Faidah Dakwah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam

9 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Faidah Dakwah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam

Alhamdulillah wa shollatu wa sallamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa aalihi wa ashaabihi ajma’ain.

Sungguh pada diri Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam telah terdapat suri tauladan dan panutan dalam segala hal. Allah ‘Azza wa Jalla telah mengabadikan hal ini dalam firman Nya,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al Ahzab [33] : 21)

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

هذه الآية الكريمة أصل كبير في التأسي برسول الله صلى الله عليه وسلم في أقواله وأفعاله وأحواله

“Ayat yang mulia ini merupakan pondasi/dalil yang agung dalam hal menjadikan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai suri tauladan/panutan dalam hal perkataan-perkataannya, perbuatan-perbuatannya dan keadaannya”[1].

Maka termasuk dalam masalah ini adalah bagaimana sikap kita dalam berdakwah. Maka lihatlah bagaimana Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berdakwah, baik dalam hal kata-kata, tingkah pola dan keadaannya.

Al Imam Bukhori dan Muslim Rohimahumallah telah meriwayatkan dalam kitab Shohih keduanya,

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَتَى عَلَى امْرَأَةٍ تَبْكِى عَلَى صَبِىٍّ لَهَا فَقَالَ لَهَا « اتَّقِى اللَّهَ وَاصْبِرِى ». فَقَالَتْ إِلَيْكَ عَنِّى وَمَا تُبَالِى بِمُصِيبَتِى. فَلَمَّا ذَهَبَ قِيلَ لَهَا إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-. فَأَتَتْ بَابَهُ فَلَمْ تَجِدْ عَلَى بَابِهِ بَوَّابِينَ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَعْرِفْكَ. فَقَالَ « إِنَّمَا الصَّبْرُ عِنْدَ أَوَّلِ صَدْمَةٍ ».

Dari ‘Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu, ‘Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menemui seorang wanita yang sedang menangis karena baru saja ditinggal mati anaknya yang masih kecil. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berkata kepada wanita tersebut, “Bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Maka wanita tersebut menjawab, ‘Menjauhlah dariku, Engkau tidak mendapat musibah seperti yang aku alami’. Kemudian ketika Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam meninggalkannya, ada yang mengatakan kepada wanita tersebut bahwa yang baru saja berbicara dengannya adalah Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Setelah mendengar hal itu maka wanita itupun segera mendapati rumah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan dia tidak menemukan ada yang menjaga pintu rumah beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian dia mengatakan, ‘Wahai Rosulullah, aku (waktu itu –ed.) tidak mengenalimu’. Maka Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya sabar itu hanya ada pada saat guncangan pertama musibah”[2].

Dalam hadits yang mulia ini terdapat banyak sekali faidah terutama dengan hal yang berhubungan dengan musibah dan kesabaran. Namun yang menjadi topik pembicaraan kita di sini adalah seputar faidah dakwah.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

أن النبي صلى الله عليه وسلم مر بامرأة وهي عند قبر صبي لها قد مات وكانت تحبه حباً شديداً فلم تملك نفسها أن تخرج إلى قبره لتبكي عنده فلما رآها الرسول صلى الله عليه وسلم أمرها بتقوى الله والصبر .

قال لها: اتقي الله واصبري فقالت له إليك عني فإنك لم تصب بمصيبتي إليك عني أي أبعد عني .

وهذا يدل على أن المصيبة قد بلغت منها مبلغاً عظيماً، فانصرف النبي صلى الله عليه وسلم عنها .

ثم قيل لها إن هذا رسول الله صلى الله عليه وسلم فندمت وجاءت إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى بابه وليس على الباب بوابون أي ليس عنده أحد يمنع الناس من الدخول عليه فأخبرته وقالت إنني لم أعرفك فقال النبي صلى الله عليه وسلم: إنما الصبر عند الصدمة الأولى

“Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam suatu ketika melalui seorang wanita yang sedang berada di sisi kuburan anaknya yang telah wafat dalam keadaan masih kecil. Wanita tersebut sangat mencintai anaknya sehingga dia tidak mampu mengendalikan kesedihan jiwanya yang berdampak keluarnya ia dari rumahnya menuju kuburan untuk menangis di dekatnya. Ketika Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melihatnya, beliau kemudian memerintahkannya untuk bertaqwa dan bersabar.

Lalu dia mengatakan kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, ‘Menjauhlah dariku karena sesungguhnya kamu tidak mendapatkan musibah sebagaimana musibah yang menimpaku”.

Hal ini menunjukkan bahwa wanita tersebut sedang mengalami kesedihan yang sangat mendalam. Lalu beliaupun berpaling dari wanita tersebut. kemudian ada yang memberitahukan kepada wanita tersebut bahwa yang berbicara tadi dengannya adalah Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Kemudian dia menyesal telah memperlakukan beliau demikian. Lalu dia mendatangi rumah beliau dan tidak ada seorangpun yang berjaga di depan pintunya. Kemudian dia mengatakan bahwa dia tadi tidak mengenal beliau. Lalu beliau mengatakan, “Sesungguhnya sabar itu hanya ada pada saat guncangan pertama musibah”[3].

Kemudian beliau mengatakan,

ففي هذا الحديث عدة فوائد:

أولاً حسن خلق الرسول عليه الصلاة والسلام ودعوته إلى الحق وإلى الخير فإنه لما رأى هذه المرأة تبكي عند القبر أمرها بتقوى الله والصبر. ولما قالت إليك عني لم ينتقم لنفسه ولم يضربها ولم يقمها بالقوة لأنه عرف أنه أصابها من الحزن ما لا تستطيع أن تملك نفسها ولهذا خرجت من بيتها لتبكي على هذا القبر.

ومن فوائد هذا الحديث أن الإنسان يعذر بالجهل سواء أكان جهلاً بالحكم الشرعي أم جهلاً بالحال فإن هذه المرأة قالت للرسول صلى الله عليه وسلم إليك عني وقد أمرها بالخير والتقوى والصبر ولكنها لم تعرف أنه رسول الله صلى الله عليه وسلم فلهذا عذرها الرسول عليه الصلاة والسلام .

“Pada hadits ini terdapat banyak faidah yang dapat diambil. Diantaranya adalah

[1].   Bagusnya akhlak dan cara berdakwah Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang mengajak kepada kebenaran dan kebaikan. Ketika beliau melihat wanita tersebut menangis di sisi kubur anaknya maka beliau memerintahkannya untuk bertaqwa dan bersabar. Ketika wanita tersebut mengatakan, ‘Menjauhlah dariku’. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak marah kepada dirinya sendiri, tidak memukul dan tidak menghukum wanita tersebut dengan keras. Hal ini beliau lakukan karena beliau mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mendapatkan kesedihan yang sangat mendalam sehingga dia tidak mampu menguasai dirinya sendiri. Oleh karena itulah dia keluar dari rumahnya menuju kuburan anaknya.

[2].  Sesungguhnya seorang manusia mendapatkan udzur/keringanan atas ketidaktahuannya baik ketidaktahuan atas hukum syar’i ataupun ketidaktahuan keadaan/haal. Karena wanita tersebut mengatakan kepada Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, ‘Menjauhlah dariku’ padahal beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahkannya kepada kebaikan, taqwa dan sabar. Akan tetapi dia tidak mengenali Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, oleh karena itulah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam memberikan udzur kepadanya”[4].

Maka marilah mencontih Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dalam akhlak dan cara beliau berdakwah. Mudah-mudahan bermanfaat.

 

 

Sigambal, bersama Syifa

05 Rojab 1435 H /04 Mei 2014 M / Aditya Budiman bin Usman

 

[1]Lihat Tafsir Ibnu Katsir.

[2]HR. Bukhori no. 1252 dan Muslim no. 926.

[3]Lihat Syarh Riyadhush Sholihih hal. 110/I terbitan Darul Aqidah, Mesir.

[4]Idem hal. 111/I.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply