Berusaha Untuk Tidak Meminta-minta, Merasa Cukup dan Sabar

14 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Berusaha Untuk Tidak Meminta-minta, Merasa Cukup dan Sabar

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada  Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Baru saja berlalu dari hadapan kita Bulan Romadhon. Bulan dimana setiap muslim dan muslimah melakukan sebuah ‘pelatihan diniyah’. Para ulama Rohimahullah mengatakan,

“Puasa adalah pusat pembinaan akhlak terbesar, yang didalamnya seorang mukmin berlatih dan merenungkan berbagai perkara. Puasa merupakan jihad melawan kuatnya dorongan hawa nafsu dan gangguan syaithon. Dengannya seorang insan membiasakan diri untuk bersabar terhadap hal-hal yang diharamkan kepadanya serta kesusahan yang mungkin dihadapinya”[1].

Salah satu hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam  yang mengajarkan kepada kita akhlak-akhlak mulia, adalah hadits yang diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’iid Sa’ad bin Maalik bin Sinaan Al Khudriy Rodhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

أَنَّ نَاسًا مِنَ الأَنْصَارِ سَأَلُوا رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَأَعْطَاهُمْ ثُمَّ سَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ حَتَّى إِذَا نَفِدَ مَا عِنْدَهُ قَالَ « مَا يَكُونُ عِنْدِى مِنْ خَيْرٍ فَلَنْ أَدَّخِرَهُ عَنْكُمْ وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ وَمَا أَعْطَى اللَّهُ أَحَدًا مِنْ عَطَاءٍ أَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ ».

‘Sesungguhnya ada sekelompok orang dari kalangan Anshor meminta sesuatu kepada Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Lalu beliaupun memberikannya. Kemudian mereka meminta lagi lalu Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pun memberikannya. Hingga habis apa yang ada pada beliau. Lalu Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Sudah tidak ada lagi yang akan kuberikan. Aku bukanlah bermaksud mengecilkan hati kalian. Barangsiapa yang berusaha ‘iffah maka Allah akan menjadikannya orang yang ‘iffah. Barangsiapa yang berusaha merasa cukup maka Allah akan jadikan dia orang yang merasa cukup. Barangsiapa yang berusaha untuk sabar maka Allah akan jadikan ia menjadi orang yang sabar. Seseorang tidaklah diberikan sebuah nikmat yang lebih agung daripada dianugrahkan kesabaran”.

Diantara kebiasaan mulia Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam adalah jika ada sesorang yang meminta kepadanya pasti diberi, bahkan beliau adalah orang yang memberi tanpa takut akan kefakiran dan tanpa takut akan menjadi faqirnya istri dan keluarga beliau. Karena beliau adalah orang yang paling dermawan. Ketika apa yang akan diberikan sudah tidak ada lagi maka beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam memberitahukan sekelompok orang yang meminta tersebut, bahwa beliau tidaklah bermaksud mengecilkan hati sekelompok orang tersebut, melainkan karena sesuatu yang akan diberikan sudah tidak ada lagi.

Kemudian Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menyapaikan pengajaran yang luar biasa.

1. Pengajaran pertama adalah

وَمَنْ يَسْتَعْفِفْ يُعِفَّهُ اللَّهُ

“Barangsiapa yang berusaha ‘iffah maka Allah akan menjadikannya orang yang ‘iffah”.

Maksudnya adalah barangsiapa yang berusaha menjaga dirinya dari hal yang Allah haramkan. Seorang manusia yang mengikuti semua keinginan hawa nafsunya dalam hal-hal yang haram. Maka apa yang dia lakukan itu akan membawa kehancuran baginya. Semisal orang yang terus menerus memandangi wanita yang bukan mahromnya dan ia terus menerus mengikuti hawa nafsunya tersebut. Sehingga berzinalah matanya, telinganya, tangannya, kakinya hingga akhirnya berzinalah kemaluannya. Wal iyyadzu billah. Hal ini terjadi karena dia mengikuti hawa nafsunya dan tidak berusaha iffah/menjara diri dari yang haram.

2. Pengajaran kedua adalah

وَمَنْ يَسْتَغْنِ يُغْنِهِ اللَّهُ

“Barangsiapa yang berusaha merasa cukup maka Allah akan jadikan dia orang yang merasa cukup”.

Maksudnya barangsiapa yang merasa cukup atas apa yang diberikan Allah pada orang lain maka Allah akan menjadikannya orang yang senantiasa merasa cukup atas apa yang telah Allah ‘Azza wa Jalla berikan kepadanya. Kebalikannya adapun orang yang selalu meminta-minta kepada orang lain sesuatu yang Allah berikan kepada mereka. Maka Allah akan menjadikan hatinya senantiasa faqir/miskin sehingga meminta-minta merupakan kebiasaannya, wal iyyadzu billah.

Yang dimaksud dengan merasa cukup di dalam hadits ini adalah merasa cukupnya hati. Barangsiapa yang Allah jadikan ia termasuk orang-orang yang hatinya merasa cukup maka ia telah menjadi orang yang aziz dan terhindar dari meminta-minta pada orang lain.

3. Pengajaran ketiga adalah

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ

“Barangsiapa yang berusaha untuk sabar maka Allah akan jadikan ia menjadi orang yang sabar”.

Maksudnya barangsiapa yang berusaha untuk sabar maka Allah akan menjadikannya termasuk orang yang sabar atau Allah anugrahkan kepadanya sifat sabar. Apabila anda menahan diri anda dari hal yang Allah haramkan untukmu, sabar dengan apa yang ada pada dirimu semisal kefakiran dan banyaknya kebutuhan. Sedangkan anda tidak terus menerus meminta pada orang lain. Maka sesungguhnya Allah akan menjadikan anda orang yang sabar dan Allah akan menolong anda di atas kesabaran tersebut.

4. Pengajaran keempat adalah

وَمَا أَعْطَى اللَّهُ أَحَدًا مِنْ عَطَاءٍ أَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

“Seseorang tidaklah diberikan sebuah nikmat yang lebih agung daripada dianugrahkan kesabaran”.

Maksudnya tidaklah Allah menganugrahkan kepada seseorang sebuah anungrah semisal rizki dan lainnya yang lebih baik daripa Allah anugrahkan kesabaran kepadanya. Artinya sabar adalah anugrah yang sangat besar bagi seorang hamba. Karena jika ia telah diberikan kesabaran maka ia dapat memikul semua masalah. Jika Allah timpakan musibah kepadanya maka ia akan sabar. Jika syaithon mengganggunya dengan sesuatu yang Allah haramkan maka ia bersabar/menahan diri dari yang Allah haramkan.

 

Ketika Dhuha,

18 Romadhon 1434 H/ 27 Juli 2013 M

 

 

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-



[1] Lihat Al Fiqhu Al Islamiy wa Adillatuhu hal. 566-568 (dalam Shohih Fiqh Sunnah hal. 88/II)

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply