Jalan Masuk Syaithon Pada Jiwa Kita

5 Oct

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jalan Masuk Syaithon Pada Jiwa Kita

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam.

Syaithon tidaklah henti-hentinya menggoda anak keturunan Adam agar mereka masuk ke Neraka Jahannam. Jika ia tidak bisa menggoda kita agar kelak kita kekal di dalam neraka (dengan melakukan pembatal keislaman diantaranya syirik). Maka ia akan mencari jalan lain untuk menggoda kita agar kita melakukan perbuatan dosa walaupun dosa tersebut terlihat kecil di hadapan kita. Namun sebagaimana yang dikatakan para ulama dosa kecil apabila sering dilakukan maka ia akan menjadi dosa besar.

Untuk itulah kami nukilkan perkataan Ibnul Qoyyim rohimahullah seputar jalan-jalan yang ditempuh syaithon atas hamba-hamba Allah.

Beliau rohimahullah mengatakan,

كُلُّ ذِيْ لُبٍّ يَعْلَمُ أَنَّهُ لَا طَرِيْقَ لِلشَّيْطَانِ عَلَيْهِ إِلَّا مِنْ ثَلَاثِ جِهَاتٍ :

 أَحَدُهَا التَّزَيُّدُ وَالْإِسْرَافُ فَيَزِيْدُ عَلَى قَدْرِ الْحَاجَةِ فَتَصِيْرُ فَضْلَةً وَهِيَ حَظُّ الشَّيْطَانِ وَمَدْخَلُهُ إِلَى الْقَلْبِ.

وَطَرِيْقُ الْاِحْتِرَازِ مِنهُ إِعْطَاءُ النَّفْسِ تَمَامَ مَطْلُوْبِهَا مِنْ غِذَاءٍ أَوْ نَوْمٍ أَوْ لَذَّةٍ أَوْ رَاحَةٍ فَمَتَى أَغْلَقْتَ هَذَا البَابَ حَصَلَ الْأَمَانُ مِنْ دُخُوْلِ الْعَدُوِ مِنْهُ.

الثَّانِيَةُ الْغُفْلَةُ فَإِنَّ الذَّاكِرَ فِيْ حِصْنِ الذِّكْرِ فَمَتَى غَفَلَ فُتِحَ بَابُ الْحِصْنِ فَوَلَجَهُ اْلعَدُوُّ فَيَعْسُرُ عَلَيْهِ أَوْ يَصْعَبُ إِخْرَاجُهُ.

الثَّالِثَةُ تَكَلُّفُ مَالَا يَعْنِيْهِ مِنْ جَمِيْعِ الْأَشْيَاءِ

“Setiap yang memiliki hati/akal akan mengetahui bahwa sesungguhnya tidak ada jalan bagi syaithon atasnya kecuali melalui tiga cara :

Pertama, Menanbah-nambahi dan berlebihan, maka ia akan menambah (sesuatu yang ia butuhkan) melebihi kadar yang ia butuhkan. Sehingga jadilah tambahan (atas apa yang ia butuhkan tadi menjadi) langkah syaithon dan jalan masuknya menuju hatinya.

Cara agar terbebas darinya adalah dengan memberikan jiwa apa yang dimintanya secara lengkap (cukup, tidak berlebihan pent.) baik berupa makanan, tidur, kelezatan dan istirahat. Maka apabila engkau mengunci/menjaga pintu ini maka dirimu akan aman dari masuknya musuh (syaithon).

Kedua, kelalaian. Karena sesungguhnya orang yang mengingat Allah (dzikir yang syar’i) berada dalam lindungan perisai dzikir tersebut. Apabila ia lalai darinya maka akan terbukalah pintu perlindungannya, musuhnya pun akan masuk, menindas dirinya dan sukar untuk mengeluarkannya.

Ketiga, membebani diri dengan semua hal yang ia tidak sanggup menunaikannya”[1].

Maka benarlah apa yang beliau sampaikan ini, hampir seluruh dosa ketiga jalan masuk di atas ada di dalamnya. Mulai dari kemusyrikan, zina, korupsi, bid’ah, bohong dan maksiat-maksiat lainnya.

Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi kita semua sebagai bahan renungan yang akan melahirkan amal sehingga kita mampu menutup jalan-jalan syaithon masuk ke diri-diri kita.

Sigambal, Setelah ‘Isya 07 Dzul Qo’dah 1432 H / 04 Oktober 2011

 

 

Aditya Budiman bin Usman



[1] Lihat Fawaidul Fawaid oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah hal. 257 terbitan Dar Ibnul Jauziy cetakan tahun 1429 H, Riyadh, KSA.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply