Bahaya Lisan Di Era Modern

15 Jan

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bahaya Lisan Di Era Modern

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman menjelaskan tentang penciptaan diri kita,

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3)لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Demi buah tin dan zaitun. Demi bukit Sinai (bukit dimana Allah berbicara kepada Musa). Dan Demi Negeri yang aman (Mekkah). Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. At Tin [95] : 1-4)

Allah Subhanahu wa Ta’ala bersumpah sebelum menyatakan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla telah menciptakan kita dengan sebaik-baik bentuk. Sebaik-baik anggota badan. Diantara anggota badan yang sudah Allah Ta’ala ciptakan tersebut adalah lisan, mulut, lidah. Tentu ini merupakan nikmat dari Allah ‘Azza wa Jalla yang sangat patut kita syukuri. Dengan lisan kita mampu membaca Al Qur’an. Dengan lisan kita mampu berdzikir mengingat Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan lisan kita mampu menyampaikan Ayat Al Qur’an dan Hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Namun kita hidup di zaman modern. Di zaman dimana arus informasi demikian deras, cepat dan masif. Dalam hitungan detik atau menit kita dapat memperoleh beragam informasi. Kemudahan memperoleh informasi ini juga merupakan nikmat tersendiri dari Allah ‘Azza wa Jalla kepada kita. Namun demikian dalam banyak hal kecepatan informasi tersebut tidak diimbangi dengan kecepatan dan ketepatan kita dalam menyikapinya. Salah sikap, boleh jadi nikmat tersebut berubah menjadi penyesalan di hari qiyamat. Untuk itu pada kesempatan kali ini kita akan menyampaikan beberapa hadits seputar ini.

Hadits tersebut adalah sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan shahabatnya yang mulia Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَوْ لِيَصْمُتْ

“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah lisannya berucap yang baik kalau tidak diam”[1].

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,

Bahaya Lisan Di Era Modern 1

“Maksudnya adalah iman yang sempurna. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam mengkhususkan kata beriman dengan Allah dan hari akhir padanya terdapat isyarat asal penciptaan kita (diciptakan oleh Sang Pencipta) dan tempat kembali (akhirat). Maksudnya barangsiapa yang beriman kepada Allah Dzat Yang Menciptakannya dan beriman bahwasanya suatu hari kelak dia akan dibalas sesuai amalnya maka hendaklah dia melakukan apa yang disebutkan pada lanjutan hadits”[2].

Bahaya Lisan Di Era Modern 2

“Hadits ini merupakan jawami’ kalim (perkataan ringkas namun sarat makna- pen). Karena ucapan kalau tidak kebaikan maka keburukan atau lebih condong kepada salah satunya. Termasuk dalam kategori perkataan yang baik adalah seluruh ucapan yang hukumnya wajib dan dianjurkan. Maka ucapan yang demikian diijinkan untuk diucapkan sesuai ketentuan hukumnya. Termasuk dalam perkataan yang baik ini adalah perkataan yang kebaikannya lebih besar dari keburukannya. Adapun selain kedua jenis ini maka termasuk perkataan yang buruk atau isinya condong pada keburukan. Maka Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam memerintahakn ketika ingin mengucapkan yang demikian untuk diam saja (tidak jadi mengucapkannya -pen)”[3].

Imam Ahmad Rohimahullah meriwayatkan sebuah hadits dalam Musnadnya, bahwa salah seorang shahabat (disebutkan dalam riwayat Thobroni beliau adalah Ibnu Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu) bertanya kepada Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ أَنْ يَسْلَمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِكَ وَيَدِكَ

“Wahai Rosulullah, apakah amalan dalam Islam yang paling utama ? Maka beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Kaum muslimin selamat dari keburukan lisan dan tanganmu”[4].

Diriwayatkan juga dari shahabat ‘Uqbah bin ‘Aamir Rodhiyallahu ‘anhu,

قُلْتُ : يَا رسولَ اللهِ مَا النَّجَاةُ ؟ قَالَ : أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ

‘Aku (‘Uqbah) bertanya, “Wahai Rosulullah apa itu keberhasilan, kesuksesan ?” Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Engkau menjaga lisanmu”[5].

Masih banyak hadits-hadits yang membicarakan masalah lisan dan bahayanya yang intinya kita diperintahkan untuk menjaga lisan kita untuk berkata hanya yang jelas-jelas baik saja atau yang mayoritasnya kebaikan yang jelas. Jika tidak demikian maka lebih baik diam.

Terkait peristiwa yang lagi heboh beberapa hari ini, maka alangkah baiknya jika kita simak firman Allah Subhana wa Ta’ala berikut,

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآَنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلَافًا كَثِيرًا (82) وَإِذَا جَاءَهُمْ أَمْرٌ مِنَ الْأَمْنِ أَوِ الْخَوْفِ أَذَاعُوا بِهِ وَلَوْ رَدُّوهُ إِلَى الرَّسُولِ وَإِلَى أُولِي الْأَمْرِ مِنْهُمْ لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا (83)

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Qur’an ? Kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. Apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Kalaulah mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka. Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaithon, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. (QS. An Nisaa’ [4] : 82-83)

Syaikh ‘Abdur Rohman As Sa’di Rohimahullah mengatakan[6],

Bahaya Lisan Di Era Modern 3

“Inilah pengajaran adab dari Allah Subhana wa Ta’ala untuk para hambanya dari perbuatan yang tidak layak ini. Sesungguhnya seharusnya mereka apabila datang kepada mereka salah satu perkara dari perkara-perkara yang penting, yang berhubungan dengan kemashlahatan publik baik yang berhubungan dengan perkara yang akan menyenangkan kaum mukminin atau yang akan membuat mereka ketakutan, terteror. Pada perkara tersebut terdapat musibah bagi mereka maka hendaklah cross check terlebih dahulu dan jangan terburu-buru menyebarkan berita tesebut. Bahkan hendaklah mereka mengembalikan urusannya kepada aturan Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan pemimpin mereka, para ulama orang-orang yang menginginkan kebaikan. Karana merekalah orang-orang yang kompeten membidangi perkara tersebut dan tahu pertimbangan mashlahat dan mudhorot.

Sehingga apabila mereka menilai dalam menyebarkan berita tersebut terdapat mashlahat dan menggembirakan kaum mukminin dan terlindung dari musuh mereka maka mereka akan lakukan. Namun apabila mereka menilai tidak ada mashlahat pada penyebaran berita tersebut atau ada mashlahat namun keadaan akan bertambah buruk dan lebih banyak keburukannya dari mashlahatnya maka mereka tidak akan menyebarkan berita tersebut.

Oleh sebab itulah Allah Ta’ala melanjutkan firman Nya,

لَعَلِمَهُ الَّذِينَ يَسْتَنْبِطُونَهُ مِنْهُمْ

“Tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka”. (QS. An Nisaa’ [4] : 83)

Maksudnya mereka akan bersikap dengan pertimbangan yang berdasarkan dengan pandangan dan ilmu mereka yang mendalam dan mendapat petunjuk”.

Bahaya Lisan Di Era Modern 4

“Pada ayat ini terdapat kaidah ada yaitu jika muncul suatu perkara (penting) maka hendaklah mengembalikannya dan memberitahukan kepada orang yang ahli terhadap masalah tersebut. Jangan mendahului mereka. Karena yang demikian lebih dekat dengan kebenaran dan lebih berhati-hati dari kesalahpahaman.

Pada ayat yang mulia ini juga terdapat larangan tergesa-gesa dalam menyebarluaskan sebuah permasalahan ketika anda mendengar kabar tentangnya. Kita diperintahkan untuk menelaahnya terlebih dahulu sebelum berkomentar dan membicarakannya. Apakah ada mashlahat sehingga seseorang boleh menyebarkannya atau jika tidak demikian apakah lebih baik untuk tidak menyebarkannya”[7].

Allah Subhana wa Ta’ala mengakhiri firman Nya dalam ayat ini dengan,

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ لَاتَّبَعْتُمُ الشَّيْطَانَ إِلَّا قَلِيلًا

“Kalau bukan karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaithon, kecuali sebahagian kecil saja (di antaramu)”. (QS. An Nisaa’ [4] : 83).

Penutup

Hafsh bin ‘Ashim Rodhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bahwasanya beliau pernah bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ

“Cukuplah seseorang itu dicap berdusta bila dia membicarakan, menyebutkan semua yang dia dengar”[8].

Maka mari mulai sekarang, jaga lisan kita, ucapan kita dari mengucapkan sesuatu yang kita tidak ahli dalam hal tersebut. Mari jaga jari jemari kita untuk tidak membuat status, komentar yang tidak berguna di sosial media kita

Kesimpulannya :

  1. Lisan, ucapan, komentar, status facebook dan yang semisal harus benar-benar kita jaga. Jangan sampai meluncur dari diri kita sesuatu yang menyebabkan urusan akhirat kita kelak berubah jadi panasnya neraka.
  2. Jangan terburu-buru berkomentar tentang suatu perkara ummat, publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak sebelum ada keterangan resmi dari pihak yang berwenang. Allahu a’lam.

 

 

 

Selesai Subuh, 5 Robi’ul Akhir 1437 H, 15 Januari 2016 M

Aditya Budiman bin Usman bin Jubir

[1] HR. Bukhori no. 6018, Muslim no. 47.

[2] Lihat Fathul Bari hal. 566/XIII Terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh.

[3] Idem hal 567/XIII.

[4] HR. Ahmad no. 6487, dan lain-lain. Hadits ini dinilai shohih oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth Rohimahullah.

[5] HR. Tirmidzi no. 2406, dan lain-lain. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[6] Lihat Taisir Karimir Rohman hal. 330/II terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh.

[7] Idem.

[8] HR. Muslim no. 5.

 

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply