Balas Dendam atau Diampuni Dosa dan Diangkat Derajat ?

25 Dec

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Balas Dendam atau Diampuni Dosa dan Diangkat Derajat ?

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Dalam hidup kita sering dihadapkan dalam berbagai macam pilihan hidup. Setiap pilihan tentu memiliki konsekwensi sendiri. Misalnya, ketika anda memilih menjadi seorang pekerja, pegawai kantor dan yang semisal, berarti anda telah memilih konsweksi uang yang akan anda dapat telah terukur jelas besarannya. Berbeda dengan orang yang memilih jalan untuk mencari nafkahnya dengan menjadi seorang enterpreneur atau wirausaha. Maka hasil yang dia dapatkan boleh jadi jauh lebih besar dibandingkan seorang pekerja ataupun pegawai.

Demikianlah pulalah dalam hal menata hati dan sikap terhadap gangguan orang lain.

 

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (Wafat 728 H) Rohimahullah mengatakan[1].

Ketujuh belas, Sesungguhnya tindak penzholiman yang dia dizholimi dengannya merupakan sebuah sebab untuk penghapus keburukan/dosa ataupun peningkatan derajat. Jika dia membalaskan dendamnya dan tidak bersabar maka kezholiman tersebut tidak menjadi penghapus keburukan/dosa dan tidak pula menjadi peningkat derajatnya”.

 Syaikh Prof. DR. ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah mengatakan[2],

“Maksudnya sesungguhnya kesabaran ini merupakan sebuah sebab yang dapat mendatangkan pengguguran berbagai keburukan/dosa dan peningkatan derajat. Jika seseorang membalaskan dendamnya maka hilangkah pada dirinya sebuah pintu yang agung untuk mendapatkan pengguguran berbagai keburukan/dosa dan peningkatan derajat”.

Diantara dalil yang menunjukkan benarnya apa yang dikatakan Syaikhul Islam Rohimahullah di atas adalah sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

مَا يُصيبُ المُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ ، وَلاَ وَصَبٍ، وَلاَ هَمٍّ ، وَلاَ حَزَنٍ ، وَلاَ أذَىً ، وَلاَ غَمٍّ ، حَتَّى الشَّوكَةُ يُشَاكُهَا إلاَّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَاياهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah berupa rasa lelahnya badan, rasa lapar yang terus menerus atau sakit, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa sekarang, rasa sedih/benci yang berkaitan dengan masa lalu, gangguan orang lain pada dirinya, sesuatu yang membuat hati menjadi sesak sampai-sampai duri yang menusuknya melainkan akan Allah hapuskan dengan sebab hal tersebut kesalahan-kesalahannya[3].

Dan juga hadist Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

وَمَا زادَ اللهُ عَبْداً بعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً

“Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba dengan sebab kemaafannya melainkan kemulian[4].

Allahu a’lam.

Setelah subuh, 21 Robi’ul Awwal 1438 H | 21 Desember 2016,

 

Aditya Budiman bin Usman

[1] Al Umur Al Mu’inah ‘ala Ash Shobri ‘ala Adzaa Al Kholq dengan ta’liq Syaikh ‘Abdur Rozzaq hal. 39 Terbitan Dar Al Ilmu Ash Shohih

[2] Idem.

[3] HR. Bukhori no. 5641, Muslim no. 2573.

[4] HR. Muslim no. 2588.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply