Fenomena Waria / Banci

5 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Fenomena Waria / Banci

Alhamdulillah wa shollatu wa sallamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ajma’ain.

Di zaman kita hidup ini, tak jarang kita melihat orang-orang sebagaimana disebutkan judul di atas bertebaran. Bahkan bisa kita katakan di hampir seluruh kota besar ada suatu tempat yang terkenal dengan banyaknya waria atau banci. Yang lebih mengherankan lagi sebagian tempat ini akrab dengan area perkuburan atau stasiun kereta api.

Namun keanehan di atas keanehan adalah tidak sedikit dari kaum muslimin yang menganggap hal itu biasa saja. Bahkan orang yang demikian menjadi favorit di tengah-tengah mereka karena lenggak-lenggoknya yang dianggap lucu dan dapat menghibur.

Maka Laa Hawlaa wa Laa Quwwata illaa billaah.

Untuk itulah kami menganggakat tema bagaimana fenomena banci dalam tinjauan Islam.

Al Imam Abu ‘Abdullah Muhamad bin ‘Isma’il Al Bukhori Rohimahullah membuat sebuah judul bab dalam Kitab Shohihnya, (بَابُ المُتَشَبِّهُوْنَ بِالنِّسَاءِ وَالمُتَشَبِّهَاتُ بِالرِّجَالِ) Bab Laki – Laki yang Menyerupai wanita dan Wanita yang Menyerupai Laki – Laki. Kemudian beliau menukil hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

حدثنا محمد بن بشار حدثنا محمد بن جعفر حدثنا شعبة عن قتادة عن عكرمة عن ابن عباس رضي الله عنهما قال : لَعَنَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بالنِّسَاءِ ، والمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بالرِّجَالِ

Muhammad bin Basyaar telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ja’far telah menceritakan kepada kami, Syu’bah telah menceritakan kepada kami dari Qotadah dari ‘Ikrimah dari Ibnu Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan, “Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melaknat[1] laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai wanita”[2].

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,

قال الطبري المعنى لا يجوز للرجال التشبه بالنساء في اللباس والزينة التي تختص بالنساء ولا العكس

‘Ath Thobroni Rohimahullah mengatakan, ‘Maknanya tidak boleh/haram hukumnya bagi laki-laki menyerupai wanita dalam masalah pakaian, perhiasan yang khusus bagi wanita dan sebaliknya’[3].

Kemudian beliau mengatakan,

قلت وكذا في الكلام والمشي

‘Aku katakan, demikian juga dalam hal gaya berbicara dan berjalan’[4].

Kemudian beliau melanjutkan,

فأما هيئة اللباس فتختلف باختلاف عادة كل بلد فرب قوم لا يفترق زى نسائهم من رجالهم في اللبس لكن يمتاز النساء بالاحتجاب والاستتار وأما ذم التشبه بالكلام والمشي فمختص بمن تعمد ذلك وأما من كان ذلك من أصل خلقته فإنما يؤمر بتكلف تركه والادمان على ذلك بالتدريج فإن لم يفعل وتمادى دخله الذم ولا سيما أن بدا منه ما يدل على الرضا به.

‘Adapaun masalah model pakaian, maka hal ini berbeda sebagaimana berbedanya kebiasaan setiap tempat. Sehingga sebagaian masyarakat tidak membedakan model pakaian antara laki-laki dan perempuan. Namun mereka membedakan laki-laki dan perempuan dalam masalah hijab dan penutup auratnya. Adapaun celaan bagi penyerupaan (laki-laki dengan perempuan atau perempuan dengan laki-laki –ed.) dalam masalah gaya bicara dan berjalan maka hal ini khusus bagi orang yang sengaja melakukan hal itu. Sedangkan orang yang memang demikian keadaannya yaitu bawaan lahirnya memang demikian maka orang semisal ini diperintahkan untuk meninggalkan hal tersebut secara sungguh-sungguh dan terus menerus serta bertahap. Namun apabila dia tidak melakukan hal tersebut dan membiarkannya maka orang ini adalah orang yang tercela yang termasuk dalam celaan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Bahkan lebih lagi jika nampak pada dirinya kerelaan atas hal itu’[5].

Syaikh Fu’ad bin ‘Abdul Aziz Syalhuub hafidzahulla mengatakan,

وفيه وعيدٌ شديد، ولعن من الرسول صلى الله عليه وسلم أكيد. فعن ابن عباس-رضي الله عنهما- قال: لعن رسول الله صلى الله عليه وسلم المتشبهين من الرجال بالنساء، والمتشبهات من النساء بالرجال وفي لفظ آخر: لعن النبي صلى الله عليه وسلم المخنثين من الرجال، والمترجلات من النساء . وقال أخرجوهم من بيوتكم . قال: فأخرج النبي صلى الله عليه وسلم فلاناً، وأخرج عمر فلاناً. والتشبه قد يكون في اللباس، وقد يكون في الكلام، وقد يكون في المشي ونحو ذلك. فمتى تعاطى الرجل ماهو من خصائص النساء في مشيهن أو كلامهن أو لبسهن فقد دخل في اللعن ، أو متى تعاطت المرأة ماهو من خصائص الرجل في مشيهم أو كلامهم أو لباسهم فقد دخلت في اللعن .

‘Terdapat peringatan keras dalam masalah ini dan laknat yang tegas dari Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Telah diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma,

لَعَنَ رَسُولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – المُتَشَبِّهِينَ مِنَ الرِّجَالِ بالنِّسَاءِ ، والمُتَشَبِّهَاتِ مِنَ النِّسَاءِ بالرِّجَالِ.

“Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melaknat[6] laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai wanita”[7].

Dalam lafadz lain disebutkan,

لعن النبي صلى الله عليه وسلم المخنثين من الرجال، والمترجلات من النساء . وقال أخرجوهم من بيوتكم . قال: فأخرج النبي صلى الله عليه وسلم فلاناً، وأخرج عمر فلاناً

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melaknat laki-laki yang kebanci-bancian dan perempuan yang kelaki-lakian. Beliau mengatakan, ‘Keluarkan/usirlah mereka dari rumah kalian’. Maka Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun mengeluarkan/usir si Fulan. Kemudian ‘Umar pun mengeluarkan/usir si Fulan”[8].

Bentuk penyerupaan disini dapat berupa dalam hal pakaian, gaya bicara, gaya berjalan dan lain sebagainya. Maka ketika seorang laki-laki sengaja melakukan sesuatu yang khusus bagi wanita berupa hal-hal di atas berupa gaya berjalan mereka, gaya bicara mereka, pakaian mereka maka dia termasuk dalam laknat. Atau ketika seorang wanita sengaja melakukan sesuatu yang merupakan kekhususan bagi laki-laki dalam gaya berjalan, gaya bicara, pakaian maka dia termasuk dalam laknat’[9].

Maka dari penjelasan ulama di atas, dapat kita simpulkan :

[1]. Terlarang/haram bahkan mendapat laknat orang yang menyerupai lawan jenis dalam hal-hal yang diluar kebaiakan agama. Termasuk hal yang dilarang adalah penyerupaan dalam masalah pakaian, gaya bicara, berjalan dan lain sebagainya,

[2]. Haramnya bahkan terlaknatnya perbuatan menyerupai lawan jenis dengan sengaja walaupun hanya sekedar untuk guyon/bahan tertawaan,

[3]. Bagi orang yang sudah memiliki tabiat menyerupai lawan jenis maka wajib baginyanya berusaha dengan keras untuk menghilangkan hal itu; dan

[4]. Harus adanya ingkarul mungkar dalam masalah ini.

 

Mudah-mudahan bermanfaat.

 

 

 

Sigambal, setelah subuh

28 Jumadits Tsani 1435 H /28 April 2014 M

Aditya Budiman bin Usman

 

[1]Makna Laknat adalah dijauhkan dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.

[2]HR. Bukhori no. 5885.

[3]Lihat Fathul Bari hal. 381/XIII terbitan Dar Ath Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[4]Idem.

[5]Idem.

[6]Makna Laknat adalah dijauhkan dari rahmat Allah ‘Azza wa Jalla.

[7]HR. Bukhori no. 5885.

[8]HR. Bukhori no. 5886.

[9]Lihat Kitabul Adab hal. 269 terbitan Darul Qosim Riyadh, KSA.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply