Jangan Makan dan Minum Dengan Tangan Kiri

27 Apr

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jangan Makan dan Minum Dengan Tangan Kiri

 

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Judul ini mungkin terkesan tidak wah, tidak keren, nggak relevan dengan waktu yang sudah dekat ama pemilu dan de el el. Namun sebenarnya kami memilih judul ini bukan karena nggak punya judul bahasan lagi. melainkan karena inilah realita di sekitar kita. Bukanlah sebuah hal yang sulit, susah untuk dicari dan ditemukan di tengah-tengah kaum muslimin bahwa sebagian kita masih saja minum dan makan dengan tangan kiri.

Untuk itu mari kita simak kembali lagi hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berikut ini. Diriwayatkan dari shahabat sang perowi hadits paling banyak di kalangan shahabat Nabi Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu. Sesungguhnya Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَأْكُلْ بِيَمِينِهِ وَإِذَا شَرِبَ فَلْيَشْرَبْ بِيَمِينِهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِشِمَالِهِ

 “Jika salah seorang dari kalian hendak makan maka makanlah dengan tangan kanannya. Hendaklah dia juga minum dengan tangan kanannya. Karena sesungguhnya syaithon makan dan minum dengan tangan kirinya”[1].

Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan[2],

“Hadits ini merupakan dalil bahwsanya seorang mukmin diperintahkan untuk makan dan minum dengan tangan kanannya serta terlarang makan atau minum dengan tangan kiri. Sebab cara makan makan yang demikian (makan dan minum dengan tangan kiri –pen) termasuk perbuatan syaithon (cara makan syaithon). Karena dialah yang makan dan minum dengan tangan kiri. Juga karena tangan kiri ‘kotor’, tangan yang dianggap ‘hina’ sehingga tangan ini (tidak pantas) digunakan untuk sesuatu yang berharga dan bernilai.

Rosul Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (melarang makan dengan tangan kiri) beralasan bahwa syaithon makan dengan tangan kiri, sedangkan menyelisihi syaithon merupakan sebuah perkara yang diperintahkan. Kita pun dilarang mengikuti (perbuatan) syaithon. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ

 “Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengikuti perbuatan langkah-langkah syaihton”. (QS. An Nuur [24] : 21).

 

Kami tambahkan : Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun telah menyerupai sesuatu yang merupakan ciri khasnya maka dia termasuk bagian dari sesuatu tersebut. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ, فَهُوَ مِنْهُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian mengikuti perbuatan”[3].

 

Dalam salah satu riwayat,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا

 “Bukan termasuk dari kami siapa saja yang menyerupai selain kami”[4].

Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan[5],

Mayoritas (jumhur) ulama berpendapat bahwa makan dan minum dengan tangan kanan hukumnya dianjurkan. Karena larangan dalam hadits ini termasuk larangan dalam pembahasan adab dan arahan/pengajaran serta bentuk memuliakan tangan kanan atas tangan kiri[6].

Beliau melanjutkan[7],

“Sebagian ulama lainnya diantaranya Ibnu Abdil Barr, Ibnu Hazm, Ibnu Abu Musa dan Syaikul islam Ibnu Taimiyah serta Ibnul Qooyyim rohimahumullah berpendapat wajibnya makan dan minum dengan tangan kanan serta haramnya menggunakan tangan kiri untuk makan dan minum”.

Allahu a’lam, pendapat kedua inilah yang lebih tepat dengan alasan sebagai berikut[8] :

Pertama, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melarang makan dan minum dengan tangan kiri serta menjelaskan alasannya agar tidak menyerupai syaithon. Barangsiapa yang makan dan minum dengan tangan kiri maka dia telah menyerupai syaithon.

“Kedua, susunan perintah dalam hadits ini bersamaan dengan itu sekaligus terkandung adanya larangan. Sehingga maknanya tidak dapat dipalingkan dari zhohir teksnya yaitu adanya kewajiaban dan larangan (pengharaman sebaliknya)”.

“Ketiga, adanya hadits yang diriwayatkan dari Salamah bin Al Akwa’ dari ayahnya Rodhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّ رَجُلاً أَكَلَ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِشِمَالِهِ فَقَالَ : كُلْ بِيَمِينِكَ. قَالَ لاَ أَسْتَطِيعُ قَالَ : لاَ اسْتَطَعْتَ. مَا مَنَعَهُ إِلاَّ الْكِبْرُ. قَالَ فَمَا رَفَعَهَا إِلَى فِيهِ.

 Sesungguhnya ada seorang laki-laki yang makan di dekat Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dengan tangan kirinya. Lalu beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Makanlah dengan tangan kananmu”. Laki-laki itu menjawab, “Aku tak mampu”. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Kalau demikian maka kamu tidak akan mampu. Tidak ada yang mencegahmu dari melakukan perintahku kecuali karena kesombongan”. Dia (ayah Salamah) mengatakan, ‘Maka laki-laki tersebut tidak mampu mengangkat tangan kanannya ke mulutnya’[9].

Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan[10],

“Diantara hal yang memilukan adalah makan dan minum dengan tangan kiri ini merupakan sebuah hal yang tersebar di sebagian kaum muslimin. Ini tidak lain disebabkan karena kebodohan atas sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, minim dan lemahnya perhatian atas sunnah serta adab-adab syar’i. Oleh sebab itu maka sudah sepantasnya ada pengingkaran terhadap kebiasaan buruk ini sebagaimna pengingkaran yang dicontohkan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Makan dengan tangan kanan itu lebih mudah, lebih bagus dan lebih ringan”.

 

Bagaimana jika kita makan dengan tangan tangan, padahal kita hendak minum ?

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Jika ada yang mengatakan, ‘Jika seseorang makan (dengan tangan –pen) lalu dia hendak minum. Bila dia menggunakan tangan kanan untuk minum maka gelasnya akan tertempel bekas makanan. Ini terkadang menimbulkan tidak enak dilihat orang lain ketika minum demikian. Lantas apakah boleh bagi orang yang demikian minum dengan tangan kiri ?

Jawaban beliau :

Tidak boleh, karena keharaman yang demikian tidak lantas menjadi boleh kecuali darurat dan kondisi yang disebutkan bukan kondisi darurat. Orang tersebut masih bisa memegangi gelasnya dari bawahnya (dengan menggunakan punggung tangan kanannya –pen). Jika gelasnya besar dia bisa meletakkan (bagian bawah gelasnya -pen) di telapak tangannya. Jika gelasnya bentuk cangkir maka lebih mudah lagi, sebab jarinya (yang tidak kena makanan –pen) bisa dimasukkan ke lobang pegangan cangkirnya. Lalu di tahan bagian bawahnya kemudian minum”[11].

Syaikh ‘Abdullah Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan[12],

“Jika tangan kanan ada bekas makanan maka ini bukan udzur untuk minum dengan tangan kiri sebagaimana yang dilakukan sebagian orang. Sebab masih memungkinkan mengangkat gelas minumannya dengan bantuan tangan kirinya (artinya minum dengan dua tangan –pen)”.

Beliau mengatakan,

“Hadits ini menunjukkan bahwa syaithon makan dan minum. Sebab prinsipnya ucapan itu dimakanai sebagaimana makna tekstualnya. Syaithon merupakan salah satu hal ghaib dan kita tidak dapat mengetahuinya kecuali dengan apa yang dikabarkan Nabi kita Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Hal ini juga diisyaratkan oleh hadits Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu,

إِذَا نُودِيَ بالصَّلاَةِ ، أدْبَرَ الشَّيْطَانُ ، وَلَهُ ضُرَاطٌ

 “Jika adzan dikumandangkan maka syaithon lari tunggang langgang sambil terkentu”[13].

Maka hadits ini mengisyaratkan bahwa syaithon punya lambung, bisa diisi makanan dan minuman. Demikian juga hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu,

ذُكِرَ عِنْدَ النَّبيِّ صلى الله عليه وسلم رَجُلٌ نَامَ لَيْلَةً حَتَّى أصْبَحَ ، قَالَ : ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيطَانُ أُذُنِهِ

 Disebutkan kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tentang ada seorang lelaki yang ketiduran hingga subuh. Lalu beliau bersabda, “Itulah lelaki yang syaithon kencing di telinganya”[14].

Allahu a’lam.

 

Sigambal, 30 Rojab 1439 H / 16 April 2018 M

 

Aditya Budiman bin Usman

[1] HR. Muslim no. 2020.

[2] Lihat Minhatul ‘Alaam Syarh Bulughul Marom hal. 70/X terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[3] HR. Abu Dawud no. 4031, dinyatakan hasan oleh Al Albani Rohimahullah.

[4] HR. Tirmidzi no. 2695, dinyatakan hasan oleh Al Albani Rohimahullah.

[5] Lihat Minhatul ‘Alaam Syarh Bulughul Marom hal. 70-71/X.

[6] Idem hal 71-72/X.

[7] Idem hal. 72/X.

[8] Lihat Minhatul ‘Alaam Syarh Bulughul Marom hal. 72/X

[9] HR. Muslim no. 2021.

[10] Lihat Minhatul ‘Alaam Syarh Bulughul Marom hal. 73/X.

[11] Lihat Syarhul Mumthi’ hal. 362/XII terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[12] Lihat Minhatul ‘Alaam Syarh Bulughul Marom hal. 73/X.

[13] HR. Bukhori no. 608 dan Muslim no. 389.

[14] HR. Bukhori no. 1144 dan Muslim no. 774.

Tulisan Terkait

Leave a Reply