Kondisi Tidak Angkat Tangan Ketika Berdo’a

28 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kondisi Tidak Angkat Tangan Ketika Berdo’a

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Ada sebuah pertanyaan yang sering sekali kita dengar dari kaum muslimin. Pertanyaan tersebut adalah apakah kita mengangkat tangan ketika khotib berdo’a pada saat akhir khutbah Jum’at.

Pertama-tama : Disyari’atkan khotib berdo’a ketika khubah Jum’at

Syaikh Abu Malik Kamal bin Sayyid Saliim hafidzahullah mengatakan[1],

angkat tangan 1

“(Perkara keenam yang dianjurkan saat khutbah Jum’at adalah : -ed.)

Berdo’a bagi kaum muslimin ketika khutbah Jum’at.

Telah diriwayatkan dari Samuroh bin Jundub Rodhiyallahu ‘anhu,

أَنَّ اَلنَّبِيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَسْتَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كُلَّ جُمُعَةٍ

“Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam beristighfar (memohonkan ampunan) bagi seluruh orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan pada setiap Jum’at”[2].

Akan tetapi hadits ini lemah sekali dan tidak dapat dijadikan dalil pegangan. Walaupun ulama ahlu sunnah mengamalkan hadits ini.

Kendati demikian dalil yang menunjukkan dianjuran untuk berdo’a ketika khutbah Jum’at terdapat hadits dari ‘Ummaaroh nom Ru’aybah Rodhiyallahu ‘anhu,

عَنْ عُمَارَةَ بْنِ رُؤَيْبَةَ قَالَ رَأَى بِشْرَ بْنَ مَرْوَانَ عَلَى الْمِنْبَرِ رَافِعًا يَدَيْهِ فَقَالَ قَبَّحَ اللَّهُ هَاتَيْنِ الْيَدَيْنِ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مَا يَزِيدُ عَلَى أَنْ يَقُولَ بِيَدِهِ هَكَذَا. وَأَشَارَ بِإِصْبَعِهِ الْمُسَبِّحَةِ.

Dari ‘Ummaaroh bin Ru’aybah Rodhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ‘Aku melihat Bisyr bin Marwaan di atas mimbar berdo’a dengan mengangkat kedua tangannya. Maka Dia (‘Ummaaroh) berkata, ‘Mudah-mudahan Allah hinakan kedua tangan ini. Sungguh aku telah melihat Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak melakukan hal yang lebih dari ini dengan tangannya, kemudian memberikan isyarat dengan jari telunjukknya’[3].

Pada hadits ini terdapat dua faidah :

Pertama, Penetapan bahwasanya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berdo’a ketika khutbah.

Kedua, makruh hukumnya bagi imam mengangkat kedua tangannya ketika berdo’a di atas mimbar. Seseungguhnya yang sesuai dengan petunjuk Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam ketika berdo’a pada saat ini adalah berisyarat dengan jari telunjuk.

Hal ini diperkuan hadits yang diriwayatkan dari Sahl Bin Sa’d Rodhiyallahu ‘anhu, Beliau mengatakan,

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- شَاهِرًا يَدَيْهِ قَطُّ يَدْعُو عَلَى مِنْبَرِهِ وَلاَ عَلَى غَيْرِهِ وَلَكِنْ رَأَيْتُهُ يَقُولُ هَكَذَا وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَعَقَدَ الْوُسْطَى بِالإِبْهَامِ.

“Aku tidaklah melihat Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengangkat tangannya untuk berdo’a ketika di atas mimbar. Tidak juga pada tempat selainnya. Melainkan aku melihat beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam demkian. Kemudian beliau berisyarat dengan jari telunjuknya dan melingkarkan jari tengan dengan jempolnya”[4].

Inilah salah satu dari dua pendapat di kalangan ulama mazhab Hambali

Ringkasnya permasalahan seputar ini dijawab oleh Syaikh Bakr bin Abdullah Abu Zayd dengan kaidah ringkas. Beliau Rohimahullah mengatakan,

angkat tangan 2

Tidak disyari’atkan mengangkat kedua tangan ketika berdo’a ketika saat yang berkaitan dengan kondisi tertentu, waktu tertentu dan tempat tertentu yang tidak shahih pada keadaan tersebut Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak mengangkat kedua tangannya. Misalnya ketika berdo’a pada Khutbah Jum’at. Maka sesungguhnya makruh hukumnya khotib dan jama’ah mengangkat kedua tangannya kecuali dalam keadaan sholat istisqoo’ atau minta hujan”[5].

 

Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermanfaat.

Setelah Subuh,

Akhir Bulan Syawwal 1435 H.

 

 

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-

 

[1]Lihat Shohih Fiqh Sunnah oleh Syaikh Abu Maalik Kamaal bin Sayyiid Saalim hafidzahullah hal. 586/I terbitan Maktabah Tauqifiyah, Mesir.

[2]HR. Al Bazzaar dalam Musnadnya no. 4664, Thobroni dalam Al Kabir no. 7079. Namun pada sanadnya ada perowi yang dhoif bernama Kholid bin Yusuf sebagaimana dalam Al Mizaan.

[3]HR. Muslim no. 874.

[4]HR. Abu Dawud no. 1105, Ibnu Hibban no. 883. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatkan, ‘Sanad hadits ini hasan dengan syawahidnya’.

[5]Lihat Tashhih Ad Du’a oleh Syaikh Bakr Bin ‘Abdullah Abu Zayd Rohimahullah hal. 26. Terbitan Darul Ashimah, Riyadh.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply