Cara Terbebas Dari Ghibah

9 Mar

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Cara Terbebas Dari Ghibah

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Ghibah merupakan dosa besar yang sulit untuk dihindari seorang muslim. Ketika anda menjadi seorang pedagang maka pedagang lain akan sangat sulit lepas dari ghibahan lisan anda. Ketika anda bekerja sebagai seorang pegawai maka pegawai lain akan sangat susah luput dari ghibahan anda. Ketika anda menjadi seorang ustadz maka ustadz lainpun sukar bebas dari ghibahan anda. Ghibah inilah yang dikatakan Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits yang masyhur di telinga kita dengan berbagai lafazhnya,

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ الله ، قَالَ : كُنَّا مَعَ رَسُولِ الله صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم فِي مَسِيرٍ ، فَأَتَى عَلَى قَبْرَيْنِ يُعَذَّبُ صَاحِبَاهُمَا ، فَقَالَ : مَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ يَغْتَابُ النَّاسَ

Dari Jabin bin ‘Abdullah Rodhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan, ‘Ketika kami dalam sebuah perjalanan bersama Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam, beliau melalui dua kuburan yang penghuninya sedang mendapatkan adzab kubur. Maka beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam mengatakan, “Mereka berdua tidaklah diadzab karena perkara yang besar. Penghuni yang pertama diadzab karena gemar mengghibahi orang lain……”[1].

Para ulama berbeda pendapat tentang makna sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam (مَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيرٍ) ‘mereka tidaklah di adzab karena sebuah perkara yang besar’ sebagaimana yang dinukil An Nawawiy Asy Syafi’i rohimahullah,

Pendapat pertama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dengan (مَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيرٍ) “mereka tidaklah di adzab karena sebuah perkara yang besar” adalah dua perkara tersebut bukanlah merupakan perkara yang bernilai dosa besar bagi keduanya.

Pendapat kedua mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dengan (مَا يُعَذَّبَانِ فِى كَبِيرٍ) “mereka tidaklah di adzab karena sebuah perkara yang besar” adalah dua perkara tersebut (sebenarnya) bukanlah merupakan perkara yang berat untuk ditinggalkan/dijauhi.

Pendapat ketiga dan ini merupakan pendapat Qodhi ‘Iyadh Rohimahullah, beliau mengatakan bahwa kedua hal tersebut bukan merupakan dosa besar yang paling besar”[2].

Jika kita lihat pendapat kedua di atas, maka kita mungkin akan tercengang, mengapa jika perkara tersebut bukanlah perkara yang berat untuk ditinggalkan namun mengapa jarang sekali orang yang selamat dari ghibah ?

Maka diantara cara yang sebenarnya juga mudah adalah apa yang disampaikan Ibnul Qoyyim Rohimahullah,

Cara Terbebas Dari Ghibah 1

“(Keutamaan dzikir yang –pen.) Kedua puluh lima, sesungguhnya dzikir merupakan sebab tersibukkannya lisan dari ghibah, namimah, dusta, perkataan kotor/porno dan perkataan yang bathil. Karena sesungguhnya seorang hamba tidak mungkin tidak, pasti berbicara. Jika tidak berbicara dalam bentuk berdzikir keada Allah Ta’ala, mengingat perintah-perintahnya maka dia akan berbicara dengan hal-hal yang haram atau minimal sebagiannya. Sehingga tidak ada jalan terbebas, selamat dari perkara tersebut melainkan dengan berdzikir kepada Allah Ta’ala[3].

Beliau Rohimahullah melanjutkan,

Cara Terbebas Dari Ghibah 2

“Realita dan kenyatan merupakan dua hal yang terlihat menunjukkan hal itu. Barangsiapa yang membiasakan lisannya berdzikir kepada Allah maka lisannya akan terjaga dari perkataan bathil dan sia-sia. Barang siapa yang lidahnya basah dengan berdzikir kepada Allah Ta’ala maka lisannya akan kering dari seluruh perkataan bathil dan kotor. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah”[4].

Mudah-mudahan kami dan para pembaca termasuk orang-orang yang senantiasa berdzikir kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala.

 

Selesai Subuh, 12 Jumadil Ulaa 1436 H, 3 Maret 2015 M

Bersama Kedua Buah Hati Syifa dan Hudzaifah.

[1] HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 735. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Al Albani Rohimahumallah.

[2] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi Rohimahullah hal. 192/III cetakan Darul Ma’rifah, Beirut dengan tahqiq dari Syaikh Kholil Ma’mun Syihaa.

[3] Lihat Shohih Wabilush Shoyyib oleh Syaikh Salim Al Hilaliy Hafizhahullah hal. 85-86 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[4] Idem hal. 86.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply