Belajar Ibadah Dari Do’a

25 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Belajar Ibadah Dari Do’a

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Pembaca sekalian –semoga Allah ‘Azza wa Jalla merahmati kami dan anda sekalian-, sesungguhnya Allah Subhana wa Ta’ala memerintahkan kita untuk beribadah hanya kepadanya tanpa mensyarikatkannya dengan suatu apapun dalam bentuk apapun sekecil apapun. Bahkan ibadah merupakan tujuan penciptaan manusia dan jin. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ (56) مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ (57)

“Tidaklah Aku (Allah) ciptakan seluruh jin dan manusia melainkan untuk beribadah hanya kepadaku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan”. (QS. Adz Dzariyat [51] : 56).

Syaikh Sulaiman bin ‘Abdullah Rohimahullah mengatakan,

ومعنى الآية أن الله تعالى أخبر أنه ما خلق الإنس والجن إلا لعبادته فهذا هو الحكمة في خلقهم ولم يرد منهم ما تريده السادة من عبيدها من الإعانة لهم بالرزق والإطعام بل هو الرازق ذو القوة المتين الذي يطعم ولا يطعم

“Makna Ayat di atas sesungguhnya Allah Subhana wa Ta’ala telah mengabarkan kepada kita bahwa Dia tidaklah menciptakan seluruh manusia dan jin melainkan untuk beribadah kepada Nya. Inilah tujuan penciptaan mereka. Dia tidaklah menginginkan apa yang diinginkan majikan dari budakanya berupa pertolongan mereka untuk mendapatkan rizki dan makan. Bahkan Allah adalah Ar Rozzaq Pemberi Rizki dan Dzul Quwwatil Matiin Dzat Yang Memiliki Kekuatan Yang Besar, Dzat yang memberikan makan bukan diberi makan”[1].

Jika hal itu telah kita sadari maka pertanyaan selanjutnya adalah apa yang dimaksud dengan ibadah.

Al Qurthubi Rohimahullah mengatakan,

أصل العبادة التذلل والخضوع وسميت وظائف الشرع على المكلفين عبادات لأنهم يلتزمونها ويفعلونها خاضعين متذللين لله تعالى.

“(Makna) pokok/asal ibadah adakah perendahan diri dan ketundukan. Kewajiban-kewajiban syari’at yang dibebankan pada mukallaf (orang yang terbebani syari’at ; Islam, baligh dan berakal -ed) disebut sebagai ibadah karena ketika mukallaf melaksanakannya sesungguhnya mereka sedang tunduk dan merendahkan diri serendah-rendahnya kepada Allah Subhana wa Ta’ala”[2].

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

العبادة في اللغة من الذلة يقال طريق معبد وغير معبد أي مذلل.

“Ibadah secara bahasa berarti kerendahan/kehinaan. Disebutkan jalan yang (معبد) ‘rata/rendah’ dan (وغير معبد) ‘tidak rata/rendaah’ dengan (مذلل) yaitu rendah/rata”.

وفي الشرع عبارة عما يجمع كمال المحبة والخضوع والخوف وهكذا ذكر غيرهم من العلماء.

“Dalam ungkapan syari’at ibadah adalah ungkapan untuk semua hal yang mengumpulkan/mengandung kesempurnaan kecintaan, kepatuhan, takut. Inilah yang disebutkan sebagian ulama”[3].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah mengatakan,

ibadah1

“Ibadah makna asal/pokoknya adakah penghinaan/perendahan. Dikatakan jalan yang (معبد) jika jalan tersebut rata/rendah dan telah diinjak telapak kaki. Namun ibadah yang diperintahkan adalah ibadah yang terkandung di dalamnya makna perendahan/penghinaan diri dan kecintaan. Maka dalam ibadah tercakup puncak penghinaan/perendahan diri kepada Allah dengan puncak kecintaan kepadanya”[4].

Syaikh ‘Abdul Aziz bin ‘Abdullah Ar Rojihi hafidzahullah mengatakan,

ubudiyah 1

“Maksud beliau (Syaikhul Islam) adalah sesungguhnya manusia ketika menunaikan ibadah dan dia dalam keadaan tunduk kepada Allah karena cinta kepada Nya. Maka ketika dia beribadah kepada Allah sesungguhnya dia sedang tunduk kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena cinta, takut dan berharap kepada Nya. Demikianlah baru menjadi ibadah”[5].

Adapun pengertian ibadah dalam istilah syari’at maka Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan hafidzahullah mengatakan,

وأما معنى العبادة شرعا؛ فقد اختلفت عبارات العلماء في ذلك مع اتفاقهم على المعنى.

“Adapun makna ibadah dalam istilah syari’at maka terdapat beragam ungkapan para ulama tentang hal tersebut. namun merujuk kepada sebuah makna yang disepakati”[6].

فعرفها طائفة منهم بأنها ما أمر به شرعا من غير اطراد عرفي ولا اقتضاء عقلي .

“Sebagian ulama mengungkapkannya bahwa ibadah adalah seluruh yang diperintahkan secara syar’i berupa perkara yang tidak berasal dari kebiasaan dan tidak dapat dilogikan dengan semata-mata akal”[7].

وعرفها بعضهم : بأنها كمال الحب مع كمالالخضوع .

“Sebagian lainnya mengatakan bahwa ibadah adalah kesempurnaan kecintaan bersama dengan kesempurnaan kepatuhan”[8].

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah mengatakan,

ubudiyah 2

“Ibadah adalah sebuah kata yang mencakup makna yang luas yang mencakup setiap yang Allah cintai, ridhoi berupa perkataan, perbuatan secara bathin dan zhohir”[9].

Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halabiy hafidzahullah mengatakan,

ubudiyah 3

“Al Muqriniy mengatakan (dalam Tajrid At Tauhid Al Mufid hal. 82 dengan tahqiqku) mengatakan, ‘Ketahuilah bahwa ibadah memiliki 4 fondasi, yaitu pelaksanaan terhadap hal yang Allah dan rosul Nya cintai dan ridhoi. Mendirikan hal itu dengan hati, lisan dan anggota badan. Maka ubudiyah/penghambaan adalah sebuah kata yang mencakup makna luas terhadap tingkatan yang empat ini. Maka orang yang benar-benar menghambakan diri adalah orang-orang yang benar benar melakukan ke empat hal itu”[10].

Kesimpulannya :

Ibadah adalah seluruh perkataan, perbuatan, baik yang zhohir maupun bathin yang dicintai dan diridhoi Allah Subhana wa Ta’ala. Ibadah akan benar-benar bernilai ibadah apabila dilakukan dengan penuh perendahan/penghinaan diri serendah-rendahnya kepada Allah ‘Azza wa Jalla karena dorongan cinta, takut dan harap.

Ibnul Qoyyim Rohimahullah mengatakan,

فإن تمام العبودية هو بتكميل مقام الذل والانقياد. واكمل الخلق عبودية اكملهم ذلا لله وانقيادا

“Sesungguhnya kesempurnaan penghambaan diri seorang hamba sebanding dengan kesempurnaan kadar perendahan/penghinaan diri dan keta’atan/kepatuhan seorang hamba. Manusia yang paling sempurna penghambaannya adalah yang paling sempurna perendahan/penghinaan diri dan keta’atan/kepatuhan kepada Allah”[11].

Apabila kita telah paham hal di atas, maka pertanyaannya adalah dari mana kita memulainya dalam rangka mulai belajar agar ibadah kita benar-benar berkualitas di sisi Allah ‘Azza wa Jalla.

Ustadz Armen Halim Naro Rohimahullah mengatakan,

‘Doa adalah awal dari ibadah yang benar . Awal dari cara beribadah yang bermutu di sisi Allah’.

Perkataan beliau ini merupakan sebuah perkataan yang amat berharga, bagaimana tidak karena Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ

“Do’a adalah ibadah”[12].

Yahya bin Abu Katsir Rohimahullah mengatakan,

أفضل العبادة كلها الدعاء

“Ibadah yang paling utama seluruhnya adalah do’a”[13].

Syaikh Bakr bin ‘Abdullah Abu Zayd Rohimahullah mengatakan,

ubudiyah 4

“Tidaklah keutamaan yang luhur dan kedudukan yang tinggi ini –Allahu a’lam- melainkan karena pada do’a terdapat berbagai bentuk penghambaan/peribadatan yang tidak terdapat pada selainnya. Ketika berdo’a dituntut adahnya kehadiran hati, penghambaan diri kepada Allah dengan tawajjuh (menghadapkan hati kepada Nya), niat, rasa harap, tawakkal, cinta terhadap apa yang ada di sisi Nya (berupa pahala dan surga) dan takut dari siksa/adzabnya”[14].

قال الطيبي : أتى بضمير الفصل والخبر المعرف باللام ليدل على الحصر وأن العبادة ليست غير الدعاء وقال غيره : المعنى من هو أعظم العبادة فهو كخبر الحج عرفة أي ركنه الأكبر وذلك لدلالته على أن فاعله يقبل بوجهه إلى الله معرضا عما سواه ولأنه مأمور به وفعل المأمور به عبادة وسماه عبادة ليخضع الداعي ويظهر ذلته ومسكنته وافتقاره إذ العبادة ذل وخضوع ومسكنة

Ath Thibiy Rohimahullah mengatakan, ‘Sabda Nabi ini datang dengan menggunakan dhomir fashl dan khobar yang ma’ruf yaitu dengan huruf lam. Hal ini untuk menunjukkan pembatasan. Maknanya tiada ibadah melainkan do’a. sebagian ulama berpendapat makna hadits ini adalah ibadah yang paling agung adalah do’a. sebagaimana hadits Nabi yang lain,

الحج عرفة

“Haji adalah Arofah”.

Maksudnya rukun haji yang terbesar adalah wuquf di Arofah.

Hadits do’a ini menunjukkan bahwa orang yang melakukan ibadah sedang menghadapkan wajahnya kepada Allah dan berpaling dari selainnya, hal itulah yang diperintahkan. Perbuatan yang diperintahkan merupakan ibadah. Disebut sebagai ibadah karena orang yang berdo’a sedang menundukkan dan merendahkan/menghinakan dirinya kepada Allah, menunjukkan kemiskinannya, kefakirannya kepada Nya. Karena ibadah adalah penghinaan/perendahan diri dan kelemahan diri’[15].

Kesimpulannya : Mari bersama-sama kita perbaiki kualitas, kelas dan nilai ibadah kita kepada Allah Subhana wa Ta’ala agar ibadah kita lebih bernilai di sisi Nya. Salah satu cara untuk meraih nilai dan kualitas ibadah yang luar biasa adalah dengan menjadikan diri kita ketika beribadah seperti kita sedang berdo’a dengan suatu kebutuhan besar, di saat yang sangat sulit dengan penuh perendahan, penghinaan diri, ketundukan kepada Allah karena rasa cinta, takut dan harap kepada Nya.

 

Kemudian janganlah pernah lupa berdo’a kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar ibadah kita termasuk ibadah yang baik/sholeh dan diterima Allah Subhana wa Ta’ala. Betapa indah do’a Amirul Mukminin Umar bin Al Khothob Rodhiyallahu ‘anhu,

اللَّهُمَّ اجْعَلْ عَمَلِيْ كُلَّهُ صَالِحًا وَاجْعَلْهُ لَكَ خَالِصًا وَلَا تَجْعَلْ لِأَحَدٍ فِيْهِ شَيْئًا

“Ya Allah jadikanlah amalku seluruhnya menjadi amal yang baik/sholeh/diterima. Jadikanlah ia ikhlas kepadamu. Janganlah jadikan padanya ada sekutu selainmu sekecil apapun”[16].

 

Setelah Subuh,

Akhir Bulan Syawwal 1435 H.

 

[1] Lihat Taisir Azizil Hamid oleh Syaikh Sulaiman bin ‘Abdullah hal. 29 Cet. Maktabah Islamiy, Beirut.

[2] Idem.

[3] Lihat Tafsir Al Qur’an Al Azhim oleh Ibnu Katsir Hal. 134/I cet. Dar Thoyyibah.

[4] Lihat Al ‘Ubudiyah oleh Ibnu Taimiyah dengan tahqiq Syaikh ‘Ali Al Halabiy hal. 25 terbitan Darul Mughni, Riyadh.

[5] Lihat Syarh Al ‘Ubudiyah hal. 17 cet. Darul Fadhilah, Riyadh.

[6] Lihat Al Irsyad hal. 30 terbitan Darul Minhaaj, Riyadh.

[7] Idem.

[8] Idem.

[9] Lihat Al ‘Ubidyah hal. 19.

[10] Idem.

[11] Lihat Miftah Dar As Sa’adah oleh Ibnul Qoyyim dengan tahqiq Syaikh ‘Ali Al Halabiy hal. 267/II terbitan Dar Ibnu ‘Affan Mesir.

[12] HR. Abu Dawud no. 1481, Ibnu Majah no. 3828, Tirmidzi no. 2969. Hadits ini dinyatakan shohih oleh Al Albani Rohimahumullah.

[13] HR. Al Hakim no. 1805 , beliau menilai hadits ini shohih dan disepakati oleh Adz Dzhabiy.

[14] Lihat Tashhih Ad Du’a hal. 17 terbitan Dar Ashimah, Riyadh.

[15] Lihat Faidhul Qodir hal. 721.III nomor hadits 4255, cet. Darul Kutub Ilmiyah, Beirut Lebanon.

[16] HR. Ahmad dalam Az Zuhd hal. 147.

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply