CinTaH (Cinta, Takut dan Harap)

2 Oct

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

CinTaH (Cinta, Takut dan Harap)

Ketiga kata yang disebutkan dalam judul di atas merupakan kata-kata yang diri kita, hati kita tidak akan lepas darinya. Baik ketika kita masih kecil, menjelang usia muda bahkan ketika kita tua. Namun terkadang kita salah mengartikan dan menyalurkan ketiga hal di atas dengan sesuatu yang terlarang dalam agama. Oleh karena itu menjadi suatu hal yang selayaknya kita tahu ketiga hal di atas dengan benar, untuk itulah mari kita luangkan sejenak waktu kita untuk mempelajari sekelumit tentangnya.

[Makna Cinta]

Ibnul Qoyyim rohimahullah menyebutkan dalam kitabnya Roudhotul Muhibbin[1] bahwa paling tidak ada sekitar 60 kata dalam bahasa arab yang digunakan untuk mengungkapkan makna cinta dan beliau menyebutkan 50 diantaranya. Demikian juga sebagaimana namanya cinta juga memilki berbagai macam tingkatan diantaranya[2],

[1] Al Alaaqoh/hubungan, cinta disebut demikian karena adanya keterkaitan hati orang yang mencintai dan orang yang dicintai.

[2] Shobaahah/kerinduan, cinta disebut demikian karena tertuangnya hati orang yang mencintai kepada orang yang dicintai.

[3] Al Ghorom/cinta yang menyala-nyala, cinta disebut demikian karena rasa cinta yang menetap di dalam hati orang yang mencintai dan tidak terpisahkannya perasaan itu darinya.

[4] Al ‘Isyqu/mabuk asmara, yaitu cinta yang berlebihan.

[5] Asy Syauq/sangat rindu, yaitu berkelananya hati orang yang mencintai menuju sesuatu yang dicintai.

[6] At Tatayyum/penghambaan, yaitu penghambaan orang yang mencintai terhadap yang dicintai. Tingkatan terakhir ini merupakan tingkatan kecintaan yang paling tinggi. Adapun mahabbah maka ia merupakan salah satu kata yang digunakan orang arab untuk mengungkapkan cinta yang artinya luapan dan gejolak hati saat dirundung keinginan bertemu dengan sang kekasih.

[Cinta adalah Salah Satu Sebab Perbuatan dan Gerakan]

Cinta dan keinginan merupakan asal/sebab setiap perbuatan/amal dan gerakan di alam semesta ini, kedua hal itulah yang mengawali segala perbuatan dan gerakan sebagaimana benci dan rasa ketidaksukaan adalah asal/sebab yang mengawali seseorang untuk meninggalkan dan menahan diri dari sesuatu[3]. Demikianlah cinta ia mampu membangkitkan jiwa, menggerakkan hati dan badan jika disebutkan sesuatu yang dicintainya walau yang disebutkan hanya nama sesuatu yang dicintainya tersebut karena rindu yang mendalam kepada yang dicintainya. Hal ini terlihat pada keadaan para pencinta wanita ketika disebutkan nama wanita yang dicintainya demikian pula pada para pencinta dunia dan lain-lain. Hal ini terlihat pula pada para pencinta Allah dan RosulNya ketika nama keduanya atau hal yang berhubungan dengan keduanya disebutkan pada saat dibacakan Al Qur’an. Namun ketahuilah para pembaca -yang semoga Allah merahmati kita semua- seluruh kecintaan di atas adalah cinta yang bathil kecuali kecintaan kepada Allah dan konsekwensi dari kecintaan kepadaNya yaitu cinta kepada Rosul, Al Qur’an dan para kekasih Allah dari orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepada Allah. Maka kecintaan yang demikianlah yang abadi dan abadi pula buahnya sesuai dengan abadinya ketergantungan orang tersebut kepada Allah. Keutamaan cinta ini atas kecintaan kepada yang lain sama dengan keutamaan orang yang bergantung kepada Allah atas orang yang bergantung kepada selainNya. Jika hubungan orang yang saling mencintai dan saling menggantungkan hati itu terputus maka terputus pulalah sebab-sebabnya sehingga yang abadi adalah kecintaan kepada Allah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ

“Ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa dan (ketika) segala asbab antara mereka terputus sama sekali”. (QS. Al Baqoroh [2] : 166).

Al Asbab (الْأَسْبَابُ) dalam ayat ini dimaknai oleh Ibnu Abbas sebagai kecintaan sebagaimana yang diriwayatkan melalui Atho’[4].

[Cinta adalah Dasar, Kesempurnaan dan Kelengkapan dalam Ibadah]

Ibnul Qoyyim rohimahullah menyebutkan bahwa dasar ibadah, kesempurnaan serta kelengkapannya adalah cinta. Karena itulah seorang hamba tidak boleh mempersekutukan Allah dalam kecintaan kepada selainNya[5]. Bahkan dua kalimat yang seseorang tidak akan masuk islam kecuali dengannya yaitu dua kalimat syahadat tidaklah sah jika seseorang yang mengucapkannya kecuali dengan rasa cinta, artinya rasa cinta merupakan salah satu syarat diterima kalimat syahadat seseorang[6]. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah, mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah (melebihi cinta orang musyrik kepada berhala mereka)”. (QS. Al Baqoroh [2] : 165).

Bahkan hakikat peribadatan adalah menghinakan diri dan tunduk kepada yang dicintai. Dengan kata lain yang dinamakan hamba adalah orang yang dihinakan oleh rasa cinta dan ketundukan kepada sesuatu yang dicintai. Oleh karena itulah tingkatan yang paling mulia bagi seorang hamba adalah penghambaan kepada yang dicintainya. Lihatlah betapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebut mahlukNya yang paling mulia dan paling dicintaiNya yaitu Rosulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam dengan sebutan hamba. Sebagaimana dalam firman Allah ‘Azza wa Jalla ketika memperjalankan beliau untuk bertemu langsung dengan Allah di langit yang tidak ada satu Nabi dan Rosulpun yang Allah muliakan dengan hal itu,

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya  agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al Isro’ [17] : 1)[7].

[4 Cinta yang Harus Dibedakan]

Terdapat 4 macam cinta yang harus dibedakan, sebab orang yang tidak membedakannya pasti akan tersesat kerenanya.

[1] Mahabbatullah/cinta kepada Allah. Hal ini saja belum cukup untuk menyelamatkan seseorang dari adzab Allah dan mendapatkan pahalaNya. Sebab kaum musyrikin, penyembah salib dan yahudi juga mencintai Allah[8].

[2] Mahabbatu maa yuhibbullah/mencintai perkara yang Allah cintai. Hal inilah yang memasukkan pelakunya ke dalam islam dan mengeluarkannya dari kekafiran.

[3] Al Hubb lillah wa fillah/mencintai karena Allah dalam keta’atan kepadaNya. Hal ini merupakan konsekwensi dari mencintai perkara yang Allah cintai. Sungguh mencintai sesuatu tidaklah akan benar-benar terwujud kecuali dengan mencintai hal itu karena Allah dan dalam keta’atan kepadaNya.

[4] Al Mahabbatu ma’allah/mencintai selain Allah bersama Allah. Ini adalah kecintaan orang-orang musyrik kepada Allah. Barangsiapa yang mencintai sesuatu bersama Allah bukan karena Allah, bukan sebagai sarana kepada kecintaan pada Allah dan bukan dalam keta’atan kepadaNya maka dia telah menjadikan sesuatu tersebut sebagai tandingan bagi Allah. Seperti inilah kecintaan kaum musyrikin.

[5] Al Mahabbatu ath Thobi’iyah/cinta yang sejalan dengan tabi’at. Cinta ini bentuknya berupa kecenderungan seseorang terhadap perkara yang sesuai dengan tabi’atnya seperti seseorang yang haus mencintai air, seseorang yang lapar mencintai makanan, seseorang yang mencintai tidur ketika mengantuk, seseorang suami dan ayah mencintai istri dan anak dan seterusnya. Kecintaan jenis ini tidaklah tercela selama kecintaan tersebut tidak melalaikan dari mengingat Allah (ibadah) dan menghambat kesibukan hamba dalam mencintai Allah. Semisal seorang yang karena cintanya kepada anaknya menyebabkan ia lalai dari sholat jama’ah karena bekerja untuk memberi nafkah anaknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi”. (QS. Al Munafiqun [63] : 9).[9]

Jika demikian celaan Allah pada hal-hal yang mubah maka bagaimanakah celaan Allah terhadap kecintaan seseorang terhadap perkara yang haram semisal seorang pemuda yang mencintai pacarnya[10] apalagi jika kecintaan ini mengahalanginya dari ibadah kepada Allah, semisal melalaikan sholat jama’ah. Maka tentulah celaan Allah untuk orang yang demikian bertumpuk-tumpuk banyaknya.

[2 Perkara yang Dicintai][11]

Perkara yang dicintai terdiri dari dua hal :

[1] Perkara yang dicintai karena dirinya sendiri.

[2] Perkara yang dicintai karena yang lain.

Tidak ada suatu apapun yang berhak untuk dicintai karena dirinya sendiri kecuali Allah ‘Azza wa Jalla semata. Segala sesuatu yang dicintai selain Allah hanyalah karena mengikuti kecintaan kepada Allah, seperti kecintaan kepada para malaikat, para Nabi, orang-orang yang beriman dan bertaqwa, maka kecintaan tersebut hanya mengikuti kecintaan kepada Allah. Perkara ini merupakan sebuah perkara yang wajib untuk diperhatikan dan dibedakan karena ia adalah pembeda kecintaan yang bermanfaat dan yang tidak bermanfaat/membahayakan. Adapun perkara yang dicintai karena yang lain maka hal ini dapat dibagi menjadi dua :

[1] Perkara yang mendatangkan kenikmatan bagi seseorang yang mencintainya, dengan cara mengetahui dan memperolehnya.

[2] Perkara yang mendatangkan penderitaan bagi seseorang yang mencintainya tetapi ia tetap bertahan menanggungnya karena hal itu mengantarkan kepada perkara yang dicintainya.

Hal ini sebagaimana meminum obat-obatan dan perang. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”. (QS. Al Baqoroh [2] : 216).

[Makna Takut]

Ibnu Qudamah rohimahullah mengatakan, “Rasa takut merupakan sebuah ungkapan dari rasa sedihnya hati disebabkan hal-hal yang dibenci yang akan terjadi pada masa yang akan datang, rasa ini berbanding lurus dengan sebab-sebabnya kuat dan akan melemah jika sebabnya melemah pula”[12]. Terdapat tiga jenis rasa takut,

[1] Takut karena tabi’at, takut jenis ini semisal seseorang takut binatang buas, api, tenggelam dan lain sebagainya. Takut jenis ini tidaklah menyebabkan pemiliknya tercela. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Nabi Musa alaihis salam,

فَأَصْبَحَ فِي الْمَدِينَةِ خَائِفًا

“Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut (akan apa yang akan menimpanya disebabkan telah membunuh[13])”.(QS. Al Qoshosh [28] : 18).

Jika takut jenis ini menjadi sebab seseorang meninggalkan sesuatu yang hukumnya wajib atau melakukan perbuatan yang hukumnya haram maka takut jenis ini menjadi takut yang hukumnya haram.

[2] Takut dalam rangka ibadah, misalnya seseorang takut kepada seseorang yang rasa takut tersebut benilai ibadah kepadanya. Perasaan takut jenis ini hanya boleh kepada Allah semata. Barangsiapa yang menyekutukan Allah dalam jenis ketakutan yang semisal ini maka ia telah berbuat kesyirikan besar.

[3] Takut Sirr, yaitu perasaan takut yang tersembunyi. Misalnya seseorang takut kepada penghuni kubur, seorang yang katanya wali Allah padahal orang tersebut jauh tempatnya sehingga tidak dapat memberikan pengaruh apa-apa baginya. Takut yang semisal ini digolongkan para ulama sebagai salah satu bentuk syirik[14].

[Takut yang Bernilai Lebih adalah Takut yang Didasari Ilmu]

Takut yang bernilai lebih adalah takut yang didasari ilmu, manusia yang paling takut kepada Allah adalah manusia yang paling mempunyai ilmu/kenal dengan Robbnya. Oleh karena itulah Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam mengatakan,

فَوَاللَّهِ إِنِّى أَعْلَمُهُمْ بِاللَّهِ ، وَأَشَدُّهُمْ لَهُ خَشْيَةً

“Aku adalah orang yang paling mengetahui/kenal dengan Allah adan akulah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian (ummat beliau)[15]”.

Demikian juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang berilmu/ulama’ dari hamba Allah yang takut kepadaNya ”.(QS. Fathir [35] : 28).

Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam adalah ulama’nya para ulama. Sehingga beliau adalah orang yang paling takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

[Takut yang Menyebabkan Meninggalkan Amal adalah Takut yang Tercela]

Takut kepada Allah dapat menjadi sebuah hal yang terpuji dan pada kedaan yang lain dapat saja tercela. Jika rasa takut tersebut melahirkan berpalingnya diri pemiliknya dari maksiat dalam artian rasa takut tersebut membawa pemiliknya untuk melakukan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan perbuatan-perbuatan yang haram maka rasa takut yang demikian merupakan rasa takut yang terpuji. Namun jika rasa takut tersebut menggiring pemiliknya kepada rasa putus asa dari rahmat Allah, patah semangat dan semakin terjerumus dalam kemaksiatan karena putus asa (dan meninggalkan amal ibadah) maka takut yang demikian adalah takut yang tidak terpuji[16].

[Makna Rasa Harap/Roja’]

Ibnu Qudamah rohimahullah mengatakan, “Rasa tenang dalam penantian terhadap suatu perkara yang dicintai, namun hal ini akan terwujud dengan disertai adanya sebab yang mewujudkannya. Adapun jika tanpa adanya sebab maka hal ini bukanlah rasa harap akan tetapi sekedar angan-angan”. Adapun untuk perkara-perkara yang secara indrawi telah bisa hampir dipastikan terjadinya semisal harapan akan terbitnya matahari maka hal seperti ini bukanlah termasuk harapan/roja’ dalam bahasa arab[17]. Harapan mengandung dua unsur yaitu adanya perendahan diri (serendah-rendahnya) dan ketundukan (sepasrah-pasrahnya) kepada yang diharapkan. Maka harapan yang demikian hanya boleh diberikan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, sehingga barangsiapa yang menyekutukan Allah pada harapan yang semisal ini maka ia telah terjatuh dalam kemusyrikan[18].

[Rasa Harap yang Terpuji dan Tercela]

Ketahuilah bahwa rasa harap terdiri dari dua jenis,

[1] Rasa harap yang tepuji, semisal rasa harap terhadap pahala dari Allah ketika seseorang yang melaksanakan keta’atan kepada Allah di atas ilmu/cahaya Allah. Demikian juga rasa harap akan diterimanya taubat yang ada pada orang yang bertaubat dari perbuatan dosa.

[2] Rasa harap yang tercela, semisal rasa harap akan diterimanya taubat dari sebuah dosa seseorang yang senantiasa melakukan dosa tersebut.

Maka rasa harap yang demikian bukanlah rasa harap melainkan sebuah ketertipuan, angan-angan kosong dan rasa harap yang palsu[19]. Ma’ruf Al Karkhiy rohimahullah mengatakan, “Rasa harapmu kepada pihak yang tidak kau ta’ati adalan sebuah kebodohan dan kehinaan, oleh karena itulah Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَةَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang  beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS. Al Baqoroh [2] : 218).

Maksudnya bahwa merekalah yaitu orang yang beriman, berhijrah dan berjihad di jalan Allah (orang-orang yang beramal keta’atan kepada Allah)  yang berhak memiliki rasa harap”[20]. Sebahagian orang keliru dalam menafsirkan sebuah hadits qudsi,

يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Seseungguhnya Aku bersesuaian dengan persangkaan hambaku”[21].

Dalam riwayat yang lain,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى فَلْيَظُنَّ بِى مَا شَاءَ

“Seseungguhnya Aku bersesuaian dengan persangkaan hambaku maka hendaklah ia berprasangka kepadaKu sebagaimana yang ia mau”[22].

Mereka menafsirkannya dengan berprasangka baik kepada Allah bahwa Allah akan mengampuni dosa mereka padahal mereka tetap dalam kemaksiatannya. Maka penafsirang yang demikian adalah penafsiran yang keliru sebagaimana lanjutan teks hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim di atas,

وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

“Dan Aku akan bersamanya jika ia mengingatKu, jika dirinya mengingatKu maka Aku akan mengingatnya, jika ia mengingatku dalam keadaan sakit maka Aku akan mengingatnya dengan lebih baik pada saat ia dalam keadaan sakit, jika ia mendekatkan dirinya (dengan keta’atan) kepadaKu sejauh sejengkal maka Akan mendekatkan diriKu padanya sehasta, jika ia mendekatkan dirinya (dengan keta’atan) kepadaKu sehasta maka Akan mendekatkan diriKu padanya sedepa, jika ia mendatangiKu dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari”[23].

Maka jelaslah yang dimaksud dengan bersesuain dengan persangkaan hamba-hambaKu dalam hadits di atas adalah persangkaan akan adanya pahala dari Allah pada orang-orang yang beramal keta’atan kepadaNya. Hal yang tak jauh berbeda juga dikatakan Al Hasan Al Bashriy rohimahullah,

إِنَّ المُؤْمِنَ أَحْسَنَ الظَّنَ بِرَبِّهِ فأَحْسَنَ الْعَمَلَ وَإِنَّ الْفَاجِرَ أَسَاءَ الظَّنَّ بِرَبِّهِ فَأَسَاءَ الْعَمَلَ

“Sesunguhnya mukmin yang berbaik sangka kepada Robbnya adalah orang yang membaguskan amal keta’atannya. Sesungguhnya orang yang fajir adalah orang yang berburuk sangka kepada Robbnya maka ia akan beramal keburukan”[24].

[Penutup]

Sebagai penutup kami nukilkan perkataan Syaikhul Islam Ahmad bin Abdul Halim rohimahullah tentang masalah ini, “Ketahuilah bahwa sesungguhnya yang mengerakkan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla ada 3 hal yaitu rasa cinta, rasa takut dan rasa harap. Yang paling kuat pengaruhnya adalah rasa cinta, karena ia adalah maksud yang dicari di dunia dan akhirat, adapun rasa takut maka ia akan hilang di akhirat sebagaimana firman Allah Subahanahu wa Ta’ala,

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ

Ketahuilah, sesungguhnya wali-wali Allah (orang-orang yang beriman dan bertaqwa) itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS. Yunus [10] : 62).

Rasa takut melahirkan adanya ketercegahan dari keluar dari keta’atan di jalan Allah sedangkan rasa harap adalah sesuatu yang menuntun kepada keta’atan di jalan Allah. Ketiga hal ini merupakan landasan yang agung, setiap hamba wajib untuk memperhatikannya karena tidaklah akan terwujud ubudiyah/penghambaan diri (kepada Allah) kecuali dengan ketiganya”[25]. Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi kita sehingga amal ibadah kita lebih berkualitas di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. [aditya budiman]


[1] Hal. 16 terbitan Darul Kutub Ilmiyah, Beirut, Lebanon.

[2] Lihat Ad Daa’u wad Dawaa’ oleh Ibnul Qoyyim rohimahullah dengan tahqiq oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah hal. 260 dan 267 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA dengan peringkasan.

[3] Lihat Mawaridul Aman Al Muntaqo min Ighotsatil Lahfan oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah hal. 325 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[4] Idem hal. 326 dengan perubahan redaksi kalimat.

[5] Idem hal. 328 dengan perubahan redaksi kalimat.

[6] Lihat At Tanbihatul Mukhtashoroh oleh Syaikh Ibrohim bin Syaikh Sholeh bin Ahmad Al Khuroisyi hal. 37, terbitan Dar Shomi’i, Riyadh.

[7] Lihat Ad Daa’u wad Dawaa’ hal. 268 dengan ringkasan dan perubahan redaksi.

[8] Sebagaimana firman Allah dalam surat Al Baqoroh ayat 165 di atas.

[9] Lihat Ad Daa’u wad Dawaa’ hal. 271 dengan ringkasan dan perubahan redaksi.

[10] Dan telah jelas dalil yang menunjukkan haramnya pacaran sebelum nikah dalam Al Qur’an pada surat Al Isro’ ayat 32.

[11] [11] Lihat Ad Daa’u wad Dawaa’ hal. 275-276 dengan ringkasan.

[12] Mukhtashor Minhajul Qoshidin oleh Ibnu Qudamah Al Maqdisiy dengan tahqiq Zuhair Asy Syawis hal. 347, terbitan Al Maktab Al Islamiy, Beirut, Lebanon secara ringkas.

[13] Lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilaini Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi dengan ta’liq dari Syaikh Shofiyurrohman Al Mubarokfuri hafidzahullah hal. 398 Terbitan Darus Salam, Riyadh, KSA

[14] Lihat Syarh Tsalatsatul Ushul oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin hal. 57, terbitan Dar Tsuroya, Riyadh, KSA.

[15] HR. Bukhori no. 7301, Muslim no. 2356.

[16] Lihat Syarh Tsalatsatul Ushul hal. 57.

[17] Lihat Mukhtashor Minhajul Qoshidin hal. 368 secara ringkas.

[18] Lihat Hushulul Ma’mul Syarh Tsatatsatul Ushul oleh Syaikh Abdullah bin Sholeh Al Fauzan hafidzahullah hal. 81, terbitan Maktabah Ar Rusyd, Riyadh, KSA.

[19] Idem hal. 82.

[20] Lihat Mukhtashor Minhajul Qoshidin hal. 368 secara ringkas dan Ad Daa’u wad Dawaa’ hal. 271

[21] HR. Bukhori no. 7405, Muslim no. 2675.

[22] HR. Ibnu Hibban no. 633, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam takhrij beliau untuk kitab ini hal. 402/II, terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut, Lebanon.

[23] HR. Bukhori no. 7405, Muslim no. 2675.

[24] Atsar ini dikatakan Syaikh Ali bin Hasan Al Halabiy dikeluarkan oleh Al Imam Ahmad dalam kitab Az Zuhd hal. 348. Lihat tahqiq beliau untuk kitab Ad Daa’u wad Dawaa’ hal. 38.

[25] Lihat Majmu’ Fatawa oleh Ahmad bin Abdul Halim hal. 95/I, Syamilah.

Tulisan Terkait

5 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. Royyan
    Feb 27, 2012 @ 00:34:58

    Bismillaah
    akh, ana izin utk jadikan judul artikel ini sbg tema dauroh boleh?

    Reply

  2. gusti
    Jul 23, 2012 @ 19:53:38

    Assalaamu ‘alaykum akh, ane izin share ya, buat di FB boleh ga????
    Klo bleh terima kasih, tapi klo ga bleh juga ga apa2.

    Reply

    • Aditya Budiman
      Jul 24, 2012 @ 01:16:04

      silakan. jazakallah telah membantu menyebarkan dakwah ini.

      Reply

Leave a Reply