Ketika Anak Mengganggu Orang

3 Oct

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ketika Anak Mengganggu Orang

Anak merupakan harta paling berharga yang dimiliki orang tuanya. Sedaya upaya orang tua akan berusaha memenuhi kebutuhan dan keinginan sang anak. Namun sayang, fithrah ini sering kali melanggar hak orang lain atau malah merusak kepentingan orang lain. Untuk itu, berikut kami nukilkan sebuah hadits yang mudah-mudahan dapat menjadi pedoman bagi kita para orang tua.

Al Imam Bukhori meriwayatkan dari Ummu Kholid bintu Kholid bin Sa’id Rodhiyallahu ‘anha, Dia mengatakan,

أتيتُ رسولَ الله -صلى الله عليه وسلم- مع أبي وعليَّ قميص أصفرُ ،فقال رسولُ الله : سَنَهْ ، سَنَهْ – قال الراوي : وهي بالحبشية : حسَنَة حسنة – قالت : فذهبتُ ألْعَبُ بخاتم النُّبُوَّةِ ، فزَبرَني أبي فقال رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- : دَعْها ، ثم قال رسولُ الله -صلى الله عليه وسلم- أبْلِي وأخلِقي ، ثم أبْلِي وأخلِقي ، ثم أبلي وأخْلِقي

“Aku (Ummu Kholid) menemui Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersama ayahku, ketika itu aku mengenakan gamis berwarna kuning”. Lalu Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun mengatakan (dalam bahas negeri Habasyah/Etiophia), “Cantiknya, cantiknya”. Dia (Ummu Kholid) berkata, “Kemudian akupun memainkan tanda kenabian[1] beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam namun ayahku melarangku dengan keras (membentakku)”. Lalu Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun mengatakan, “Biarkan dia”. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berkata padaku, “Semoga bajunya awet, semoga bajunya awet, semoga bajunya awet[2][3].

 

Faidah[4] :

Pertama, Hadits ini menunjukkan bolehnya memuji seorang anak kecil di depannya dengan pujian yang baik dan tidak mengandung unsur kebohongan.

Kedua, seorang anak biasanya akan tertarik bermain hal yang tidak biasa dia lihat.

Ketiga, orang tua diperbolehkan melarang keras anaknya ketika mengganggu orang lain atau ketika berbuat tidak pantas.

Keempat, orang tua boleh melarang atau menggunakan kata jangan dalam mendidik anak.

Kelima, orang yang diajak main anak-anak hendaknya memahami kondisi anak yang cenderung ingin bermain hal-hal yang baru.

Keenam, disyari’atkannya mendoakan kebaikan pada anak-anak.

Ketujuh, berkomunikasi pada anak dengan kata-kata yang dapat dipahami sang anak atau menyesuaikan dengan bahasa anak.

Kaitaan hadits ini dengan judul, hendaknya orang tua ketika membawa anaknya ke rumah orang lain atau ke tempat fasilitas umum hendaknya mengajarkan adab dan tidak membiarkan anaknya bertindak sesuka hatinya dan yang semisal dengan itu. Adapun orang lain yang diajak main oleh anak-anak hendaknya memahami bahwa mereka masih anak-anak.

Allahu a’lam.

 

 

Setelah Subuh, 2 Muharrom 1438 H

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir.

[1] Berupa sekerat daging berukuran sekitar sebesar telur burung dara/merpati.

[2] Hingga baju tersebut pun awet melebihi kadar keawetan baju lain pada umumnya (Lihat Fathul Bari hal. 533/XIII).

[3] HR. Bukhori no. 5993.

[4] Faidah ini banyak kami ambil dari penuturan Guru Kami Ustadz Aris Munandar hafizhahullah.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply