Dampak Memperturutkan Syahwat

23 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dampak Memperturutkan Syahwat

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Para ulama secara umum membagi sabar menjadi 3 bagian. Yaitu bersabar ketika melaksanakan perintah syari’at, bersabar dari melakukan kemaksiatan dan bersabar atas takdir Allah ‘Azza wa Jalla.

Salah satu tuntutan dari sabar dari melakukan maksiat adalah sabar dari memperturutkan hawa nafsu. Sebab secara umum hawa nafsu mengajak kepada keburukan. Allah Tabaroka wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي

 “Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku”. (QS. Yusuf [12] : 53).

Syaikh ‘Abdur Rohman As Sa’diy Rohimahullah mengatakan[1],

{ إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ } أي: لكثيرة الأمر لصاحبها بالسوء، أي: الفاحشة، وسائر الذنوب، فإنها مركب الشيطان، ومنها يدخل على الإنسان {إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي } فنجاه من نفسه الأمارة، حتى صارت نفسه مطمئنة إلى ربها،

“Firman Allah Ta’ala (إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ) ‘’ maksudnya adalah karena banyaknya dorongan perintah hawa nafsu kepada pemiliknya untuk keburukan/perbuatan keji dan seluruh perbuatan dosa lainnya. Sebab hawa nafsulah jalan masuk bagi syaithon. Melaluinya lah syaithon menyelinap kepada manusia. (إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي) ‘kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku’. Maka beruntunglah orang yang menahan dorongan (hawa nafsu -pen) hingga hawa nafsunya tersebut tenang terhadap Robb nya”.

Diantara bentuk dorongan hawa nafsu adalah ingin mengambil sesuatu yang bukan haknya, keinginan makan yang berlebihan dari aturan syari’at, rakus terhadap dunia, ingin melihat sesuatu yang haram, ingin menimbun harta dan enggan mengeluarkan zakat apalagi infaq sedekah.

Untuk mengikis kekuatan dorongan hawa nafsu itu mari simak dan camkan ungkapan Ibnul Qoyyim Rohimahullah berikut. Besar harapan kami kita kembali merenungkan bahaya memperturutkan hawa nafsu sehingga kita mampu menahan diri dari memperturutkannya, Amin.

Sabar terhadap dorongan syahwat itu lebih mudah dari pada sabar terhadap akibat dari memperturutkannya. Karena sesungguhnya boleh jadi (memperturutkannya –pen) akan mengakibatkan penderitaan dan hukuman. Boleh jadi akan terputuslah dari kelezatan yang lebih sempurna dibandingikan itu. Boleh jadi tersia-siakannya waktu yang mana menyia-nyiakan waktu berujung pada kerugian dan penyesalan. Boleh jadi anda akan meretakkan kehormatan padahal menjaganya lebih bermanfaat dibandingkan meretakkannya. Boleh jadi anda akan kehilangan harta padahal tetapnya lebih baik dari pada sirnanya. Boleh jadi anda akan merendahkan kehormatan dan kedudukan anda padahal tegaknya kehormatan lebih baik dari pada rendahnya. Boleh jadi kenikmatan akan terampas padahal tetap adanya lebih lezat dan lebih baik daripada tertunaikannya syahwat. Boleh jadi akan ditemukan cara untuk mejatuhkan diri anda yang mana cara tersebut tidak ditemukan sebelumnya[2]. Boleh jadi anda akan diliputi/didatangi rasa gelisah, risau, sedih dan takut yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kelezatan dari tertunaikannya syahwat. Boleh jadi anda akan lupa dengan ilmu padahal mengingatnya jauh lebih nikmat dibandingkan kesampaiannya syahwat. Boleh jadi anda akan membahagiakan musuh dan membuat sedih pelindung anda. Boleh jadi jalan menuju kenikmatan dikemudian hari akan terputus. Boleh jadi aib akan muncul dan tetap menjadi sifat yang tidak akan hilang. Karena sesungguhnya amal-amal perbuatan itu mewariskan/melahirkan berbagai sifat, karakter dan akhlak[3].

 

Kesimpulannya :

Mari renungkan dampak yang beliau sebutkan. Insya Allah anda akan dapati yang beliau tuturkan benar adanya. Selanjutnya mari pagari hawa nafsu/syahwat kita agar berada di atas jalan yang Allah ‘Azza wa Jalla ridhoi.

 

Setelah Subuh, 20 Robi’ul Akhir 1438 H

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Taisir Karimir Rohman.

[2] Syaikh ‘Ali bin Hasan Hafizhahullah mengatakan, “Maksudnya (memperturutkan –pen) syahwat akan mengakibatkan lidah-lidah lancang mencela anda. Hal ini sering terjadi. Kita memohon keselamatan darinya”.

[3] Lihat Fawaidul Fawaid hal. 340 terbitan Dar Ibnul Jauziy Riyadh, KSA.

 

 

Tulisan Terkait

2 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. joko
    Jan 28, 2017 @ 18:58:52

    assalamualaikum
    saya mau tanya
    saya terkena was2 yang sangat membimbangkan dan membuat rasa serba salah,
    dalam diri saya selalu timbul semacam ada niat hendak murtad dan itu sangat kuat sekali
    “niat lah murtad lah atau semacamnya dan selepas itu mengatakan allah begini dan begitu…sampai pada tingkat meragukan ttg allah dan saya pun sampai terpikir pikir….
    apakah niat itu memang niat atau apa..karena rasa nya seperti ingin berbuat …seperti orang yg ingin sesuatu barang namun ditahan jangan dibuat…
    terimakasih

    Reply

    • Aditya Budiman
      Jan 30, 2017 @ 06:28:54

      Alaikumussalam…
      Pertama mohonlah perlindungan dari Allah atas godaan syaithon dengan beristi’adzah ucapkan A’udzubillah minasy Syaithonir Rojiim.
      Kemudian segeralah tenangkan diri anda. Bayangkan seandainya anda murtad tentu syaithon akan sukses besar mendapatkan teman untuk kekal di neraka.
      Kuatkan tekad anda melawan godaan tersebut dan mintalah kepada Allah keteguhan di atas Islam…Perbanyak dosa sbb.
      Yaa Muqollibal Qulub Tsabbit Qolbi ‘ala Dinik, Yaa Mushorrifal Qulul Shorrif Qolbi ‘ala Tho’atik.
      Allahu a’lam.

      Reply

Leave a Reply