Hukum Menikahi Wanita Yang Telah Berzina Dengannya

12 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Hukum Menikahi Wanita Yang Telah Berzina Dengannya

Alhamdulillaah wa Sholaatu Wasalaamu ‘alaa An Nabii Al Kariim Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Pertanyaan

السؤال : زنى رجل ببكر ويريد أن يتزوجها فهل يجوز له ذلك ؟

Lajnah Daimah Pernah ditanya,

“Seorang laki-laki telah berzina dengan seorang gadis. Kemudian ia ingin menikahi gadis yang telah berzina dengannya tersebut. Apakah hal tersebut diperbolehkan baginya ?”

 

Jawaban

الجواب : إذا كان الواقع كما ذكر وجب على كل منهما أن يتوب إلى الله فيقلع عن هذه الجريمة ، ويندم على ما حصل منه من فعل الفاحشة ، ويعزم على ألا يعود إليها ، ويكثر من الأعمال الصالحة ، عسى الله أن يتوب عليه ويبدل سيئاته حسنات ، قال الله تعالى:

وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلاَ يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَ يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا . يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا . إلاَّ مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا . وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا .

وإذا أراد أن يتزوجها وجب عليه أن يستبرئها بحيضة قبل أن يعقد عليها النكاح ، وإن تبين حملها لم يجز له العقد عليها إلا بعد أن تضع حملها ، عملا بحديث:

نهى النبي – صلى الله عليه وسلم – أن يسقي الإنسان ماءه زرع غيره. وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو … عضو … نائب رئيس اللجنة … الرئيس

عبد الله بن سليمان بن منيع … عبد الله بن عبد الرحمن بن غديان … عبد الرزاق عفيفي … عبد العزيز بن عبد الله بن باز

“Jika kondisi sebenarnya sebagaimana yang disebutkan di atas, maka wajib bagi keduanya (laki-laki dan gadis yang telah berzina tersebut -ed) untuk bertaubat kepada Allah, melepaskan diri keduanya dari perbuatan zina tersebut dan menyesal atas perbuatan tersebut serta berniat kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut. Kemudian hendaklah memperbanyak melakukan amal sholeh dan berharap Allah menerima taubat tersebut serta menggantikan kejelekan tersebut dengan kebaikan. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لاَ يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلاَ يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إلاَّ بِالْحَقِّ وَلاَ يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا . يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا . إلاَّ مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا . وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا .

“Dan orang-orang yang tidak menyembah sesembahan yang lain bersama Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya). (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari qiyamat dan dia akan kekal dalam adzab itu, dalam keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh. Maka itu dosa mereka diganti Allah dengan kebaikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya”.(QS. Al Furqoon [25] : 68-71).

Jika laki-laki tersebut hendak menikahi gadis yang telah berzina dengannya tersebut maka dia wajib/harus menunggunya selesai sekali haid. Namun apabila gadis tersebut telah hamil maka tidak boleh/haram hukumnya menikahinya kecuali setelah wanita tersebut melahirkan kandungannya tersebut. Hal ini merupakan bentuk pengamalan hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

نهى النبي – صلى الله عليه وسلم – أن يسقي الإنسان ماءه زرع غيره

“Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melarang seseorang mengalirkan maninya ke ladang orang lain”[1].

Sholawat serta salam semoga dilimpahkan atas Nabi Kita Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, keluarga serta seluruh shahabatnya”.

Al Lajnah Daa’imah li Al Buhuuts Al ‘Ilmiyah wa Al Iftaa’

‘Abdullah bin Sulaiman bin Mani’ (Anggota)

‘Abdullah bin ‘Abdur Rohman bin Ghodayaan (Anggota)

‘Abdu Rozzaaq ‘Afiifii (Wakil Ketua)

‘Abdul ‘Aziiz bin ‘Abdullah bin Baaz (Ketua).

[Majalatu Al Buhuuts Al Islaamiyah hal. 72/IX].

 

[1]HR. Abu Dawud no. 2158 dan Ad Darimi 2477. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Al Albani Rohimahumullah.

 

Tulisan Terkait

2 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. Indra
    Jul 19, 2016 @ 03:46:46

    saya mau bertanya.
    bagaimana laki-laki dan wanita tersebut pernah melakukan zina dan mereka menikah sah.
    tapi di pihak wanita sudah bertaubat dan sebalik nya dari laki-laki tersebut tetap melakukan zina kepada wanita dan gonta ganti pasangan lain tanpa sepengetahuan istriny?

    Reply

    • Aditya Budiman
      Aug 22, 2016 @ 06:33:11

      Maaf kami tidak mengerti maksud pertanyaan saudara…

      Reply

Leave a Reply