Bukti Cintamu Kepada Saudaramu

16 Dec

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bukti Cintamu Kepada Saudaramu

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Kita selaku muslim dan seorang yang mukmin Insya Allah sering mengklaim bahwa kita mencintai muslim lainnya. Namun tentu saja cinta itu bukti pembuktian.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Sekedar klaim itu mudah. Namun ucapan itu harus ada buktinya. Sedang orang yang mengklaim sesuatu harus mendatangkan bukti”[1].

Demikian pulalah ucapan atau perasaan cinta kita kepada sesama muslim lainnya membutuhkan bukti nyata. Oleh sebab itulah pada kesempatan kali ini kita akan mencoba menggugah hati kita, agar cinta kita tidak pudar dan lekang dimakan waktu dan tergerus badai fitnah dunia.

Hadits Pertama :

Dari shahabat Abu Musa Al Asy’ari Rodhiyallahu ‘anhu, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda,

المُؤْمِنُ للْمُؤْمِنِ كَالبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضَاً وشبَّكَ بَيْنَ أصَابِعِهِ

“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya itu layaknya sebuah bangunan, saling menguatkan sebagian atas sebagian lainnya”. Kemudian beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menyimpulkan jemarinya[2].

Imam Bukhori Rohimahullah meletakkan hadits ini dalam berbagai bab. Beliau melatakkannya dalam (نصر المظلوم باب) Bab Menolong Orang-orang yang Dizholimi dan Bab (تعاون المؤمنين بعضهم بعضا باب) Sebagian Mukmin Menolong Mukmin Lainnya. Artinya beliau hendak memberitahukan kepada kita kalaulah kita benar-benar mencintai saudara kita sesama muslim dan mukmin maka tolonglah dia ketika dizholimi dan jadilah kalian saling tolong menolong sesama muslim dan mukmin.

Sedangkan Imam Nawawi Rohimahullah memberi judul (باب تَرَاحُمِ الْمُؤْمِنِينَ وَتَعَاطُفِهِمْ وَتَعَاضُدِهِمْ) ‘Bab Saling Kasih Sayang dan Bersikap Lembut Sesama Mukmin’. Seolah Imam Nawawi Rohimahullah juga ingin menyampaikan sebagaimana apa yang disampaikan Imam Bukhori Rohimahullah.

Ibnu Bathol Rohimahullah mengatakan,

قال الطبرى : فالأخ فى الله كالذى وصف به رسول الله المؤمن للمؤمن وأن كل واحد منهما لصاحبه بمنزلة الجسد الواحد ؛ لأن ماسر أحدهما سر الآخر وماسء أحدهما ساء الآخر ، وأن كل واحد منهما عون لصاحبه فى أمر الدنيا والآخرة كالبنيان يشد بعضه بعضًا

Ath Thobari mengatakan, “Saudara karena Allah itu seperti apa yang disifatkan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tentang seorang mukmin terhadap mukmin lainnya. Sesungguhnya setiap mereka dengan saudaranya sesama mukmin selayaknya bagai sebuah tubuh/jasad yang satu. Sesuatu yang disenangi salah satunya juga akan menyenang bagi yang lainnya. Demikian pula sebaliknya sesuatu yang tidak disukai salah satunya akan tidak disukai yang lainnya. Sesungguhnya salah satu dari keduanya merupakan penolong bagi saudaranya baik yang berhubungan dengan dunia dan akhirat layaknya bangunan yang saling menguatkan satu dengan yang lainnya”[3].

Intinya :

Mari saling menguatkan antara sesama mukmin satu dengan yang lainnya dalam urusan dunia terlebih lagi dalam urusan akhirat.

 

Hadits Kedua :

Merupakan potongan dari hadits yang diriwayatkan dari shahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

“Dan Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya”[4].

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

“Maksudnya sesungguhnya anda, jika anda menolong saudaramu maka Allah akan menolongmu sebagaimana engkau menolong saudaramu”[5].

 Pertanyaannya :

Inginkah anda ditolong Allah ‘Azza wa Jalla yang Dia adalah sebaik-baik penolong semua urusan anda ?!!!!

 

Hadits Ketiga :

Merupakan hadits yang diriwayatkan melalui shahabat Anas bin Malik Rodhiyallahu ‘anhu, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا ، أَوْ مَظْلُومًا قَالُوا : يَا رَسُولَ اللهِ ، هَذَا نَصْرُهُ مَظْلُومًا فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا ؟ قَالَ : تَمْنَعُهُ مِنَ الظُّلْمِ. (تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ( فَإِنَّ ذلِكَ نَصرُهُ

“Tolonglah saudaramu ketika dia zholim atau dizholimi”. Para shahabat bertanya, ‘Wahai Rosulullah, kami faham menolong yang dizholimi namun bagaimana menolong yang menzholimi ?’ Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Engkau mencegahnya dari kezholiman. (dalam riwayat lain “Pegang, ambil kedua tangannya agar tidak berbuat zholim”) itulah bentuk pertolongan kepadanya”[6].

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,

“Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ) merupakan kinayah/majas dari tahan dia dari perbuatan zholim dengan perbuatan walaupun anda tidak menegahnya secara lisan. Demikian pula redaksi ini mengandung penggambaran dari arah atas menahan/mencegahnya, ini merupakan isyarat terhadap menahan tangannya dari atas dan dengan  kekuatan[7].

Faidahnya :

Jika anda tidak mampu menolong saudara anda sesama muslim dengan materi maka jangan berhenti menolongnya agar dia tidak berbuat zholim atau dizholimi orang lain. Sebab sesungguhnya jika anda mampu mencegahnya dari berbuat kezholiman berarti anda menjauhkannya dari api neraka. Inilah sebaik-baik pertolongan kepadanya.

 

Hadits Keempat :

Juga merupakan hadits dari periwayatan Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu, Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

أَعْجَزُ النَّاسِ مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ

“Manusia yang paling lemah adalah orang yang lemah dari berdo’a”[8].

Syaikh Husain Al ‘Uwaisyah Hafizhahullah mengatakan,

“Yaitu manusia yang paling lemah pemahamannya, pemberiannya, usahanya buta ‘penglihatan’ dan pemahamannya. Disebutkan dalam An Nihayah : Yang dimaksud dengan lemah adalah menginggalkan hal yang wajib dikerjakan sebab menunda-nunda waktu. Hal ini mencakup urusan dunia dan akhirat”.

“Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (مَنْ عَجَزَ عَنِ الدُّعَاءِ) disebutkan dalam Al Faidh (556/I) yaitu meminta dari Allah Ta’ala terutama di kala sedang sangat susah…..”[9].

Kaitannya dengan peristiwa akhir-akhir ini :

Ketika anda mampu membantu saudara anda di Pidie Jaya, Rohingya, Suriah, Palestina yang sedang ditimpa bala bencana, dibombardir kaum kafirin, maka tolonglah dengan apa yang bisa anda bantu semaksimal mungkin. Jika anda memiliki harta maka bantulah mereka dengan harta. Jika anda memiliki waktu dan tenaga bantulah mereka dengan waktu dan tenaga anda. Jika anda tidak punya waktu dan tenaga maka selipkanlah do’a untuk mereka kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala di kala anda berdo’a. Terlebih lagi di waktu mustajabnya do’a. Semisal di penghujung hari Jum’at ini.

Di Kala Senyap, 16 Robi’ul Awwal 1438 H | 16 Desember 2016 M

 

Aditya Budiman bin Usman

[1] Lihat Tafsir Surat Ali ‘Imron hal. 189/I terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh.

[2] HR. Bukhori no. 481, 2446 dan 6026, Muslim no. 65, 2585.

[3] Lihat Syarh Shohih Bukhori oleh Ibnu Bathol hal. 237/IX terbitan Maktabah Ar Rusyd, KSA.

[4] HR. Bukhori no. 481, 2446 dan 6026, Muslim no. 65, 2585.

[5] Lihat Syarh Arba’in An Nawawiyah hal. 386 terbitan Muasasah Risalah.

[6] HR. Bukhori no. 2444, 6952.

[7] Lihat Fathul Bari hal. 263/VI terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh, KSA.

[8] HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 1042. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[9] Lihat Syarh Shohih Adabul Mufrod hal. 171/III terbitan Al Maktabah Al Islamiyah, ‘Amman, Yordania.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply