Beberapa Adab Kepada Orang Tua (2)

20 Feb

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Beberapa Adab Kepada Orang Tua (2)

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Melanjutkan adab-adab sebelumnya kepada kedua orang tua. Adab berikutnya adalah tidak mendahului kedua orang tua dalam berbicara.

Seorang shahabat yang mulia anak dari seorang yang mulia ‘Abdullah bin ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma telah memberikan teladan kepada kita.

Syaikh Musthofa Al ‘Adawiy Hafizhahullah mengatakan[1],

“Adapun mendahulukan mereka berbicara maka lihatlah ini Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma. Beliau tidak berbicara disebabkan ada di sekililing beliau para shahabat yang lebih tua darinya. Tidak perlu diragukan lagi bahwa kedua orang tua memiliki hak yang lebih besar dibandingkan seluruh orang yang usianya lebih tua.

Imam Bukhori dan Imam Muslim[2] mengeluarkan sebuah hadits yan diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma. Beliau mengatakan,

“Ketika kami berada di sisi Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam maka di datangkanlah kepada beliau beberapa buah jummar (makanan yang terbuat dari sari pari kurma). Lantas beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berucap,

إِنَّ مِنَ الشَّجَرِ شَجَرَةً مَثَلُهَا كَمَثَلِ الْمُسْلِمِ

“Sesungguhnya ada salah satu pohon dari berbagai macam pepohonan yang permisalannya sebagaimana seorang muslim”.

Aku (Ibnu ‘Umar) ingin menjawab bahwa pohon itu adalah pohon kurma namun karena aku masih sangat muda ketika itu lantas akupun diam saja. Kemudian Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam memberitahukan bahwa pohon itu adalah pohon kurma”.

Sisi pendalilan Syaikh Musthofa Al ‘Adawiy Hafizhahullah menggunakan hadits ini berdalil bahwa termasuk adab seorang anak kepada orang tuanya memberikan mereka kesempatan mereka dahulu berbicara adalah jika Ibnu ‘Umar Rodhiyallahu ‘anhuma saja mengurungkan niatnya untuk menjawab sebuah pertanyaan padahal jawabannya benar disebabkan usianya yang paling beliau diantara orang-orang yang ada bersama Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Maka tentu lebih besar lagi hak kedua orang tua untuk diberikan kesempatan berbicara. Allahu a’lam.

Contoh penerapan adab ini sangat banyak. Misalnya ketika keluarga anda berkumpul dan tengah membicarakan sebuah permasalahan. Maka berikanlah kesempatan kepada orang tua anda dahulu untuk mengajukan pendapatnya. Kemudian orang yang lebih tua usianya dari anda dan seterusnya. Walaupun pendapat mereka terkadang keliru. Maka sanggahlah pendapat tersebut jika mereka telah mengungkapkan pendapatnya. Namun perlu diingat dalam menyanggah pendapat orang yang lebih tua dari anda tentu harus dengan bahasa yang santun pula. Masih banyak contoh lainnya.

 

Bersambung insya Allah

12 Jumadil Awwal 1438 H |  9 Pebruari 2017 M

 

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Lihat Fiqh Ta’amul Ma’al Walidain hal. 43 terbitan Maktabah Makkah, Mesir.

[2] HR. Bukhori no. 72, Muslim no. 2811. Disebutkan dalam salah satu riwayat Muslim, “Dalam hatiku terbersik keinginan untuk menjawab bahwa pohon yang dimaksud Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam itu adalah pohon kurma. Akupun ingin mengatakannya namun ketika itu akulah yang paling muda usianya lantas aku urungkan niatku untuk mengatakannya”.

 

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply