Balas Dendammu Karena Hawa Nafsu

17 Aug

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Balas Dendammu Karena Hawa Nafsu

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Pernahkah anda digunjing orang yang tidak tahu duduk permasalahan sebenarnya ? Tentu manusiawi jika anda ingin membela diri. Namun tahukah anda bagaimana cara menyikapinya yang lebih bijak ? Mari simak tuturan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah berikut.

Beliau Rohimahullah mengatakan,

Balas Dendammu Karena Hawa Nafsu 1

Kedelapan, Sesungguhnya tindakan membalas dendam, menuntut balas, pembelaan diri merupakan tindakan karena dorongan nafsu. Karena Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam tidak pernah sama sekali menuntut balas jika pribadi beliau (yang diganggu -pen). Beliau adalah sebaik-baik ciptaan Allah dan orang yang paling mulia di sisi Allah namun beliau tidak pernah menuntut balas atas pribadi beliau (yang diganggu -pen). Padahal mengganggu beliau berarti mengganggu Allah dan termasuk perkara yang berlaku ketentuan ganti rugi. Jiwa beliau adalah jiwa yang paling mulia, paling suci, paling baik, paling tidak mungkin melakukan sikap tercela dan paling layak melakukan akhlak yang indah. Walaupun demikian beliau tidak pernah membalas keburukan atas pribadi beliau. Lantas kok bisa-bisanya salah seorang dari kita menuntut balas karena gangguan atas pribadinya padahal diapun tahu kejelakan dan aib dirinya sendiri. Namun orang yang arif adalah orang yang merasa dirinya tidak pantas untuk menuntut balas atas gangguan orang lain pada dirinya dan  menganggap bahwa dirinya tidak memiliki kedudukan berarti sehingga patut untuk dibela[1].

Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan[2],

Balas Dendammu Karena Hawa Nafsu 2

Maksudnya hendaklah kita melihat sejarah kehidupan Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan Allah Subhana wa Ta’ala pun telah menjadikan beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam sebagai qudwah/panutan untuk para hamba Nya. Sebagaimana firman Nya,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rosulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al Ahzab [33] : 21)

Sesungguhnya jiwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam merupakan jiwa yang paling mulia, paling suci, paling baik dan paling tinggi kedudukannya. Bersamaan dengan itu beliau tidak pernah sama sekali menuntut balas atas dirinya sendiri. Kecuali apabila hal yang diganggu itu adalah kehormatan Allah Ta’ala. Maka beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam adalah orang yang tidak pernah marah sama sekali semata-mata terhadap gangguan atas dirinya pribadi.

Balas Dendammu Karena Hawa Nafsu 3

Diriwayatkan dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha bahwasanya beliau Rodhiyallahu ‘anha pernah berkata,

مَا انْتَقَمَ لِنَفْسِهِ فِي شَيْءٍ يُؤْتَى إِلَيْهِ قَطُّ حَتَّى تُنْتَهَكَ حُرُمَاتُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ

“(Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam) sama sekali tidak pernah marah/menuntut balas atas dirinya sendiri pada hal yang berkaitan dengan pribadinya. Namun jika kehormatan Allah yang dilecehkan maka beliaupun marah/menuntu balas atas hal tersebut karena Allah”[3].

Tidak pernah disebutkan dalam sejarah sama sekali bahwa beliau pernah menuntut balas atau marah atas hal yang berkaitan dengan diri beliau pribadi. Padahal beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berulang kali diganggu dengan gangguan yang luar biasa. Namun demikian tidak pernah dinukil bahwasanya beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah menuntut balas atas gangguan pada dirinya pribadi.

Jadi, termasuk perkara yang membantu anda untuk sabar atas gangguan orang lain adalah melihat kembali sejarah nan harum Nabi kita yang mulia Shollallahu ‘alaihi wa Sallam. Hendaklah anda berusaha sekuat tenaga agar jiwa anda mampu meneladaninya dan bersikap sesuai petunjuk beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam”.

 

Intinya, jika anda diganggu orang lain baik dengan ucapan lisan, cemoohan, tuduhan tidak benar dan lain sebagainya yang berkaitan dengan pribadi anda maka janganlah membalasnya. Sebab faktor pendorong terbesar pada diri anda ketika itu adalah dorongan hawa nafsu dan sering berujung pada sesuatu yang minimal tidak bermanfaat bagi dunia dan akhirat anda. Bahkan dapat berujung dosa berupa kezholiman.

Namun bila yang dicemooh adalah kebenaran ataupun aturan Allah dan Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam maka sangat layak anda mengambil sikap. Tentunya sesuai kedudukan anda masing-masing. Kemudian berusahalah untuk sabar menapaki kebenaran dan mendakwahkannya. Serahkan urusan anda kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

 

 

Sigambal, 8 Dzul Qo’dah 1437 H, 11 Agustus 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Zubir

-Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni dosa kami, orang tua kami, atok kami dan para pendahulu generasi kami-

[1] Al Umur Al Mu’inah ‘ala Ash Shobri ‘ala Adzaa Al Kholq dengan ta’liq Syaikh ‘Abdur Rozzaq hal. 24 Terbitan Dar Al Ilmu Ash Shohih

[2] idem hal. 24-25.

[3] HR. Bukhori no. 6853 dan Muslim no. 2327. Teks ini milik Bukhori.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply