Diantara Keutamaan Khodijah

20 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Diantara Keutamaan Khodijah

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Ketika kita tahu kehebatan seseorang maka kita akan kagum dan takjub. Seorang remaja kagum dengan seorang artis Korea karena dia tahu kelebihan sang artis. Demikian juga seorang pemuda ketika dia mengenal kelebihan seorang personel band, maka dia akan sangat mengaguminya.

Namun keadaan kita sekarang adalah keadaan dimana kita dijejali dengan informasi yang mengarahkan kita pada tokoh yang antah berantah. Kita diajak mengagumi orang-orang yang cenderung jauh dari agama Allah. Sehingga kita sama-sama dapat melihat hasilnya, generasi muda kita kebanyakan mengidolakan artis, musisi, dan orang-orang yang tidak jelas lainnya. Bahkan kita diajak untuk mengidolakan musuh-musuh Allah dari kalangan ahli filsafat.

Padahal para ulama demikian kerasnya mendorong kita untuk mengenal tokoh-tokoh dalam Islam terutama generasi para shahabat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Diantaranya adalah Imam Muslim bin Hajjaj Rohimahullah. Beliau mencuplikkan banyak sekali hadits yang berisi keutamaan para shahabat.

Pada kesempatan kali ini kita akan menukilkan keutamaan Istri Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang pertama yaitu Khodijah rodhiyallahu ‘anha. Kita memilih seorang shohabiyah karena demikian banyak pemudi yang demikian histeris ketika bertemu artis Korea, bahkan yang lebih parah lagi ada yang sampai pingsan- na’udzu billah.

باب فَضَائِلِ خَدِيجَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ رضى الله تعالى عنها.

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِى شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ وَأَبُو أُسَامَةَ ح وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ وَوَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ ح وَحَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا عَبْدَةُ بْنُ سُلَيْمَانَ كُلُّهُمْ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ وَاللَّفْظُ حَدِيثُ أَبِى أُسَامَةَ ح وَحَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ جَعْفَرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَلِيًّا بِالْكُوفَةِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ ». قَالَ أَبُو كُرَيْبٍ وَأَشَارَ وَكِيعٌ إِلَى السَّمَاءِ وَالأَرْضِ.

Bab keutamaan Khodijah Ummul Mukminin rodhiyallahu ‘anha

Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami, ‘Abdullah bin Numair dan Abu Usamah telah menceritakan kepada kami. Dalam jalur periwayatan lainnya Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami, Abu Usamah, Ibnu Numair serta Waki’ dan Abu Umamah telah menceritakan kepada kami. Dalam jalur periwayatan lainnya Ishaq bin Ibrohim telah menceritakan kepada kami. ‘Abdah bin Sulaiman telah mengabarkan kepada kami. Seluruhnya dari Hisyam bin ‘Urwah (lafazh ini milik Abu Usamah). Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami. Abu Usamah telah menceritakan kepada kami dari Hisyam dari ayahnya. Ayahnya berkata, “Aku mendengar ‘Abdullah bin Ja’far mengatakan, “Aku mendengar ‘Ali berkata ketika dia berada di Kufah, dia mengakatan,

“Aku mendengar Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

خَيْرُ نِسَائِهَا مَرْيَمُ بِنْتُ عِمْرَانَ وَخَيْرُ نِسَائِهَا خَدِيجَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ

“Sebaik-baik wanita di masa silam adalah Maryam binti ‘Imron. Sedangkan sebaik-baik wanita di masa ummat ini adalah Khodijah bin Khuwailid[1].

Abu Kuraib mengatakan, “Wakii’ berisyarat ke arah langit dan bumi”.

Imam Nawawi Rohimahullah mengatakan,

أراد وكيع بهذه الإشارة تفسير الضمير في نسائها, وأن المراد به جميع نساء الارض. أي كل من بين السماء والارض من النساء. والأظهر أن معناه : أن كل واحدة منهما خير نساء الارض في عصرها. وأما التفضيل بينهما فمسكوت عنه. قال القاضي : ويحتمل أن المراد أنهما من خير نساء الارض والصحيح الاول.

Wakii’ bermaksud dengan isyaratnya untuk menafsirkan dhomir/kata ganti pada kata ‘wanita di masa ummat ini’ adalah seluruh wanita diantara langit dan bumi. Makna yang paling nampak adalah bahwa masing-masing dari keduanya merupakan wanita terbaik di bumi di masing-masing masanya. Sedangkan manakah yang lebih utama maka hal itu merupakan hal yang tidak diperbincangkan. Al Qodhiy Rohimahullah, “Dimungkinkan juga yang dimaksudkan adalah keduanya merupakan wanita terbaik yang ada di bumi. Namun makna yang benar adalah tafsir yang pertama[2].

Hadits berikutnya,

Dari Abu Musa, dia mengatakan, ‘Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda,

كَمَلَ مِنَ الرِّجَالِ كَثِيرٌ وَلَمْ يَكْمُلْ مِنَ النِّسَاءِ غَيْرُ مَرْيَمَ بِنْتِ عِمْرَانَ وَآسِيَةَ امْرَأَةِ فِرْعَوْنَ وَإِنَّ فَضْلَ عَائِشَةَ عَلَى النِّسَاءِ كَفَضْلِ الثَّرِيدِ عَلَى سَائِرِ الطَّعَامِ

“Laki-laki sempurna itu banyak. Sedangkan wanita sempurna tidak banyak sempurna melainkan dengan Maryam bin ‘Imron dan Aasiyah istrinya Fir’aun. Sesungguhnya keutamaan ‘Aisyah atas wanita yang lainnya seperti keutamaan tsarid (bubur) dibandingkan dengan makanan lainnya”[3].

Imam Nawawi Rohimahullah mengatakan,

قال القاضي هذا الحديث يستدل به من يقول بنبوة النساء ونبوة آسية ومريم والجمهور على أنهما ليستا نبيتين بل هما صديقتان ووليتان من أولياء الله تعالى.

Al Qodhiy Rohimahullah mengatakan, “Hadits ini dijadikan dalil oleh sebagian orang yang berpendapat bahwasanya kenabian juga ada pada wanita yaitu Aasiyah dan Maryam. Namun Jumhur ulama berpendapat bahwa keduanya (Aasiyah dan Maryam) bukanlah nabi namun keduanya adalah dua wanita yang siddiq dan wali dari wali-wali Allah Subhanahu wa Ta’ala[4].

Hadits selanjutnya,

عَنْ أَبِى زُرْعَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ أَتَى جِبْرِيلُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذِهِ خَدِيجَةُ قَدْ أَتَتْكَ مَعَهَا إِنَاءٌ فِيهِ إِدَامٌ أَوْ طَعَامٌ أَوْ شَرَابٌ فَإِذَا هِىَ أَتَتْكَ فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ مِنْ رَبِّهَا عَزَّ وَجَلَّ وَمِنِّى وَبَشِّرْهَا بِبَيْتٍ فِى الْجَنَّةِ مِنْ قَصَبٍ لاَ صَخَبَ فِيهِ وَلاَ نَصَبَ.

Dari Abu Zur’ah, dia berkata, ‘Aku mendengar Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu mengatkan, “Jibril mendatangi Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam kemudian berkata, “Wahai Rosulullah ini Khodijah akan datang menemuimu dan membawa wadah berisi makanan dan minuman. Jika dia datang menemuimu maka sampaikanlah salam kepadanya dari Robb nya dan dari aku (Jibril). Kemudian berikanlah kabar gembira untuknya bahwa dia memiliki rumah di surga yang terbuat dari emas dan perak, padanya tidak ada kebisingan dan kesusahan[5].

Imam Nawawi Rohimahullah mengatakan,

فاقرأ عليها السلام أي سلم عليها وهذه فضائل ظاهرة لخديجة رضي الله عنها

“Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (فَاقْرَأْ عَلَيْهَا السَّلاَمَ) maksudnya adalah sampaikan salam untuknya. Ini (salam dari Allah dan Jibril serta kabar rumah di surga) merupakan keutamaan yang nyata untuk Khodijah Rodhiyallahu ‘anha”[6].

Hadits selanjutnya

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا غِرْتُ عَلَى امْرَأَةٍ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ وَلَقَدْ هَلَكَتْ قَبْلَ أَنْ يَتَزَوَّجَنِى بِثَلاَثِ سِنِينَ لِمَا كُنْتُ أَسْمَعُهُ يَذْكُرُهَا وَلَقَدْ أَمَرَهُ رَبُّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُبَشِّرَهَا بِبَيْتٍ مِنْ قَصَبٍ فِى الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ لَيَذْبَحُ الشَّاةَ ثُمَّ يُهْدِيهَا إِلَى خَلاَئِلِهَا.

Dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Aku tidak cemburu pada seorang wanita pun melebihi kecemburuanku pada Khodijah. Sungguh dia telah wafat 3 tahun sebelum Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menikahi aku. Kecemburuanku disebabkan aku pernah mendengar Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menyebut-nyebut dia (Khodijah). Robbnya pun menyuruh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam untuk memberikan kabar gembira kepadanya (Khodijah) bahwa dia mendapatkan rumah di surga yang terbuta dari perhiasan. Ditambah lagi apabila beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menyembelih kambing lalu beliau akan menghadiahkan shahabat-shahabat Khodijah ketika dia masih hidup”[7].

Imam Nawawi Rohimahullah mengatakan,

قال الخطابي وغيره المراد بالبيت هنا القصر

Al Khothobiy Rohimahullah mengatakan, “Yang dimaksud dengan rumah dalam hadits ini adalah istana (di surga)”[8].

Dalam jalur periwayatan lain disebutkan,

مَا غِرْتُ عَلَى نِسَاءِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- إِلاَّ عَلَى خَدِيجَةَ وَإِنِّى لَمْ أُدْرِكْهَا. قَالَتْ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا ذَبَحَ الشَّاةَ فَيَقُولُ « أَرْسِلُوا بِهَا إِلَى أَصْدِقَاءِ خَدِيجَةَ ». قَالَتْ فَأَغْضَبْتُهُ يَوْمًا فَقُلْتُ خَدِيجَةَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنِّى قَدْ رُزِ  قْتُ حُبَّهَا ».

“Aku tidak cemburu pada seorang wanita pun melebihi kecemburuanku pada Khodijah. Padahal aku tidak pernah menjumpainya”. ‘Aisya Rodhiyallahu ‘anha mengatakan, “Merupakan kebiasaan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam apabila beliau menyembelih kambing maka dia akan mengatakan, “Kirimkanlah ini (daging kambing) kepada shahabat-shahabatnya”. ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha mengatakan, “Akupun marah pada suatu hari dan mengatakan ‘Khodijah…’. Lalu Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar telah dianugrahi cintanya Khodijah[9].

Imam Nawawi Rohimahullah mengatakan,

 صلى الله عليه و سلم ( رزقت حبها ) فيه إشارة إلى أن حبها فضيلة حصلت

“Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (إِنِّى قَدْ رُزِقْتُ حُبَّهَا) ‘Sesungguhnya aku benar-benar telah dianugrahi cintanya Khodijah’ terdapat isyarat yang menunjukkan bahwasanya cinta Khodijah merupakan sebuah keutamaan yang tetap ada”[10].

 

Hadits berikutnya,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا غِرْتُ لِلنَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى امْرَأَةٍ مِنْ نِسَائِهِ مَا غِرْتُ عَلَى خَدِيجَةَ لِكَثْرَةِ ذِكْرِهِ إِيَّاهَا وَمَا رَأَيْتُهَا قَطُّ.

Dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Aku tidak cemburu kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam karena seorang wanita dari istri-istri beliau yang lain melebihi kecemburuaku terhadap Khodijah, karena beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sering kali menyebut-nyebutnya (kelebihannya) di hadapanku padahal aku tidak pernah melihatnya sama sekali”[11].

Hadits berikutnya,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ لَمْ يَتَزَوَّجِ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى خَدِيجَةَ حَتَّى مَاتَتْ.

Dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak menikah lagi dengan wanita lain untuk memadu Khodijah kecuali setelah Khodijah wafat”[12].

Hadits terakhir,

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتِ اسْتَأْذَنَتْ هَالَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ أُخْتُ خَدِيجَةَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَعَرَفَ اسْتِئْذَانَ خَدِيجَةَ فَارْتَاحَ لِذَلِكَ فَقَالَ « اللَّهُمَّ هَالَةُ بِنْتُ خُوَيْلِدٍ ». فَغِرْتُ فَقُلْتُ وَمَا تَذْكُرُ مِنْ عَجُوزٍ مِنْ عَجَائِزِ قُرَيْشٍ حَمْرَاءِ الشِّدْقَيْنِ هَلَكَتْ فِى الدَّهْرِ فَأَبْدَلَكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهَا.

Dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, dia berkata, “Halah bintu Khuwailid (saudara perempuan Khodijah) pernah meminta izin untuk masuk ke rumah Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam merasa mengenal suara minta izinnya mirip dengan suara Khodijah hingga membuat beliau merasa senang. Kemudian Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berkata, “Yaa Allah ternyata Halah bintu Khuwailid”. (‘Aisyah berkata), ‘Itu membuatku cemburu kemudian aku berkata, ‘Mengapa engkau (wahai Nabi) masih saja mengingat wanita dari suku Quroisy yang sudah tua renta itu, yang kedua ujung bibirnya telah memerah dan sudah tiada sekarang padahal Allah sudah memberikan ganti yang lebih baik daripada dia”.

Imam Nawawi Rohimahullah mengatakan,

قولها (فَارْتَاحَ لِذَلِكَ) أي هش لمجيئها وسر بها لتذكره بها خديجة وأيامها. وفي هذا كله دليل لحسن العهد وحفظ الود ورعاية حرمة الصاحب والعشير في حياته ووفاته وإكرام أهل ذلك الصاحب

“Ucapan ‘Aisyah (فَارْتَاحَ لِذَلِكَ) ‘Hingga membuat beliau merasa senang yaitu beliau tersenyum riang gembira karenanya disebabkan suara itu mengingatkan beliau kepada Khodijah dan hari-hari bersama beliau. Pada hadits-hadits ini semuanya terdapat dalil yang menunjukkan baiknya kasih sayang, menjaga keharmonisan rumah tangga, menjaga kehormatan istri dan terus mempergauli dan berbuat baik kepadanya ketika masih hidup dan ketika sudah tiada. Pada hadits ini juga terdapat dalil yang menunjukkan memuliakan istri dan shahabatnya”[13].

Imam Nawawi Rohimahullah mengatakan,

قال القاضي قال المصري وغيره من العلماء الغيرة مسامح للنساء فيها لا عقوبة عليهن فيها لما جبلن عليه من ذلك ولهذا لم تزجر عائشة عنها قال القاضي وعندي أن ذلك جرى من عائشة لصغر سنها وأول شبيبتها ولعلها لم تكن بلغت حينئذ

Al Qodhiy Rohimahullah mengatakan, ‘Al Mishriy Rohimahullah dan ulama lainnya berpendapat, “Cemburu merupakan tabiat yang teranugrahkan untuk para wanita dan mereka tidak akan dihukumi dosa karena itu disebabkan kecemburuan memang sudah (Allah) jadikan pada diri mereka. Karena itulah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak menegur ‘Aisyah”.

Al Qodhiy Rohimahullah mengatakan, “Pendapatku, kecemburuan ‘Aisyah yang demikian karena usianya yang masih belia dan baru baligh. Mungkin juga itu muncul ketika beliau Rodhiyallahu ‘anha belum baligh[14].

 

Faidah :

  1. Khadijah Rodhiyallahu ‘anha merupakan salah satu wanita terbaik dan sangat berkesan bagi Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dalam banyak hal. Hingga setelah wafatnya pun Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam masih ingat persis suaranya.
  2. Keistimewaan khadijah Rodhiyallahu ‘anha dibangun rumah disurga yang terbuat dari perhisaan, mendapatkan salam dari Robbnya dan malaikat yang paling mulia.
  3. Termasuk berbuat baik kepada istri memberikan kemanfaatan baik berupa hadiah kepada shahabat-shahabat istri.
  4. Cemburu merupakan bawaan wanita. Kecemburuan ini akan semakin tersulut apabila sang wanita masih muda belia, suami sering menyebutkan kebaikan wanita lain termasuk bekas istri dan istri lainnya. Kecemburuan ini akan semakin meningkat bila sang istri pernah melihat sang madu atau mantan istri.
  5. Sikap seorang pria ketika istrinya cemburu tidak boleh marah, karena cemburu merupakan tabiat yang Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepada mereka. Itulah sikap yang Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam
  6. Masih banyak faidah lainnya, Allahu a’lam.

 

 

 

Setelah Subuh 1 Dzul Qo’dah 1436 H / 16 Agustus 2015 M.

Aditya Budiman bin Usman

[1] HR. Muslim no. 2430.

[2] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi Rohimahullah hal. 193-194/VIII Terbitan Darul Ma’rifah, Beirut, Lebanon.

[3] HR. Muslim no. 2431.

[4] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi Rohimahullah hal. 194/VIII.

[5]HR. Muslim no. 2432.

[6] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi Rohimahullah hal. 195/VIII.

[7] HR. Bukhori no. 3816 dan Muslim no. 2435.

[8] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi Rohimahullah hal. 196/VIII.

[9] Muslim no. 2435.

[10] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi Rohimahullah hal. 197/VIII.

[11] Muslim no. 2435.

[12] Muslim no. 2436.

[13] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi Rohimahullah hal. 198/VIII.

[14] Idem.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply