Keutamaan Hari Jum’at

10 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Keutamaan Hari Jum’at

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Pada edisi kali ini kami akan mencoba Insya Allah untuk menyajikan seputar Hari Jum’at dan Keutamaannya agar kita lebih bersemangat dan beramal dengan ilmu ketika di Hari Jum’at.

[Keutamaan Hari Jum’at dan Dalilnya

1.     Hari Jum’at adalah hari yang paling utama di sisi Allah Subhana wa Ta’ala,

Dalilnya adalah sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari Sahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu,

لا تَطْلُعُ الشَّمْسُ وَلا تَغْرُبُ عَلَى يَوْمٍ أَفْضَلَ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ

“Tidak ada hari dimana matahari terbit dan tenggelam yang lebih utama (di sisi Allah) melainkan Hari Jum’at”[1].

Dalil lainnya adalah Allah Subhana wa Ta’ala bersumpah dalam firman-Nya,

وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ

“Dan demi yang menyaksikan dan yang disaksikan”. (QS. Al Buruuj [85] : 3)

Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu mengatakan (menafsirkan ayat ini),

 الْمَوْعُودُ يَوْمُ الْقِيَامَةِ الشَّاهِدُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَالْمَشْهُودُ يَوْمَ عَرَفَةَ.

“Hari yangdijanjikan adalah Hari Qiyamat, hari yang jadi saksi adalah Hari Jum’at dan hari yang disaksikan adalah Hari Arofah”[2].

2.    Allah Subhana wa Ta’ala telah menetapkan/menjadikan pada Hari Jum’at peristiwa-peristiwa besar.

Diantaranya adalah menciptakan Nabi Adam ‘alaihi wa sallam, memasukkannya ke surga, mengeluarkannya dari surga, menerima taubatnya, meninggalnya beliau dan terjadi hari qiyamat.

Dalilnya adalah sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana diriwayatkan dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu,

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَفِيهِ تِيبَ عَلَيْهِ وَفِيهِ مَاتَ وَفِيهِ تَقُومُ السَّاعَةُ

“Sebaik-baik hari dimana matahari terbit adalah Hari Jum’at, padanya diciptakan Nabi Adam ‘alaihi wa sallam, dimasukkannya ke surga, dikeluarkannya dari surga, diterima taubatnya, beliau diwafatkan dan terjadi hari qiyamat”[3].

3.    Hari mustajabnya/dikabulkannya do’a

Dalilnya adalah sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

…..وَفِيهِ سَاعَةٌ لَا يُصَادِفُهَا عَبْدٌ مُسْلِمٌ وَهُوَ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ

“………Pada hari itu ada sebuah saat/waktu yang apabila seorang mu’min mendapatinya ketika itu dia sholat dan berdo’a kepada Allah dengan permintaan apapun melainkan Allah akan mengabulkan permintaannya”[4].

4.   Hari Jum’at adalah hari besarnya kaum mu’minin

Pada Hari Jum’at Allah Subhana wa Ta’ala Allah sempurnakan bagi mereka agamanya.

Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan dari Thoriq bin Syihab Rodhiyallahu ‘anhu,

جَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْيَهُودِ إِلَى عُمَرَ فَقَالَ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ آيَةٌ فِي كِتَابِكُمْ تَقْرَءُونَهَا لَوْ عَلَيْنَا نَزَلَتْ مَعْشَرَ الْيَهُودِ لَاتَّخَذْنَا ذَلِكَ الْيَوْمَ عِيدًا قَالَ وَأَيُّ آيَةٍ قَالَ

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا   فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي لَأَعْلَمُ الْيَوْمَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ وَالْمَكَانَ الَّذِي نَزَلَتْ فِيهِ نَزَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِعَرَفَاتٍ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ

Seorang laki-laki dari kalangan yahudi datang kepada ‘Umar. Kemudian, dia berkaata, “Wahai Amirul Mu’minin, ada sebuah ayat dalam kitab kalian dan kalian membacanya, sekiranya ayat itu turun kepada kami orang-orang yahudi sungguh akan kami jadikan hari dimana ayat itu turun sebagai hari ‘ied/hari besar”. Umar bertanya kepadanya, “Ayat manakah yang engkau maksudkan?” Orang yahudi tersebut mengatakan,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku sempurnakan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu.” (QS. Al Maidah [5] : 3)

 Maka, ‘Umar mengatakan, “Sesungguhnya aku benar-benar mengetahui hari dan tempat ketika ayat itu turun kepada Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, yaitu ketika hari jumat bertepatan dengan hari Arofah”[5].

Dalil lainnya adalah hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu,

أَتَانِي جِبْرِيلُ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – بِالْجُمُعَةِ وَهِيَ كَالْمِرْآةِ الْبَيْضَاءِ فِيهَا كَالنُّكْتَةِ السَّوْدَاءِ فَقُلْتُ : يَا جِبْرِيلُ مَا هَذِهِ ؟ قَالَ : هَذِهِ الْجُمُعَةُ قَالَ : قُلْتُ : وَمَا الْجُمُعَةُ ؟ قَالَ : لَكُمْ فِيهَا خَيْرٌ ، قَالَ : قُلْتُ : وَمَا لَنَا فِيهَا : قَالَ : تَكُونُ عِيدًا لَكَ وَلِقَوْمِكَ مِنْ بَعْدِكَ

“Jibril ‘alaihissalam datang menemuiku, pada saat itu bersamanya kaca yang putih yang padanya ada satu titik berwarna hitam. Kemudian aku bertanya padanya, ‘Wahai Jibril apakah itu?’ Jibril menjawab, ‘Ini adalah Hari Jum’at’. Aku bertanya, ‘Apakah Jum’at itu ?’ Beliau menjawab, ‘Pada hari itu terdapat kebaikan bagimu’. Aku bertanya, ‘Kebaikan apa bagi kami pada hari itu ?’ Beliau menjawab, ‘Dijadikan Hari Jum’at bagimu dan umat setelahmu sebagai hari besar”[6].

5.    Padanya disyriatkan Sholat Jum’at yang memiliki keutamaan yang banyak

Dalilnya adalah firman Allah Subhana wa Ta’ala,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (9) فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (10) وَإِذَا رَأَوْا تِجَارَةً أَوْ لَهْوًا انْفَضُّوا إِلَيْهَا وَتَرَكُوكَ قَائِمًا قُلْ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ مِنَ اللَّهْوِ وَمِنَ التِّجَارَةِ وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّازِقِينَ (11)

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi, dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. menuju kepadanya dan mereka tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, ‘Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perniagaan’, dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki” (QS. Al Jumu’ah [62] : 9-11)

Mudah-mudahan bermanfaat.

 

[Terinspirasi dari Kitab Shohih Fiqih Sunnah Karya Abu Malik Kamal bin Sayyid Salim hal. 570-571/I, terbitan Maktabah Tauqifiyah, Kairo Mesir]

 

Sigambal, Setelah Sholat Jum’at 22 Jumadits Tsaniy 1434 H/ 19 April 2013 M

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-



[1] HR. Ahmad no. 7673, Abdur Rozzaq no. 5563, Ibnu Hibban no. 2759 dan Al Baghowi no. 1062. Syaikh Syu’aib Al Arnauth Rohimahullah mengatakan, ‘Sanadnya shohih sesuai syarat Muslim’.

[2] HR.  Ahmad no. 7960. Syaikh Syu’aib Al Arnauth Rohimahullah mengatakan, ‘Sanadnya shohih sesuai syarat Muslim’.

[3] HR. Muslim no. 854 dan lain-lain.

[4] HR. Imam Malik dalam Al Muwatho’ no. 364. Hadits ini dinilah shohih oleh Al Albani di Jami’ Ash Shoghir no. 2130.

[5] HR. Bukhori no. 45, Muslim no. 3017. Faidah tambahan, Atsar di atas menunjukkan bahwa orang-orang yahudi adalah orang yang gemar membuat hari-hari perayaan yang tidak ada syari’at mereka sebagai ‘ied, maka orang-orang yang mengaku dirinya muslim dan suka mengadakan perayaan yang tidak ada dasarnya dalam islam memiliki keserupakan dengan orang yahudi dari sisi ini, Allahu A’lam

[6] HR. Abu Ya’la no. 4213 dan selainnya dengan sanad yang hasan.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply