Dampak Bergaul Dengan Orang yang Menyia-nyiakan Waktu

26 Jul

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dampak Bergaul Dengan Orang yang Menyia-nyiakan Waktu

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Waktu adalah suatu yang amat berharga. Bahkan sebagian yang mungkin orientasinya dunia mengibaratkan waktu itu adalah uang. Namun rasanya, jika direnungkan maka waktu lebih berharga berlipat-lipat dari uang. Lihatlah ketika momen lebaran, betapa banyak uang, tenaga, fikiran dan lain-lain habis untuk sekedar melewatkan momen lebaran bersama keluarga.

Ada sebuah fenomena yang life style yang beberapa tahun ini demikian menggeliat. Yaitu nongkrong berjam-jam hanya untuk sekedar menikmati secangkir kopi. Seringnya sambil ngobrol ngalor-ngidul gak jelas bahkan menjurus pada dosa. Boleh jadi ghibah, dan yang semisal. Lebih lagi sekarang beragam jenis grup dan komunitas dunia maya yang boleh jadi lebih parah dari itu. Padahal sadar atau tak sadar dia telah membuang suatu yang amat berharga dalam hidupnya yang tidak bisa dibeli lagi seberapapun banyaknya uang yang dia miliki.

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan[1],

“Sebagian ulama berwasiat, “Hindarilah bergaul dengan orang yang jika engkau berkumpul dengannya hanya akan membuang-buang waktu dan merusak hati. Karena sesungguhnya ketika waktu telah tersia-siakan dan hati pun rusak maka akan sia-sia pula semua urusan/ perkara seorang hamba dan akan termasuk dalam Firman Allah,

وَلَا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

 “Dan Janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami. serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu sia-sia (melampai batas)”.(QS. Al Kahfi [18] : 28).

Syaikh Prof. DR. Sulaiman Ar Ruhaili Hafizhahullah mengatakan,

“Pada ucapan Ibnul Qoyyim ini terdapat peringatan dari bergaul dengan orang yang bila anda bersamanya hanya akan membuang-buang waktu saja dan merusak hati. Sebab pasti yang demikian tidak akan bermanfaat bagi seorang hamba bahkan dapat membahayakannya. Diantara bahayanya (dan ini merupakan sebuah hal yang penting untuk diingatkan) adalah  dapat menyebabkan seorang hamba kehilangan himmah (semangat yang menggelora –dalam ibadah -pen) nya. Padahal seorang hamba itu sangat butuh terhadap himmah ini agar dia mampu sabar di atas keta’atan dan sabar dari melakukan perbuatan maksiat kepada Allah. Namun terbuangnya waktu dan rusaknya hati yang disebabkan bergaul dengan orang yang menyebabkan kedua hal ini, dapat pula berdampak pada rusaknya himmah seseorang terkait urusan dunia dan agamanya. Betapa banyak orang yang semula rajin ibadah, berbuat kebaikan lalu dia bergaul dengan orang yang tidak mengingatkannya kepada Allah, lalu himmahnya untuk ibadah pun lenyap walaupun teman bergaulnya tak mengucapkan sepatah kata pun[2].

Beliau melanjutkan,

“Di zaman kita sekarang banyak sekali sarana untuk bergaul walaupun anda sedang di rumah, pada saat tengah malam melalui sarana smartphone. Aplikasi di smartphone yang dikenal dengan nama WhatsA**, Twi**er dan Faceb**k ini dapat membuat banyak orang senantiasa terhubung (berintersaksi). Padahal kebanyakan interaksinya tidak dalam rangka mengingat Allah. Boleh jadi hanya sekedar urusan dunia, bahkan boleh jadi materi obrolannya mengandung syubhat –wal iyyadzu billah, atau perkara yang dapat menyebabkan saling caci. Maka sudah sepantasnya seseorang berhati-hati dan waspada bergabung dengan grup yang di dalamnya bukan untuk mengingat Allah dan bukan mengajak anda untuk kembali mengingat Allah. Menjauhlah dari grup yang demikian. Karena itu dapat menyebabkan tersia-siakannya waktu dan merusak hati[3].

Faidah yang dapat kita petik dari ungkapan para ulama di atas :

Dampak buruk minimal sering berinteraksi dengan orang-orang yang tidak menghargai waktu (dalam hal ini sering menghabiskan waktu dengan kegiatan yang tidak bermanfaat untuk urusan akhirat bahkan dunia adalah himmah kita untuk mengejar akhirat akan luntur (minimal) bahkan boleh jadi akhirnya bisa hilang.

Boleh jadi juga sering interaksi dengan orang yang demikian malah hati anda terasuki syubhat yang semula anda tidak tahu. Bahkan terkadang syubhat itu terkait dengan masalah aqidah.

Sigambal, sebelum ngantar anak,

17 Dzulqo’dah 1440 H,  20 Juli 2019 M

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

[1] Lihat Risalah Ibni Al Qoyyim Ila Ahadi Ikhwanih hal. 4 terbitan Dar ‘Alam Al Fawaid, KSA

[2] Syarh Risalah Ibni Al Qoyyim Ila Ahadi Ikhwanih hal. 39 terbitam Dar Mirots Nabawi, KSA.

[3] Idem hal. 40.

Tulisan Terkait

Leave a Reply