Ingatlah Hal ini, Ketika Jengkel Dengan Pembantu

20 Feb

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ingatlah Hal ini, Ketika Jengkel Dengan Pembantu

 

Alhamdulillah wa Shola tu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Semua kita tentu –Insya Allah- pernah membaca hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam yang mulia berikut,

عن أبي هريرة رضي الله عنه : أَنَّ رُجُلًا قَالَ لِلْنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ أَوْصِنِيْ قَالَ لَا تَغْضَبْ . فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ  لَا تَغْضَبْ

‘Dari Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, “Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam, “Berikanlah aku wasiat”. Kemudian Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan, “Janganlah Engkau marah”. Kemudian lelaki tadi datang berulang kali namun Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam tetap mengatakan, “Janganlah Engkau marah”[1].

Selanjutnya pernahkah anda mempekerjakan seorang pembantu ? Pernahkah anda memarahinya ? Pernahkah anda mencelanya ? Bagaimana jika tingkah polanya memancing emosi anda ? Apa keterangan dalam hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam tentang hal ini ?

Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam bersabda sebagaimana yang diriwayatkan dari shahabat ‘Abdullah bin ‘Amr Rodhiyallahu ‘anhu. Beliau Rodhiyallahu ‘anhu mengatakan,

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمْ نَعْفُو عَنِ الْخَادِمِ فَصَمَتَ ثُمَّ أَعَادَ عَلَيْهِ الْكَلاَمَ فَصَمَتَ فَلَمَّا كَانَ فِى الثَّالِثَةِ قَالَ اعْفُوا عَنْهُ فِى كُلِّ يَوْمٍ سَبْعِينَ مَرَّةً

‘Seorang laki-laki datang menemui Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam lalu berkata, “Wahai Rosulullah berapa kali kita memaafkan pembantu kita ?” Kemudian Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam pun diam. Orang tersebut mengulangi pertanyaannya namun Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam pun tetap diam. Kemudian orang tersebut mengulangi pertanyaannya hingga tiga kali maka Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam pun mengatakan, “Maafkan/berikan maaf kepadanya dalam sehari 70 kali[2].

Penulis ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud Rohimahumallah mengatakan,

Ingatlah Hal ini, Ketika Jengkel Dengan Pembantu 1

 

“Sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam (كَمْ نَعْفُو) ‘berapa kali kita memaafkan pembantu kita’ yaitu berapa kali kita memaafkannya. Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam pun diam. Ada yang berpendapat beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam diam karena tidak suka dengan pertanyaan tersebut. Karena sesungguhnya memberikan maaf dianjurkan secara muthlak dan terus menerus. Sehingga tidak ada keperluan untuk menentukan berapa jumlahnya dalam angka tertentu. Ada juga yang berpendapat Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam diam karena menunggu wahyu. Sedangkan sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam (سَبْعِينَ مَرَّةً) ’70 kali’ ada pendapat ulama yang menyebutkan yang dimaksud dengan angka ini adalah banyaknya dan bukanlah pembatasan”[3].

 

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al Badr Hafidzahullah mengatakan,

يسأل كم مرة يعفو عن الخادم إذا تكرر الخطأ؟ فالرسول صلى الله عليه وسلم صمت وسكت فلم يجبه، ولما كرر قال: (اعفوا عنه في كل يوم سبعين مرة). يعني: أنه يعفى عنه ويكرر العفو عنه ولو بلغ سبعين مرة، وهذا يدل على أنه ليس هناك تحديد أنه يعفو عنه مرة أو مرتين أو ثلاثاً أو أربعاً أو خمساً، وإنما يعفو عنه باستمرار.

“Seorang laki-laki bertanya berapa kali dia harus memberikan maaf bagi pembantunya jika berulang kali salah ? Kemudian Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam pun terdiam tidak bicara. Ketika sang lelaki berulang kali bertanya tentang hal itu maka Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam pun menjawab, “Berikanlah dia maaf dalam sehari selama 70 kali”. Yaitu sesungguhnya dia semestinya memberikan maaf kepada pembantunya dan berulang kali memaafkannya walaupun berulang kesalahannya hingga 70 kali (dalam sehari -pen). Hal ini menunjukkan bahwasanya tidak ada batasan bilangan memaafkannya, sekali, dua kali, tiga kali, empat kali atau lima kali. Melainkan pembantu tersebut harus terus dimaafkan”[4].

 

Lihat saudaraku…. betapa mulianya akhlak yang diajarkan Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam. Namun hadits ini bukanlah dalil bagi kita sebagai pembantu untuk terus menerus berbuat kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan dan tidak amanah atas tugas yang diberikan kepadanya. Namun hadits ini merupakan akhlak yang seharusnya dimiliki oleh seorang majikan kepada pembantunya.

 

Tidakkah kita pernah mendengar hadits Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam,

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ

“Tidak ada iman bagi orang yang tidak dapat diberi amanah kepadanya”[5].

 

Allahu a’lam.

 

 

Sigambal, Setelah Zhuhur

22 Robi’ul Tsaniy 1436 H/ 12 Februari 2015 M.

Aditya Budiman bin Usman

[1] HR. Bukhori no. 5765.

[2] HR. Abu Dawud no. 5164. Hadits ini dishohihkan Al Albani Rohimahullah.

[3] Lihat ‘Aunul Ma’bud Syarh Sunan Abu Dawud hal. 2346 terbitan Dar Ibnu Hazm, Beirut Lebanon.

[4]Lihat Syarh Sunan Abu Dawud oleh Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al Badr Hafidzahullah hal. 229/XXIX Maktabah Syamilah.

[5] HR. Ahmad no. 12406. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani Rohimahumallah.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply