Beberapa Adab Kepada Orang Tua (1)

13 Feb

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Beberapa Adab Kepada Orang Tua (1)

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Dalam banyak kesempatan kita sering kali meneteskan air mata ketika ada orang lain yang membacakan kisah seputar durhaka ataupun bakti kepada kedua orang tua. Bahkan ada sebagian orang yang latah membuat perayaan hari ibu ataupun hari ayah satu hari dalam setahun. Mungkin ini muncul dari sikap kasih sayang seorang anak secara spontanitas. Namun dalam banyak hal tindakan spontanitas tanpa adanya ilmu yang benar malah menghasilkan sesuatu yang kurang baik.

Salah satu bukti nyata kita benar-benar tulus ingin berbuat baik kepada kedua orang tua kita adalah dengan menerapkan berbagai adab-adab Islam dalam bermuamalah bersama orang tua. Inilah yang insya Allah lebih bermanfaat bagi orang tua anda dari pada sepotong kue tart setahun sekali.

Syaikh Musthofa Al ‘Adawiy Hafizhahullah mengatakan,

“ [1] Hendaklah anda tidak memandang tajam kedua orang tua anda dan [2] tidak meninggikan suara anda kepada keduanya. [3] Tidak mendahului mereka dalam berbicara. [4] Tidak duduk sementara mereka berdiri. [5] Tidak mendahulukan diri anda atas mereka ketika makan dan minum.

Semua adab di atas dikuatkan oleh dalil-dalil yang menunjukkan bahwa ini termasuk bentuk menghormati/memuliakan.

Tercantum dalam Shohih Bukhori[1] dari hadits Miswar bin Makhrumah dan Marwan. Kemudian beliau menyebutkan bahwa mereka para shahabat jika berbicara kepada Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam maka mereka akan merendahkan suara di sisi Beliau. Mereka pun tidak memandang tajam beliau dalam rangka memuliakan beliau”[2].

Berikut kami nukilkan teks hadits Miswar Rodhiyallahu ‘anhu tentang kebiasaan para shahabat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

وَإِذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ وَإِذَا تَكَلَّمَ خَفَضُوا أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَهُ وَمَا يُحِدُّونَ إِلَيْهِ النَّظَرَ تَعْظِيمًا لَهُ

“Jika Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berwudhu maka mereka (para shahabat –pen) saling berebut air sisa wudhu beliau. Jika berbicara mereka mereka merendahkan suara mereka di sisi beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Mereka pun tidak memberikan pandangan tajam (sinis -pen) kepada beliau dalam rangka memuliakan beliau”.

Sisi pendalilan Syaikh Musthofa Al ‘Adawiy tentang hal ini –Allahu a’lam- bahwa diantara bentuk memuliakan orang-orang yang memang layak dimuliakan karena tuntutan agama adalah dengan tidak menguatkan, mengeraskan, mengangkat suara dengan tinggi ketika bicara dengan mereka. Demikian pula tidak memandang mereka dengan pandangan yang tajam. Diantara orang yang secara agama kita dituntut untuk memuliakannya adalah kedua orang tua.

Kebenaran adab yang mulia ini dapat kita lihat dalam kehidupan kita sehari-hari. Ketika seorang orang tua sudah udzur dia akan lebih mudah tersinggung, jika anda meninggikan suara anda ketika berbicara. Bahkan hal ini sering membuat mereka menangis dan sedih. Bahkan tak sedikit orang tua yang di dalam hatinya ingin menyebutkan, “Bukan hartamu yang ingin ayah dan ibu harapkan namun yang kami berdua impikan adalah engkau bertutur lembut kepada kami. Jangan bentak kami walaupun engkau telah jadi orang terpandang”.

Ini bukan isapan jempol wahai kawan…. Inilah realitanya. Kalau umur kita panjang insya Allah kita juga akan merasakan apa yang telah kita perbuat kepada orang tua dipraktekkan ulang oleh anak-anak kita kepada kita. Allahu a’lam.

Maka sudah sepantasnya adab yang mulia ini kita terapkan dalam bermuamalah kepada kedua orang tua kita.

 

 

Bersambung insya Allah

10 Jumadil Awwal 1438 H |  7 Pebruari 2017 M

 

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

[1] Nomor 2731 dan 2732.

[2] Lihat Fiqh Ta’amul Ma’al Walidain hal. 43 terbitan Maktabah Makkah, Mesir.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply