannya adalah malu memang boleh jadi merupakan tabiat pembawaan lahir dan dapat juga berupa sesuatu yang diusahakan. Namun ketika rasa malu itu digunakan sesuai syari’at maka hal itu membutuhkan usaha dan niat. Jika demikian maka rasa malu termasuk bagian dari iman dalam kondisi tersebut. Malu juga merupakan bagian dari iman karena malu merupakan faktor yang membangkitkan seseorang untuk melakukan keta’atan dan mencegah dari melakukan kemaksiatan. Tidaklah dikatakan termasuk malu, seseorang yang mengatakan, ‘Betapa rasa malu telah menahan dari mengatakan perkataan yang benar atau melakukan kebaikan. Karena sesungguhnya hal itu bukanlah termasuk malu dalam timbangan syari’at”[7].

 

[Malu Merupakan Tanda Hidupnya Hati]

Tak pelak lagi hati/jantung merupakan sebuah organ yang menentukan hidup seseorang. Demikian juga lah rasa malu merupakan sebuah hal yang menentukan hidup atau matinya hati seseorang. Kholifah Ar Rosyid, Umar bin Al Khoththob Rodhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

مَنْ كَثُرَ كَلَامُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ قَلَّ حَيَاؤُهُ وَ مَنْ قَلَّ حَيَاؤُهُ قَلَّ وَرَعُهُ وَ مَنْ قَلَّ وَرَعُهُ مَاتَ قَلْبُهُ.

“Barangsiapa yang banyak bicaranya, maka akan banyak tergelincirnya dan sedikit rasa malunya. Barangsiapa yang sedikit rasa malunya maka akan sedikit pula sikap waro’nya. Barangsiapa yang sedikit sikap waro’nya maka hatinya telah mati”[8].

[Maksiat Menghilangkan Malu]

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan,

ومن عقوباتها ذهاب الحياء الذي هو مادة الحياة للقلب وهو أصل كل خير وذهاب كل خير بأجمعه

“Diantara bentuk hukuman dari maksiat adalah hilangnya rasa malu, yang mana rasa malu merupakan unsur utama hidupnya hati. Rasa malu juga merupakan dasar/pokok segala kebaikan. Apabila malu telah hilang/sirna maka sirna pulalah seluruh kebaikan”.[9]

Oleh karena itulah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ

“Malu merupakan kebaikan seluruhnya”[10].

Dalam redaksi lain disebutkan,

الْحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلاَّ بِخَيْرٍ

“Malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan”[11].

 

[Tidak Malu Dapat Menyebabkan Tidak Mendapat Ampunan Allah]

Ibnul Qoyyim Rohimahullah melanjutkan,

والمقصود ان الذنوب تضعف الحياء من العبد, حتى ربما انسلخ منه بالكلية, حتى ربما انه لايتأثر بعلم الناس بسوء حاله ولا باطلاعهم عليه, بل كثير منهم يخبر عن حاله وقبح ما يفعله, والحامل على ذلك انسلاخه من الحياء,

وإذا وصل العبد الى هذه الحالة لم يبق في صلاحه مطمع.

Maksudnya adalah sesungguhnya dosa/maksiat melemahkan rasa malu pada diri seorang hamba bahkan dapat menghilangkannya secara menyeluruh. Hingga tidak lagi merasakan adanya pengetahuan dan pandangan orang lain tentang betapa buruknya keadaannya. Bahkan betapa banyak dari orang yang demikian menceritakan perbuatan buruk yang telah dilakukannya. Faktor yang mendorong hal tersebut adalah sirnanya rasa malu dari dirinya. Apabila telah sampai pada tingkat ini maka tidak ada lagi kebaikan yang dapat diharapkan dari orang tersebut”[12].

Oleh karena itulah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافى إلاَّ المُجَاهِرِينَ، وَإنّ مِنَ المُجَاهَرَةِ أنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ باللَّيلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ عَلَيهِ ، فَيقُولُ : يَا فُلانُ ، عَمِلت البَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ ، وَيُصبحُ يَكْشِفُ ستْرَ اللهِ عَنْه.

Setiap umatku akan diampuni dosanya kecuali orang-orang yang menampakkannya. Sesungguhnya termasuk orang yang menampakkan dosanya adalah orang yang melakukan suatu perbuatan dosa di malam hari, kemudian mendapati waktu pagi dan membuka apa yang telah Allah tutup diri orang tersebut darinya, dengan mengatakan, ‘Wahai Fulan, aku telah melakukan perbuatan ini dan itu tadi malam’ padahal Robbnya telah menutupinya. Lalu ia menjumpai waktu pagi dan membuka penutup yang Allah buat untuknya pada malam harinya”[13].

 

[Keterkaitan Malu, Cemburu dan Dosa]

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan,

وبين الذنوب وبين قلة الحياء وعدم الغيرة تلازم من الطرفين وكل منهما يستدعي الآخر ويطلبه حثيثا ومن استحي من الله عند معصيته استحى الله من عقوبته يوم يلقاه ومن لم يستح من الله تعالى من معصيته لم يستح الله من عقوبته

“Dosa/kemaksiatan, sedikitnya malu dan tidak cemburu merupakan tiga hal yang saling berkaitan. Salah satunya akan memunculkan dan mencari yang lain dengan cepat. Barangsiapa yang malu kepada Allah ketika dia berbuat maksiat/durhaka kepada Allah maka Allah akan malu menghukumnya pada hari pertemuan seorang hamba dengan Nya. Barangsiapa yang tidak malu kepada Allah Taa’la ketika berbuat maksiat maka Allah tidak akan malu menghukumnya”[14].

[Apakah Boleh Malu Mengajak Kebaikan dan Mengingkari Kemungkaran ?]

Imam An Nawawiy Rohimahullah mengatakan,

فقد يشكل على بعض الناس, من حيث إن صاحب الحياء قد يستحى أن يواجه بالحق من يجله, فيترك أمره بالمعروف ونهيه عن المنكر, وقد يحمله الحياء على الاخلال ببعض الحقوق, وغير ذلك مما هو معروف في العادة.

وجواب هذا ما أجاب به جماعة من الائمة, منهم الشيخ أبوعمرو بن الصلاح رحمه الله, أن هذا المانع الذى ذكرناه ليس بحياء حقيقة, بل هو عجز وخور ومهانة.

وإنما تسميته حياء من اطلاق بعض أهل العرف, أطلقوه مجازا لمشابهته الحياء الحقيقى. وانما حقيقة الحياء, خلق يبعث على ترك القبيح ويمنع من التقصير في حق ذى الحق ونحو هذا.

“Boleh jadi sebagian orang merasa bingung, dimana seorang yang pemalu terkadang malu menunjukkan/mengarahkan orang yang dia hormati kepada kebenaran. Sehingga dia meninggalkan perintah untuk mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar. Bahkan terkadang rasa malu menggiring dirinya dari tidak menunaikan sebagian hak-hak yang wajib dia tunaikan, dan semisal itu yang sudah diketahui terjadi dalam realita.

Maka jawaban untuk hal ini adalah sebagaimana yang dijawab sebagaian imam, diantaranya adalah Syaikh Abu ‘Amr bin Ash Sholah Rohimahullah,

‘Sesungguhnya penghalang yang disebutkan di atasa bukanlah malu secara hakiki. Bahkan hal itu merupakan sebuah kelemahan, kehancuran dan kehinaan. Hal itu disebut oleh sebagian masyarakat sebagai sifat malu karena kemiripannya dengan rasa malu yang hakiki. Sesungguhna rasa malu yang hakiki adalah sebuah akhlah yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan keji dan mencegah dari tidak menunaikan hak orang-orang yang berhak dan lain sebagainya”[15].

Mudah-mudahan bermanfaat.

 

 

Sigambal,

1 Sya’ban 1435 H / 30 Mei 2014 M / Aditya Budiman bin Usman

 

[1]Lihat Fathul Bari hal. 104/I terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh Tahun 1432 H.

[2]Lihat Ad Daa’u wa Ad Dawaa’ dengan tahqiq Syaikh ‘Ali Al Halabiy hal. 106 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, cetakan tahun 1429 H.

[3]HR. Ahmad dalam Az Zuhd dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 7738. Hadits ini dinilai shohih Al Albani Rohimahumullah dalam Shohihul Jami’ no. 2541 dan Ash Shohihah no. 741.

[4]HR. Bukhori no. 6120.

[5]Lihat Fathul Bari hal. 694/XIV.

[6]HR. Bukhori no. 9 dan Muslim no. 35.

[7]Lihat Fathul Bari hal. 104-105/I.

[8]Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 4994.

[9]Lihat Ad Daa’u wa Ad Dawaa’ hal. 105

[10]HR. Muslim no. 166.

[11]HR. Bukhori no. 6117 dan Muslim no. 37.

[12]Lihat Ad Daa’u wa Ad Dawaa’ hal. 106.

[13]HR. Bukhori no. 6069 dan Muslim no. 2990. Untuk lebih lanjut mengenai hal ini silakan merujuk ke https://alhijroh.com/adab-akhlak/membuka-aib-sendiri-setelah-sebelumnya-allah-tutup/

[14]Lihat Ad Daa’u wa Ad Dawaa’ hal. 107.

[15]Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim hal. 196-197 terbitan Darul Ma’rifat.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply