Bosan Ikut Pengajian Karena Tidak Paham Yang Dibicarakan

22 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bosan Ikut Pengajian Karena Tidak Paham Yang Dibicarakan

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

Tak ragu lagi, banyak dari ummat Islam di negeri kita ini –terutama di kota besar- telah paham pentingnya menuntut ilmu agama dan keutamaannya. Namun tak jarang pula kita temui orang yang sudah pernah ikut pengajian namun karena tidak paham apa yang disampaikan atau istilah yang digunakan kemudian enggan datang kembali. Inilah sebuah alasan klasik yang sering menyebabkan lemahnya semangat seseorang dalam menuntut ilmu agama. Bahkan boleh jadi ini adalah bentuk tipu daya syaithon agar kita terhindar dari jalan kebaikan yang besar.

Oleh karena itulah, pada kesempatan kali ini kita akan kutipkan perkataan ulama untuk orang yang demikian keadaanya. Apakah sikapnya tidak datang ke majelis ilmu lagi adalah sikap yang bisa dibenarkan atau tidak.

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad As Sadhan hafidzahullah mengatakan[1],

Bosan1“Boleh jadi ada orang yang mengatakan, ‘Apakah aku (harus/tetap –ed) menghadiri pengajian seorang ustadz yang aku tidak dapat memahami apa yang disampaikan (boleh jadi istilah yang digunakan –ed.) kecuali hanya secuil saja ?’ Maka jawabannya adalah anda tetap harus menghadirinya. Tujuan dari menghadiri majelis ilmu bukan hanya dalam rangka mendapatkan faidah ilmiyah bahkan terdapat faidah lain dalam menghadiri majelis ilmu yaitu melihat bagaimana akhlak orang yang berilmu dan meneladaninya. Sungguh Imam As Sam’aniy Rohimahullah dan yang lainnya telah menyebutkan bahwa sesungguhnya majelis ilmu yang diampu oleh Imam Ahmad bin Hambal dahulu dihadiri oleh 5.000 orang. Namun hanya 500 orang yang benar-benar mencatat atau meriwayatkan hadits yang beliau sampaikan. Selebihnya mengambil faidah dari perilaku, akhlak dan adab Imam Ahmad Rohimahullah”[2].

Kemudian beliau melanjutkan,

Bosan 2

“Abu Bakr Al Muthowwi’iy Rohimahullah mengatakan, ‘Aku dahulu menghadiri majelis ilmu yang diampu oleh Abu Abdullah Ahmad bin Hambal ketika beliau membacakan kitab Al Musnad kepada anaknya, selama 12 tahun. Namun aku tidaklah mencatat riwayat hadits yang beliau sampaikan namun yang aku lakukan hanyalah melihat (untuk diteladani –ed.) bagaimana adab dan akhlaknya’.

Maka demikianlah sesungguhnya tujuan menghadiri majelis ilmu bukanlah semata-mata agar seseorang mendapatkan ilmu dan memahami apa yang disampaikan kepadanya. Namun wajib juga bagi anda untuk mengambil manfaat dari segala aspek. Bahkan manfaat dari orang-orang yang hadir juga sebagai pendengar di mejelis tersebut dari kalangan para penuntut ilmu. Karena betapa banyak sikap, adab dan akhlak penuntut ilmu yang hadir membekas di hati anda”.

Guru kami Ustadz Aris Munandar hafidzahullah mengatakan, “Misalnya anda dapat mengambil manfaat dengan melihat ada penuntut ilmu yang rajin, tekun dan semangat sehingga tertular sikap rajinnya dan semangatnya dalam menuntut ilmu”[3].

Maka marilah lawan tipu daya syaithon yang membisikkan kepada kita agar malas menghadiri majelis ilmu.

Mudah-mudahan bermanfaat.

 

 

 

 

Sigambal, setelah subuh.

18 Rojab 1435 H / 17 Mei 2014 M / Aditya Budiman bin Usman

 

[1] Ma’alim Fi Thoriq Tholabil ‘Ilmi hal. 63 cet. VI.

[2] Lihat Siyar Al ‘Alaam An Nubaala’ hal. 316/XI.

[3] Ketika beliau mengkaji kitab ini pada majelis ke-7.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply