Dzikir Dengan Hati, Lisan dan Anggota Badan

9 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dzikir Dengan Hati, Lisan dan Anggota Badan

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Sekitar 9 tahun yang lalu kami pernah memposting makna dzikr dalam Firman Allah Subhana wa Ta’ala Surat Thoha ayat : 124. Ibnul Qoyyim Rohimahullah memberikan tafsiran makna yang sangat luas terkait makna dzikir dalam ayat ini yang intinya adalah ittiba’ kepada Kitabullah (silakan klik di sini).

Hal yang intinya hampir sama namun lebih mudah dipahami insya Allah sebagaimana yang dikemukan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah berikut ini[1],

“Hendaklah diketahui bahwa dzikir kepada Allah itu dapat dengan hati, lisan dan anggota badan. Dzikir dengan hati adalah dengan tafakkur, yaitu seseorang memikirkan, merenungkan tentang nama-nama Allah, shifat-shifatNya, hukum-hukumNya, perbuatanNya dan tanda-tanda Nya.

Adapun dzikir dengan lisan maka sudah jelas, mencakup setiap kata yang dapat mendekatkan diri kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Diantaranya kalimat tahlil (Laa ilaaha Illallah), tashbih (Subhanallah), takbir (Allahu akbar), membaca Al Qur’an, mengajak pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, membaca hadits Nabi dan berbagai cabang ilmu syar’i lainnya”.

“Adapun dzikir dengan perbuatan adalah dzikir kepada Allah dengan berbagai perbuatan anggota badan, yaitu setiap perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah semisal berdiri untuk melaksanakan sholat, rukuk, sujud, dan selainnya. Namun secara umum (urf) di masyarakat bahwa dzikir kepada Allah maksudnya adalah ucapan tashbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah) dan tahlil (Laa ilaaha illallah)”.

 

Kesimpulannya :

  • Dzikir dalam makna sempit berarti ucapan tashbih (Subhanallah), tahmid (Alhamdulillah) dan tahlil (Laa ilaaha illallah) dan lain-lain yang mampu mendekatkan diri seseorang kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Atau dengan kata lain, dzikir dalam makna sempit terkait dengan dzikir lisan.
  • Adapun secara luas makna makna dzikir itu adalah ittiba’ kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa sallam terkait amalan hati, lisan dan anggota badan. Allahu a’lam.

 

Baik dzikir dalam pengertian sempit ataupun luas merupakan sebuah hal yang urgen bagi setiap individu seorang muslim. Betapa tidak, lihatlah ungkapan ibunda kaum mukminin, ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha berikut,

مَا مِنْ سَاعَةٍ تَمُرُّ بِابْنِ آدَمَ لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهَا إِلَّا تَحَسَّرُ عَلْيْهَا يَوْمَ القِيَامَةِ

“Tidaklah setiap waktu anak keturuan Adam yang berlalu dimana tidak dia digunakan untuk berdzikir kepada Allah melainkan akan menjadi penyesalan baginya di hari qiyamat”[2].

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq bin ‘Abdul Muhsin Al Badr Hafizhahullah mengatakan,

Maka setiap kesempatan seorang hamba yang kosong dari dzikir kepada Allah merupakan sesuatu yang dapat mengancamnya. Kerugiannya lebih besar dibandingkan kenikmatan yang didapatkan dari lalai berdzikir kepada Allah. Penyesalannya akan semakin terasa besar ketika kelak bertemu dengan Allah pada hari qiyamat”[3].

Mari sibukkan waktu kita dengan berdzikir kepada Allah baik dalam artian luas maupun sempit.. Ini jauh lebih bermanfaat bagi kita dari pada gaduh di sosmed dalam perkara yang kita tidak dapat memastikan apakah itu akan bermanfaat bagi kita di akhirat atau malah menjadi sebab mendapat adzab Allah…

 

 

Sigambal, menjelang tidur

26 Dzul Qo’dah 1439 H, 8 Agustus 2018 M

 

 

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

[1] Lihat Syarh Riyadhus Sholihin hal. 483-484/ V terbitan Madarul Wathon, Riyadh, KSA.

[2] HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Imana no. 508, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 362/V. Hadits ini dinilai hasan oleh Al Albani Rohimahullah.

[3] Lihat Fiqih Al Ad’iyah wal Adzkar hal. 13/I terbitan Kunuz Isybiliy, Riyadh/ KSA.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply